Tangannya tidak lagi gemetar ketika menuang teh, dan Gayatri memperhatikan hal itu seperti orang asing memperhatikan cuaca — dengan jarak, tanpa merasa memilikinya. Beberapa minggu lalu cangkir ini akan berdenting gelisah di lepek, air menciprat ke buku jari. Pagi ini tidak. Ia meletakkan cangkir di meja adiknya, dan Bagas mengangkat wajah dari ponsel, mengisyaratkan terima kasih dengan dua jari turun dari dagu — ringan, tanpa curiga. Bagas belum tahu berapa banyak yang telah retak lalu disusun ulang di dalam kakaknya. Barangkali ia tak perlu tahu semuanya. Itu pun, Gayatri sadari sekarang, sebuah pilihan; dan tiap pilihan punya bentuk.
Ruang pertemuan kelompok dukungan itu selalu terlalu terang, lampu neon yang membuat semua orang tampak sedikit lelah dan sedikit jujur. Mereka duduk melingkar, tujuh juru bahasa yang biasanya saling berpapasan hanya di lorong pengadilan atau ruang tunggu rumah sakit. Bu Ratih, fasilitatornya, tidak pernah memberi nasihat. Ia hanya bertanya, lalu menunggu, dan keheningannya punya daya yang tidak dimiliki nasihat mana pun.
"Minggu ini bagaimana," kata Bu Ratih.
Gayatri menimbang. Dulu ia akan menjawab dengan laporan — jam kerja, sesi yang berat, mimpi yang datang. Kali ini ia berkata pelan, "Saya sempat berpikir untuk mundur dari kasus itu. Bukan karena takut. Karena capek. Ada bedanya, dan saya baru bisa memisahkan keduanya minggu ini."
Seorang perempuan di seberang — Mila, yang bekerja di ranah medis — mengangguk terlalu cepat, seperti orang yang mengenali bentuk lukanya sendiri di lantai orang lain. "Lalu?" tanya Bu Ratih.
"Lalu saya sadar capek bukan alasan untuk berhenti. Capek cuma memberi tahu saya bahwa saya menanggung sesuatu yang memang berat. Bukan sesuatu yang salah saya tanggung."
Ia mengucapkannya, dan mendengarnya sendiri, dan tahu itu benar. Bukan pidato. Hanya semacam menaruh batu yang selama ini ia genggam ke atas meja, supaya bisa dilihat, supaya tangannya bebas.
Bu Ratih tidak memuji. Ia hanya berkata, "Itu bukan Gayatri yang datang ke sini dua bulan lalu."
"Bukan," jawab Gayatri. "Saya rasa memang bukan."
Di rumah, malam itu, ia membuka kembali surel dari Pram — permintaan agar ia mengukuhkan kesediaannya memberi keterangan tertulis, disusul kemungkinan hadir lebih jauh nanti. Kursor berkedip di kolom balasan. Dulu, saat surel semacam ini datang, dadanya akan mengeras, dan ia akan menutup laptop, dan tidur pun tak mau menjemputnya. Sekarang dadanya tetap berat — tetapi berat yang bisa ia bawa berjalan, bukan berat yang memakukannya ke lantai. Ia mengetik: Saya tetap bersedia. Ada beberapa hal soal cara saya bekerja yang perlu kita bicarakan sebelum lanjut. Ia membaca ulang kalimat kedua itu dua kali. Kalimat itu tidak akan ada tiga bulan lalu.
Sebab yang berubah bukan hanya keputusannya. Cara tangannya berbicara pun berubah.
Ia menyadarinya keesokan harinya, di sebuah penugasan kecil yang sengaja diberikan supervisornya — mediasi ringan, seorang ibu Tuli mengurus administrasi sekolah anaknya. Tidak ada taruhan hukum, tidak ada pasal. Hanya formulir dan seorang petugas yang tergesa. Ibu itu mengisyaratkan sesuatu tentang jadwal, dengan penempatan ruang yang bisa berarti dua hal — sebelum atau sesudah, bergantung arah yang ia baca. Gayatri yang lama akan memilih satu, yang paling mungkin, dan meneruskannya mulus supaya percakapan tidak tersendat. Efisien. Nyaris tanpa berpikir.
Gayatri yang ini berhenti. Ia menoleh pada sang ibu, mengisyaratkan ulang, memastikan: ini, atau ini? Petugas di seberang meja mendesah, mengetuk pena. Ibu itu memperjelas — sesudah — dan tersenyum kecil, seolah tidak sering ada orang yang repot-repot menanyakan lagi. Hanya beberapa detik. Beberapa detik yang membuat petugas gusar dan membuat makna menjadi benar. Gayatri merasakan sesuatu yang lama tidak ia rasakan dalam pekerjaan ini: bukan kebanggaan, bukan pula rasa bersalah. Sekadar ketenangan berdiri di tempat yang jujur.
Ia tidak mengatakannya pada siapa pun, tetapi ia tahu itulah yang tersisa dari semua reruntuhan. Bukan sumpah heroik untuk membela. Rani akan salah menilainya sebagai keluar barisan; Wulan mungkin menganggapnya belum cukup jauh. Keduanya, ia mulai mengerti, mengukur dirinya dengan penggaris orang lain. Yang ia temukan sendiri lebih sederhana dan lebih sukar: ia akan menandai apa yang ambigu, terang-terangan, tiap kali. Ia akan meminta CDI bila ruang menuntutnya. Ia tidak akan lagi memuluskan register demi kenyamanan siapa pun. Dan ia akan menanggung ongkos dari kelambatan itu, karena ongkos itu jauh lebih murah daripada yang telah dibayar Damar.
Malam berikutnya, saat Bagas menonton acara komunitas di ponselnya dan tertawa pada lelucon tangan yang tak sepenuhnya bisa Gayatri ikuti, ia duduk di sampingnya. Adiknya menoleh, mengisyaratkan, Kakak baik-baik saja? — pertanyaan yang beberapa minggu ini kerap ia lontarkan, dengan kening berkerut.
Gayatri berpikir sebelum menjawab. Ia tidak akan berbohong bahwa semuanya beres. Perkaranya belum bergerak, komunitas masih terbelah, dan ia tahu jalan di depan akan lebih curam, bukan lebih landai. Namun ia juga tidak lagi berdusta bahwa ia hancur.
Belum, isyaratnya, lalu meralat dengan jujur yang membuat Bagas menahan tawa. Tapi cukup baik untuk lanjut.
Bagas menepuk lututnya sekali, dan kembali ke layar. Gayatri memandang tangannya sendiri di pangkuan — tangan yang pernah gemetar, yang kini diam, yang esok akan kembali bicara di ruang-ruang yang keras. Tangan yang sama. Tetapi yang menggerakkannya sudah bukan orang yang dulu.