Kedai kopi di pojok ruko itu setiap Kamis malam berubah jadi tempat yang tidak akan dimengerti oleh siapa pun yang menilainya dari suara, sebab di sana suara hampir tidak ada artinya. Yang ada adalah cahaya. Pemiliknya, seorang lelaki Tuli paruh baya yang sudah belajar bahwa pelanggan terbaiknya butuh terang, memasang lampu putih yang merata tanpa bayangan, menata meja-meja agak berjauhan supaya tidak ada tangan yang terhalang, dan tidak pernah memutar musik keras yang sia-sia. Inilah kopi tuli. Dan begitu Gayatri melangkah masuk, tubuhnya otomatis melambat ke ritme yang ia kenal sejak balita, ritme rumah ibunya, ritme bahasa pertamanya.
Ia datang bukan sebagai juru bahasa. Itu aturan tak tertulis yang ia pegang teguh. Di luar ruang kerja, tangannya bukan milik institusi mana pun. Di kopi tuli, ia hanya Gayatri, anak ibu Tuli, yang kebetulan dengar, yang diterima dengan kehangatan biasa-biasa saja, tidak istimewa, tidak dicurigai. Setidaknya itu yang selama ini ia percayai.
Ruangan penuh percakapan yang berkilatan di udara. Sekelompok anak muda tertawa tentang sesuatu yang lucu, tangan mereka cepat dan penuh slang isyarat yang bahkan Gayatri harus berusaha mengikuti karena bahasa itu hidup, berubah, punya lelucon dalam yang tak akan pernah masuk kamus mana pun. Di sudut lain dua lelaki tua berdebat soal pertandingan bola dengan ekspresi yang lebih hidup daripada komentator televisi mana pun. Ini bukan ruang tragedi. Ini bukan tempat orang berkumpul untuk meratapi kemalangan. Ini komunitas yang utuh, dengan politiknya, gosipnya, hierarki diam-diamnya, dan keriangannya sendiri. Gayatri selalu marah dalam hati pada orang dengar yang membayangkan dunia Tuli sebagai dunia yang sunyi dan sedih. Dunia ini berisik dengan caranya sendiri, dan tawanya nyata.
Ia memesan kopi dan duduk dekat meja tempat beberapa orang sedang berdebat serius. Topiknya yang abadi: BISINDO lawan SIBI. Seorang lelaki muda berargumen dengan tangan yang berapi-api bahwa di sekolah luar biasa keponakannya masih dipaksa memakai SIBI, sistem isyarat buatan yang mengekor tata bahasa Indonesia lisan, kata demi kata, imbuhan demi imbuhan, padahal tidak ada orang Tuli yang sungguh berpikir dalam struktur itu. SIBI itu bahasa yang dibuat orang dengar untuk orang Tuli, isyaratnya tajam. BISINDO itu bahasa kami sendiri, tumbuh dari kami. Lawannya, seorang perempuan, membalas bahwa di ujian formal anak-anak tetap diuji dengan SIBI, jadi tidak mengajarkannya berarti membuat mereka gagal di sistem. Itu perdebatan nyata, perdebatan tentang kekuasaan, tentang siapa yang berhak menamai bahasa orang lain, dan Gayatri menontonnya dengan rasa yang akrab.
Di tengah perdebatan itulah seorang perempuan menarik kursi dan duduk menghadapnya. Usianya mungkin sebaya Gayatri, rambut dipotong pendek praktis, dan tatapannya tajam dengan cara yang langsung membuat Gayatri waspada tanpa tahu kenapa. Tangannya mulai bergerak, tegas, tidak ada basa-basi. Kamu Gayatri. Juru bahasa.
Gayatri mengangguk. Saya Gayatri. Dan Anda?
Mursita. Perempuan itu tidak mengulurkan tangan, hanya menyebut namanya dengan isyarat dan menatap lurus. Saya dengar tentangmu. Kamu menerjemahkan di kantor polisi kemarin malam. Untuk Sigit.
Gayatri merasa udara di sekitarnya mengencang. Berita di komunitas Tuli bergerak lebih cepat daripada di komunitas mana pun yang ia kenal; jaringan video-call dan grup pesan mereka rapat dan setia. Ia menjawab hati-hati, tetap dalam batas etika. Saya tidak boleh membicarakan perkara yang saya tangani. Itu bagian dari kode etik saya.
