Surat itu tiba bukan lewat pesan singkat, melainkan lewat surel resmi, dengan kop asosiasi yang sama persis dengan kop pada sertifikat yang tergantung di dinding kamar Gayatri. Ia membacanya sambil berdiri di dapur, air di ketel mulai berdesis, dan kalimat kedua sudah cukup membuatnya lupa mematikan kompor. Majelis Kehormatan dan Etik memandang perlu memanggil Saudari untuk memberikan klarifikasi. Di bawahnya, satu baris yang dingin seperti kaca: perihal dugaan pelanggaran kode etik dalam penanganan perkara yang kini memasuki tahap peninjauan.
Ia mematikan kompor. Membaca ulang. Bukan kata pelanggaran yang menohok, melainkan kata dugaan — sopan, berjarak, seperti pisau yang dibungkus serbet. Mereka sudah tahu tentang sidang ulang. Tentu saja mereka tahu. Kabar bergerak di lingkaran kecil profesi lebih cepat daripada di ruang mana pun.
Sekretariat asosiasi menempati lantai dua sebuah ruko, di atas kantor notaris yang jendelanya ditempeli stiker kuning. Gayatri pernah ke sana puluhan kali: mengambil kartu anggota, ikut pelatihan penyegaran, menandatangani daftar hadir sambil bercanda dengan resepsionis. Hari itu resepsionisnya menunduk saat ia lewat, menyibukkan diri dengan tumpukan map yang tak perlu disusun ulang.
Ruang rapat lebih kecil dari yang ia ingat. Tiga orang duduk di seberang meja panjang. Ketua majelis, seorang penerjemah senior berkacamata yang dulu pernah memuji ketenangannya di ruang sidang, kini menatapnya dengan wajah yang sudah dilatih untuk tidak menunjukkan apa-apa. Di sebelahnya, seorang pengurus yang Gayatri kenal namanya saja. Dan di ujung, agak menyamping seolah ingin memisahkan diri dari meja itu sekaligus tak bisa, duduk Rani.
Mereka tak berjabat tangan. Ketua majelis mempersilakannya duduk, lalu membacakan dasar pemanggilan dari selembar kertas, pasal demi pasal dari kode etik yang pernah Gayatri hafal untuk ujian sertifikasi. Kewajiban menjaga netralitas. Kewajiban tidak membawa perselisihan internal ke ranah yang dapat mencederai marwah profesi. Kewajiban tidak menempatkan diri sebagai pihak.
"Kami menerima informasi," kata ketua majelis, meletakkan kertasnya, "bahwa Saudari terlibat aktif dalam upaya peninjauan sebuah putusan, dalam perkara yang Saudari sendiri tangani sebagai juru bahasa. Bahwa Saudari berkomunikasi dengan pihak pembela di luar kapasitas resmi Saudari sebagai penerjemah."
"Saya memberikan keterangan," kata Gayatri. Suaranya keluar lebih tenang daripada yang ia rasakan. "Karena saya diminta, dan karena keterangan itu benar."
"Persoalannya bukan benar atau tidak." Pengurus di sebelah kiri akhirnya bicara. "Persoalannya, seorang juru bahasa yang berbalik menilai hasil kerjanya sendiri di forum publik menempatkan setiap kolega dalam posisi tergugat. Bila terjemahan Saudari bisa dipersoalkan, terjemahan kami semua bisa dipersoalkan. Klien tak akan lagi percaya bahwa yang kami sampaikan itu netral."
Gayatri menatap meja. Ada goresan pulpen di permukaan pelitur, entah dari rapat yang mana. Ia mengerti, dengan kejernihan yang membuatnya nyaris tertawa getir, bahwa mereka tidak sepenuhnya salah. Itulah yang paling melelahkan. Ini bukan kawanan yang jahat. Ini orang-orang yang menjaga sesuatu yang rapuh dengan cara satu-satunya yang mereka tahu: menutup barisan, dan menyebut yang keluar barisan sebagai ancaman.
"Saya tidak sedang menilai netralitas siapa pun," katanya perlahan. "Saya menandai satu tempat di mana isyarat ruang dan klasifikator seorang terdakwa Tuli saya render menjadi kalimat lisan yang terdengar seperti pengakuan niat. Itu keliru. Menyembunyikannya bukan menjaga marwah. Itu—"
"Itu penilaian Saudari," potong ketua majelis, tidak kasar, justru itu yang membuatnya menusuk. "Dan penilaian itulah yang menjadi soal. Tugas kita menyampaikan, bukan memutuskan mana yang keliru dan mana yang benar. Itu wewenang majelis hakim, bukan wewenang penerjemah."
Rani tidak mengatakan apa-apa sepanjang itu. Ia duduk dengan tangan terlipat, menatap satu titik di dinding. Sekali, hanya sekali, matanya bertemu mata Gayatri, dan Gayatri melihat di sana sesuatu yang lebih rumit daripada marah — semacam duka yang keras, seorang guru yang menyaksikan muridnya melangkah ke tempat yang ia yakini akan menghancurkannya. Lalu Rani memalingkan pandang, dan diamnya terasa lebih berat daripada seandainya ia ikut menuduh.
"Majelis belum mengambil kesimpulan apa pun," ketua majelis menutup map di hadapannya. "Ini pemeriksaan awal. Saudari akan diberi kesempatan menyampaikan pembelaan tertulis. Namun saya wajib memberi tahu Saudari sekarang, agar Saudari mempertimbangkan langkah-langkah Saudari ke depan dengan penuh kesadaran." Ia berhenti sejenak. "Bila majelis menemukan pelanggaran, sanksi dapat berupa peringatan, pembekuan, hingga pencabutan sertifikasi. Saya harap Saudari memahami bobotnya."
Pencabutan sertifikasi. Kata itu diucapkan dengan nada datar seorang yang membacakan jadwal kereta, dan justru karena itu ia mendarat penuh. Tanpa sertifikat itu, ia bukan siapa-siapa di ruang sidang, di ruang keterangan, di ruang medis tempat tangan-tangan menunggu dijembatani. Bukan sekadar pekerjaan. Selembar kartu itu adalah izin untuk berdiri di antara dua dunia, dan mereka bisa menariknya kembali.
Ia tidak membela diri lebih jauh. Ia menandatangani daftar hadir — tangannya, ia perhatikan dengan heran, tidak gemetar — dan mengucapkan terima kasih dengan sopan yang entah dari mana datangnya. Di ambang pintu, ia hampir menoleh pada Rani. Ia menahannya.
Di tangga ruko itu, di antara bau kopi dari kantor notaris dan deru jalan di bawah, Gayatri berdiri sebentar sambil memegang pegangan besi yang dingin. Ia menunggu rasa panik yang seharusnya datang. Yang datang malah keheningan aneh, semacam kejernihan setelah demam. Mereka bisa mencabut sertifikatnya. Mereka bisa membuatnya bukan siapa-siapa.
Tapi sidang ulang sudah dikabulkan. Damar akan berdiri di ruang itu. Dan tak ada satu pasal pun dalam kode etik yang ia hafal untuk ujian dulu yang mengajarinya cara hidup dengan tahu bahwa ia telah keliru, lalu memilih diam demi selembar kartu.
Ia menuruni tangga. Di trotoar, ponselnya bergetar — sebuah nomor tak dikenal, lalu berhenti, lalu bergetar lagi. Ia membiarkannya berdering sampai habis.