Ruangan itu terlalu terang untuk sesuatu yang seharusnya berlangsung dalam gelap. Proyektor menyorot dinding, dan pada dinding itu Damar bergerak — bukan Damar yang sekarang, yang duduk di sel dengan wajah yang belajar diam, melainkan Damar dua tahun lalu, di ruang keterangan kepolisian, tangannya masih percaya bahwa isyarat akan sampai. Gayatri duduk di baris paling belakang, menjauh dari layar seolah jarak bisa memperingan apa yang akan ia lihat.
Di depan, Bu Retno, ahli linguistik isyarat yang didatangkan Pram, menghentikan rekaman pada detik ketiga puluh tujuh. Di sampingnya, Pak Tanto — CDI yang tumbuh dalam keluarga Tuli tiga generasi — mencondongkan badan ke layar. Wulan mencatat. Pram berdiri di sudut, tangan bersedekap, membiarkan para ahli bekerja.
"Ulang dari sini," kata Bu Retno. "Perlahan."
Tangan Damar di layar naik. Telapak terbuka menghadap ke bawah, lalu menyapu satu ruang di depan tubuhnya, dari kiri ke kanan, berhenti, kembali. Tangan yang lain menegakkan jari — sebuah klasifikator, sosok yang berdiri. Gayatri tahu bentuk itu. Ia pernah menerjemahkannya. Ia ingat betul kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri di ruang itu, dituliskan rapi ke dalam berkas: *Saya mendekati dia untuk memukul.*
"Perhatikan penempatannya," ujar Pak Tanto, tangannya ikut bergerak menirukan. "Sosok yang berdiri ini — dia taruh di sini." Ia menunjuk satu titik di udara, agak ke kanan. "Bukan dirinya. Damar tidak menaruh dirinya di titik itu. Dia menaruhnya di sini." Titik yang lain, lebih dekat ke dada. "Dua tempat. Dua orang."
Bu Retno mengangguk pelan. "Dan tangan yang menyapu tadi — itu bukan gerak mendekat. Itu penanda ruang. Dia sedang membangun panggung. Menunjukkan di mana masing-masing berdiri sebelum apa pun terjadi."
Gayatri merasa sesuatu turun perlahan di dadanya, dingin, seperti air yang mencari dasar.
"Coba lanjut," kata Pram, suaranya tenang, tapi Gayatri menangkap ada yang menahan di dalamnya.
Rekaman berjalan lagi. Tangan Damar bergerak antara dua titik yang telah ia tandai. Ada arah. Ada peran. Klasifikator berdiri yang di kanan bergerak lebih dulu — maju, condong, tangan terangkat. Baru setelah itu sosok yang dekat dada bereaksi, mundur, lengan naik menutup.
Pak Tanto menghentikan gambar dengan telapak terangkat, seolah menahan sesuatu yang hidup. "Lihat urutannya. Yang bergerak duluan bukan dia. Yang mengangkat tangan duluan bukan dia." Ia menoleh ke Bu Retno. "Ini bukan pernyataan niat. Ini penceritaan kejadian. Dia sedang bilang: yang itu datang ke arah saya lebih dulu."
"Arah verbnya terbalik," Bu Retno menambahkan, dan ia mulai bicara lebih cepat, dalam tempo orang yang menemukan sesuatu. "Dalam BISINDO arah gerak menentukan siapa subjek, siapa objek. Kalau verbnya bergerak dari titik A ke titik B, maka A yang melakukan, B yang menerima. Di sini geraknya jelas dari titik kanan — sosok yang lain — menuju titik dekat dada. Menuju Damar." Ia menghadap ke arah Pram. "Terjemahan resmi membalik arah itu. Membuat Damar jadi titik asal. Jadi pelaku."
Ruangan sempat sunyi. Proyektor berdengung pelan. Di layar, tangan Damar membeku di tengah gerak, terpotong, tak selesai.
Wulan mengangkat kepalanya dari catatan. "Jadi bukan sekadar salah kata," katanya, hati-hati, matanya sekilas melirik ke belakang, ke tempat Gayatri duduk. "Yang keliru itu geometrinya. Ruangnya."
"Ruangnya," Bu Retno mengulang. "Bahasa isyarat menaruh makna di tempat. Kalau kau salah baca tempat, kau salah baca semuanya sesudahnya. Klasifikator ini—" ia menunjuk jari tegak di layar "—netral. Tidak berniat, tidak bersalah, tidak berkehendak. Dia cuma penanda: ada sosok, berdiri, di sini. Yang memberi dia niat adalah kalimat lisan. Bahasa Indonesia butuh subjek yang berbuat. Maka subjek dipasang. Dan subjek yang dipasang adalah Damar."
Gayatri menutup matanya sebentar. Ia tahu tangan siapa yang memasang subjek itu. Ia ingat tekanan di ruang keterangan waktu itu, penyidik yang mengetuk meja, pertanyaan yang datang bertubi tanpa jeda untuk ruang, tanpa jeda untuk arah. Ia ingat dirinya memilih kata yang paling jelas, paling bisa dituliskan, paling tidak menggantung — karena menggantungkan makna terasa seperti gagal. Ia telah memberi mereka kalimat yang rapi. Kalimat yang bisa dijerat pasal.
"Bisa diulang sekali lagi?" Gayatri mendengar suaranya sendiri sebelum sadar ia bicara. Semua kepala menoleh. "Bagian arahnya. Saya ingin melihatnya sekali lagi."
Pak Tanto memandangnya lama. Bukan menghakimi — Gayatri sudah menyiapkan diri untuk dihakimi dan mendapati bahwa ketiadaan hakiman justru lebih berat. Ia hanya mengangguk, lalu memutar ulang gambar itu, pelan, sepelan yang bisa dilakukan mesin.
Tangan Damar bergerak lagi. Dari kanan, menuju dada. Datang, bukan pergi. Menerima, bukan melakukan. Kali ini Gayatri memaksa dirinya membaca isyarat itu sebagaimana Damar memaksudkannya, bukan sebagaimana ia dulu mengubahnya menjadi suara. Dan untuk pertama kali sejak semua ini dimulai, ia melihat pemuda itu bukan sebagai kekeliruannya, melainkan sebagai orang yang, dua tahun lalu, sedang berusaha keras menceritakan bahwa ia yang didatangi.
"Cukup jelas untuk dokumen ahli?" tanya Pram.
"Cukup," jawab Bu Retno. "Ini bukan tafsir yang berlawanan. Ini rekonstruksi. Siapa pun yang paham ruang isyarat akan membacanya sama."
*Siapa pun yang paham,* pikir Gayatri. Termasuk dirinya. Ia sudah paham. Ia selalu paham. Dan itulah yang membuat batu di dadanya bertambah satu lapis lagi — bukan karena ia tak tahu, melainkan karena dulu ia memilih kejelasan di atas kebenaran, dan kejelasan itu kini punya nama, punya wajah, punya sel.
Pak Tanto mematikan proyektor. Dinding kembali kosong. Tapi bagi Gayatri gambar itu tidak ikut padam; ia menetap, dua titik di udara, sebuah arah yang selama ini ia balik, dan kini, akhirnya, terbaca ke arah yang benar.