Ruangan itu dulunya gudang berkas. Sekarang seseorang menaruh proyektor di ujung meja panjang dan menutup gorden supaya layar terbaca, dan Gayatri duduk di kursi yang paling jauh dari layar seolah jarak bisa mengurangi apa yang akan ia lihat. Ia sudah menonton rekaman itu berpuluh kali sendirian, di kamar, dengan lampu mati. Tapi menontonnya di sini, di antara orang-orang yang tahu membacanya, terasa berbeda. Seperti membuka pintu kamar yang selama ini ia kira miliknya, lalu menemukan orang lain sudah berdiri di dalamnya.
Pram datang lebih dulu, membawa map dan dua botol air yang ia letakkan tanpa berkata banyak. Lalu ahli linguistik Tuli itu, namanya Pak Hendra, seorang Tuli yang mengajar di universitas dan menulis soal tata ruang BISINDO; ia menjabat tangan Gayatri dengan isyarat ringan, salam biasa, tanpa beban. Dan yang terakhir masuk seorang perempuan muda dengan tas selempang, CDI yang akan menjembatani antara Pak Hendra dan mereka yang mendengar. Namanya Larasati. Gayatri mengenalnya dari acara komunitas, samar, dan ia berharap Larasati tidak mengenalinya kembali dengan cara yang salah.
"Kita mulai dari mana?" tanya Pram.
Pak Hendra mengisyarat, dan Larasati menyuarakan: "Dari awal. Tanpa suara dulu. Saya mau lihat tangannya, bukan mendengar terjemahannya."
Maka rekaman diputar tanpa audio. Layar menampilkan Damar yang lebih muda dari yang Gayatri ingat, atau mungkin hanya lebih takut. Duduk di ruang keterangan, bahu naik, mata menyapu sudut-sudut ruangan seperti mencari pintu. Dan di pojok bawah layar, punggung Gayatri sendiri. Ia melihat tangannya sendiri di sana, bergerak, dan perutnya mengencang.
Pak Hendra menyuruh menghentikan gambar. Ia menunjuk layar. Tangannya membentuk sesuatu di udara, meniru isyarat Damar, mengulanginya pelan, lalu memutarnya ke arah lain. Larasati menerjemahkan.
"Ini klasifikator. Dia menaruh sebuah benda di sini." Pak Hendra menandai satu titik di ruang di depan dadanya. "Lalu tangan yang satu bergerak dari sini ke sini. Dalam BISINDO, arah ini bisa berarti banyak hal. Bisa 'benda itu jatuh'. Bisa 'benda itu diberikan'. Bisa 'benda itu ada di sana lalu hilang'. Ruang ini," ia menggerakkan telapak tangannya seolah menepuk udara, "belum tentu menyatakan siapa yang melakukan."
Pram mencondongkan badan. "Belum tentu?"
"Belum tentu." Larasati menyuarakan, tapi matanya sudah pindah ke Gayatri, dan Gayatri tahu perempuan itu mulai menghitung sesuatu.
Mereka memutar ulang bagian yang sama. Sekali. Dua kali. Pak Hendra meminta diperlambat, dan operator menyeret bilah waktu sampai gerakan Damar menjadi patah-patah, tiap bingkai berdiri sendiri seperti foto. Di kecepatan itu Gayatri melihat hal yang dulu luput: sebelum tangan Damar bergerak, matanya melirik ke arah aparat yang berdiri di luar bingkai. Sebuah jeda. Ragu. Register yang berubah dari cerita menjadi pembelaan. Damar tidak sedang menceritakan apa yang ia lakukan. Damar sedang mencoba menjelaskan apa yang terjadi padanya, dan tak seorang pun di ruang itu, termasuk perempuan di pojok layar, yang cukup pelan untuk melihat bedanya.
"Di sini," kata Pak Hendra, jarinya di udara, "tidak ada CDI. Benar?"
"Tidak ada," jawab Pram.
"Berarti tidak ada yang memastikan apakah dia paham pertanyaannya. Tidak ada yang memastikan ruang yang dia bangun terbaca utuh." Isyarat Pak Hendra menjadi lebih tegas, lebih lambat, seperti guru yang menuntun murid melewati soal yang salah. "Isyarat ruang itu bukan kata per kata. Dia membangun sebuah adegan. Kalau kau ambil satu potong dan kau bacakan sebagai kalimat berniat, kau bukan menerjemahkan. Kau memilih."
Kau memilih. Larasati menyuarakan dua kata itu tanpa penekanan apa pun, netral, sebagaimana seharusnya, dan justru karena netral kata-kata itu mendarat lebih keras di dada Gayatri daripada tuduhan mana pun.
Baru setelah itu suara rekaman dinyalakan. Dan terdengarlah kalimat lisan itu, kalimat yang ia rangkai dulu, jernih dan rapi dan terlalu yakin: sebuah kalimat yang punya subjek, punya kehendak, punya niat. Kalimat yang bisa dibaca hakim mana pun sebagai pengakuan. Di layar, tangan Damar berkata mungkin. Di pengeras suara, suara Gayatri berkata pasti. Selisih itu berdiri di ruangan seperti orang keempat yang tak diundang.
Tak ada yang menoleh ke arahnya. Justru itu yang paling ia takutkan — bukan tuduhan, melainkan kesopanan orang-orang yang memilih tidak menatap. Pram menulis sesuatu. Pak Hendra meminta bagian itu diputar lagi dari awal, tanpa suara, kembali ke tangan.
"Kita akan butuh transkrip isyarat," kata Larasati akhirnya, menerjemahkan Pak Hendra dan sekaligus, Gayatri merasa, berbicara untuk dirinya sendiri. "Glos penuh. Setiap klasifikator, setiap penempatan ruang, ditandai. Lalu kita bandingkan dengan terjemahan yang masuk berkas. Bukan untuk menyalahkan siapa-siapa." Ia berhenti. "Untuk menunjukkan di mana makna berpindah."
Untuk menunjukkan di mana makna berpindah. Gayatri mencatat kalimat itu dalam kepala seperti orang mencatat nama penyakitnya sendiri.
"Ibu Gayatri," kata Pram, dan itu pertama kalinya sepanjang sesi namanya disebut. "Kami mungkin butuh Ibu menjelaskan proses waktu itu. Bukan hari ini. Nanti."
Gayatri mengangguk. Suaranya, ketika keluar, terdengar lebih tenang daripada yang ia rasakan. "Saya akan bantu apa pun yang dibutuhkan."
Di layar, gambar kembali ke awal. Damar yang lebih muda, bahu naik, tangan mulai membentuk ruang di depan dadanya — sebuah adegan yang selama ini menunggu dibaca ulang oleh mata yang mau melambat. Pak Hendra mengangkat tangannya, siap menandai bingkai pertama. Dan Gayatri menatap layar, memaksa dirinya tidak berpaling, karena ia tahu inilah yang seharusnya ia lakukan sejak awal: melihat tangan itu, benar-benar melihatnya, tanpa terburu-buru menyuarakannya menjadi kalimat yang tak boleh salah.