Kode etik. Mursita mengulang isyarat itu dengan ekspresi yang nyaris mengejek, bukan kasar, tapi menantang. Itu yang selalu kalian katakan. Kode etik. Netral. Tidak memihak. Tangannya berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan lebih pelan, lebih dalam. Sigit itu saudara komunitas kami. Dia ada di kelompok kami sejak SLB. Sekarang dia sendirian di ruang yang penuh orang dengar, dan satu-satunya jembatan ke dunia itu adalah kamu, orang dengar juga. Dan kamu bilang kamu netral.
Saya menerjemahkan apa yang dia katakan, persis, jawab Gayatri. Itulah cara saya melindunginya. Kalau saya menambah atau mengurangi untuk membuatnya terdengar lebih baik, saya menukar suaranya dengan suara saya. Saya tidak akan pernah melakukan itu pada orang Tuli.
Mursita menatapnya lama. Lalu tangannya bergerak dengan kalimat yang akan Gayatri bawa pulang dan ulang di kepalanya berhari-hari. Kamu pikir netral itu ada. Tapi waktu seorang dengar menerjemahkan untuk seorang Tuli di ruangan yang dikuasai orang dengar, dengan aturan orang dengar, di bahasa orang dengar, netral itu cuma nama lain untuk berdiri di pihak yang sudah menang. Kaca beningmu hanya bening untuk mereka. Bagi kami, kaca itu tetap dinding.
Gayatri membuka mulut, lalu sadar mulut tidak ada gunanya di sini, lalu mengangkat tangan untuk membalas dan menemukan, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, bahwa ia tidak punya bantahan yang siap. Ia ingin berkata Mursita keliru, bahwa netralitas justru melindungi orang Tuli dari penerjemah yang sok tahu, dari orang seperti dirinya yang dulu mencuri kalimat dari ibunya. Tapi argumen Mursita menusuk tepat di celah yang selama ini ia hindari: bahwa memilih untuk tidak ikut campur, di ruang yang sudah timpang, bukanlah ketiadaan pilihan, melainkan sebuah pilihan yang diam-diam berpihak pada yang lebih kuat.
Saya bukan musuhnya, Gayatri akhirnya berisyarat, dan ia membenci betapa lemah kedengarannya bahkan dalam bahasa yang tak bersuara.
Saya tidak bilang kamu musuh, balas Mursita, dan untuk pertama kalinya ada sesuatu yang lebih lembut di tangannya, bukan kelembutan kemenangan, tapi kelelahan seseorang yang sudah terlalu sering mengucapkan hal ini. Saya bilang kamu belum memutuskan kamu siapa. Alat sistem, atau bagian dari kami. Kamu tidak bisa jadi keduanya selamanya. Suatu hari ruangan itu akan memaksamu memilih, dan kamu akan tahu jawabannya bukan dari kode etik, tapi dari apa yang tubuhmu lakukan saat tidak ada waktu untuk berpikir.
Mursita berdiri, mengambil gelasnya, dan kembali ke meja debat BISINDO-SIBI tanpa menoleh lagi, langsung tenggelam dalam komunitas yang menerimanya tanpa syarat, komunitas tempat ia menjadi dirinya sendiri, sementara Gayatri duduk di tepi, dengan kopi yang mendingin, sebagai seseorang yang menguasai bahasa itu sejak lahir namun tidak pernah sepenuhnya diizinkan masuk. Anak orang Tuli yang dengar. Selamanya berdiri di ambang pintu dua dunia, kunci di kedua tangan, dan rumah di tak satu pun.
Ia pulang malam itu tidak dengan kemarahan, melainkan dengan pertanyaan yang lebih berat daripada kemarahan. Bukan apakah Mursita benar. Tapi apakah dinding yang ia sebut sumpah, dinding yang ia bangun dengan begitu rapi demi tidak pernah lagi jadi pencuri suara, sesungguhnya juga dinding yang memisahkannya dari satu-satunya tempat ia mungkin pernah merasa pulang.