Kabar itu datang lewat pesan singkat, bukan telepon, dan justru karena itu Gayatri membacanya berkali-kali sebelum percaya. Layar ponselnya menyala di meja dapur di antara cangkir kopi yang sudah dingin dan setumpuk berkas penugasan minggu depan. Dari Pram. Hanya satu baris: *Peninjauan dikabulkan. Majelis menerima permohonan. Sidang ulang akan digelar.* Lalu, beberapa detik kemudian, seolah ia lupa menambahkan yang paling berat: *Kita perlu bicara, Mbak. Soal keterangan Mbak.*
Ia meletakkan ponsel telungkup, seakan dengan menutup layar itu ia bisa menutup pula apa yang tertulis di sana. Di luar jendela, sore menua perlahan. Suara anak-anak tetangga bermain sepeda naik-turun dari kejauhan. Dunia berjalan seperti biasa, tak tahu bahwa di dapur ini sebuah pintu baru saja terbuka dan tak bisa lagi ditutup.
Dikabulkan. Kata itu mestinya terdengar seperti kemenangan. Berbulan-bulan ini ia menimbang, menahan, mengaku setengah-setengah kepada Pram, berdiskusi diam-diam dengan Wulan tentang adendum dan keterangan ahli, bergulat pada malam-malam yang menolak tidur. Semua itu menuju satu titik: agar berkas Damar dibuka kembali. Kini berkas itu benar-benar akan dibuka. Dan yang akan berdiri di ruang majelis, menjelaskan bagaimana isyarat ruang dan klasifikator pemuda itu keliru dialihkan menjadi kalimat berniat, adalah dirinya sendiri.
Ia menyeka wajah dengan kedua tangan. Bukan kelegaan yang mengisi dadanya, melainkan sesuatu yang lebih menyerupai jatuh. Seperti anak tangga yang ia kira masih ada, ternyata tidak.
Ponselnya bergetar lagi. Pram menelepon kali ini. Gayatri membiarkannya berdering dua kali, tiga kali, menata napas, baru menjawab.
"Mbak Gayatri." Suara pengacara itu hati-hati, seperti orang berjalan di lantai yang baru dipel. "Mbak sudah baca?"
"Sudah."
"Majelis menilai ada cukup alasan untuk memeriksa ulang proses penerjemahan dalam berkas keterangan. Ini—" Pram berhenti sejenak, memilih kata. "Ini jarang, Mbak. Mereka tidak mudah membuka yang sudah diketuk."
"Aku tahu."
Hening di seberang. Gayatri tahu Pram sedang menunggu, memberinya ruang, cara pengacara itu selama ini menekan tanpa menekan. Ia bisa membayangkan lelaki itu di kantornya yang sempit, di antara map-map cokelat, memutar bolpoin di jari.
"Mbak paham konsekuensinya, kan," kata Pram akhirnya, dan itu bukan pertanyaan. "Kalau Mbak memberi keterangan, Mbak tidak sedang jadi saksi biasa. Mbak akan menerangkan bahwa terjemahan Mbak sendiri—yang jadi dasar dakwaan—bisa dibaca lain. Di depan majelis. Di bawah sumpah."
Kalimat itu tidak membawa apa pun yang belum Gayatri ketahui. Ia sudah menuliskannya sendiri berkali-kali di kepalanya, sudah membalik-baliknya sampai licin. Tapi mendengarnya diucapkan orang lain, dengan suara datar seorang yang paham hukum, membuatnya nyata dengan cara yang berbeda. Ia melawan hasil kerjanya sendiri. Ia akan berdiri dan berkata: yang dulu kucatat sebagai pengakuan, sesungguhnya bukan.
"Aku tidak menariknya kembali karena aku pahlawan, Pram," katanya pelan, lebih untuk dirinya sendiri. "Aku hanya tidak bisa membiarkan sesuatu yang salah berdiri atas namaku."
"Aku tidak pernah bilang Mbak pahlawan." Ada sedikit kehangatan yang lolos dari nada profesional Pram. "Justru itu yang membuat keterangan Mbak akan kuat. Orang yang tidak sedang membela siapa-siapa."
*Kita bukan pembela.* Kalimat Rani muncul begitu saja, tak diundang, seperti selalu. Gayatri memejamkan mata. Mentornya akan menganggap ini sebagai puncak dari segala yang ia takutkan: seorang juru bahasa yang membawa urusan ruang keterangan ke terang majelis, yang meruntuhkan tembok netralitas yang selama ini menjaga marwah mereka semua. Rani belum tahu kabar ini. Sebentar lagi ia akan tahu. Dan ketika ia tahu, sesuatu di antara mereka yang sudah retak akan patah untuk selamanya.
"Ada satu hal lagi," kata Pram. "Kalau sidang ulang berjalan, kita akan minta CDI hadir. Ahli linguistik Tuli juga. Isyarat Damar harus dibaca oleh orang yang memahami ruang secara utuh, bukan cuma leksikal. Mbak akan bekerja berdampingan dengan mereka, bukan menggantikan."
"Bagus," kata Gayatri, dan untuk pertama kali sejak pesan itu masuk, ada yang mengendur sedikit di dadanya. Bukan lega, tapi arah. Damar tidak akan lagi diterjemahkan sendirian oleh satu tangan yang bisa keliru. Pemuda itu akan didengar. Bukan diselamatkan olehnya—didengar. "Damar sudah tahu?"
"Keluarganya sedang diberi tahu. Lewat CDI." Pram diam sebentar. "Dia berhak dengar ini dengan benar, Mbak. Untuk sekali ini."
Setelah telepon ditutup, Gayatri tetap duduk di kursi dapur untuk waktu yang lama. Cahaya di jendela berubah dari kuning menjadi kelabu. Ia tidak menyalakan lampu. Ada berkas penugasan minggu depan di depannya—dua sidang perdata, satu pendampingan medis, semua mengandaikan bahwa ia adalah juru bahasa yang sama dengan kemarin, yang namanya masih bersih di daftar asosiasi, yang sertifikatnya masih tergantung tanpa tanda tanya.
Ia tahu itu tak akan bertahan. Ketika kabar sidang ulang menyebar—dan kabar semacam ini selalu menyebar—asosiasi akan mendengar. Rani akan mendengar. Pesan-pesan akan datang, mungkin dingin, mungkin manis-menekan, semua mengarah pada satu permintaan yang sama: mundur, diam, jaga barisan. Ia sudah bisa merasakan tekanan itu bahkan sebelum tiba, seperti orang yang mencium hujan sebelum langit menghitam.
Gayatri mengambil ponselnya lagi, membuka pesan Pram, dan membacanya sekali lagi. *Sidang ulang akan digelar.* Ia tidak membalas dengan kata-kata besar. Ia hanya mengetik: *Aku siap. Kabari tanggalnya.* Lalu menekan kirim sebelum bagian dari dirinya yang penakut sempat mencegah.
Ia bangkit, menyalakan lampu dapur. Cahaya kuning memenuhi ruangan, biasa saja, seolah tak ada apa-apa yang berubah. Tapi ia tahu, sambil membereskan cangkir kopi yang dingin ke bak cuci, bahwa mulai malam ini ia bukan lagi orang yang menimbang apakah akan bersuara. Ia sudah menyeberang. Yang tersisa hanya menghitung berapa yang harus ia bayar untuk berdiri di seberang sana—dan apakah, ketika saatnya tiba, tangannya cukup tenang untuk mengisyaratkan kebenaran yang dulu ia keliru terjemahkan.