Bagas datang membawa dua bungkus nasi padang dan sebotol teh manis, tapi Gayatri baru menyadari adiknya sudah duduk setengah jam di ruang tamu ketika layar laptopnya meredup sendiri.
*Kakak masih di sini?* tanya Bagas, tangannya melambat, setengah bercanda. *Atau cuma badannya?*
Gayatri menutup laptop. Di layar tadi ada transkrip yang sudah ia baca entah berapa kali—keterangan Damar, kolom terjemahan di sebelah kanan yang seolah menolak berubah betapapun lama ia menatapnya. Ia memaksakan senyum. *Maaf. Ada yang harus kukejar.*
*Selalu ada.* Bagas membuka bungkus nasinya tanpa banyak isyarat, seperti orang yang sudah bersiap makan sendirian. Ia mengunyah sebentar, lalu tangannya kembali bergerak, kali ini tanpa canda. *Rabu kemarin. Koperasi. Kakak janji datang menerjemahkan.*
Gayatri merasa perutnya jatuh. Rabu. Ia membuka ponsel, dan di sana, di antara pengingat sidang, jadwal supervisi, dan pesan dari Pram, ada satu baris kecil yang tenggelam: *Bagas—rapat pinjaman warung, 10.00.* Ia bahkan tak ingat mematikan alarmnya.
*Aku bawa teman dari komunitas,* lanjut Bagas, dan tangannya tidak marah, itu yang membuatnya lebih perih. * Diko mau bantu. Tapi dia bukan juru bahasa tersertifikasi, dan orang bank itu bicara cepat sekali. Aku tanda tangan sesuatu yang setengah kupahami.* Ia berhenti. *Aku tidak mau menyalahkanmu. Cuma—dulu kau selalu ada untuk urusan begini.*
*Bagas—*
*Kasus itu memelukmu lebih erat daripada kami pernah bisa.* Ia mengangkat bahu, gestur yang di tangannya terlihat hampir lembut. *Aku mengerti. Damar juga adik seseorang.*
Kalimat itu, yang mestinya menghibur, malah menancap paling dalam. Gayatri ingin menjelaskan—bahwa ia tak sanggup menuang seluruh hari ini kepada siapa pun, bahwa akhir-akhir ini tangannya sendiri kadang gemetar di tengah sesi, bahwa ia baru mulai duduk di ruang supervisi tiap Kamis hanya untuk belajar bernapas lagi. Tapi tak satu pun bisa ia isyaratkan tanpa menyeret Damar ke dalam ruang tamu ini, dan ia sudah bersumpah tidak akan pernah menyebut nama itu di depan adiknya. Maka ia hanya mengisyaratkan, *Rabu depan aku antar kau ke koperasi. Kita perbaiki tanda tangan itu.*
Bagas mengangguk, tapi ia tak berjanji akan menagih. Itulah yang paling menakutkan: adiknya sudah belajar untuk tidak terlalu berharap.
Ponsel Gayatri bergetar di meja. Nama Pram menyala. Bagas melirik layar, lalu meliriknya, dan sesuatu dalam matanya menutup pelan seperti pintu yang tak dibanting. Ia menghabiskan nasinya, mengumpulkan bungkus kosong, dan pamit sebelum Gayatri sempat menahannya.
Ia mengangkat telepon setelah pintu tertutup. Pram tak pernah basa-basi lama. "Ada berkas baru," katanya. "Keterangan saksi kedua di kasus Damar. Aku butuh mata yang paham isyarat ruang. Bisa kau baca malam ini?"
"Aku bukan bagian dari timmu, Pram."
Hening sejenak di seberang. "Kau tahu apa yang kupertaruhkan untuk peninjauan ini."
"Justru karena itu." Gayatri berdiri, mendekat ke jendela, jalanan basah memantulkan lampu. "Kalau aku ikut mengoreksi keterangan saksi lain, menyusun strategi bersamamu, memilih kata untukmu—maka aku bukan lagi saksi yang jujur atas kerjaku sendiri. Aku jadi juru bahasa yang bekerja untuk pembela. Jaksa akan mencabik keteranganku dalam tiga kalimat, dan seluruh peninjauan runtuh. Kau lebih paham itu daripada aku."
"Aku paham garisnya." Suara Pram mengeras, lelah dan menekan sekaligus. "Yang aku tidak paham adalah kenapa kau sanggup mengakui kesalahanmu di atas kertas tapi tak sanggup memberiku satu jam untuk membaca dokumen."
"Karena satu jam itu tak pernah cuma satu jam." Kata-kata itu keluar lebih tajam dari yang ia niatkan. "Kau menemuiku dua kali seminggu. Kau mengirimiku transkrip tengah malam. Kau menyebutku 'aset' di depan asistenmu—Diko cerita. Aku bukan asetmu, Pram. Aku orang yang keterangannya akan menghabisi kariernya sendiri, dan aku butuh sisa hidupku yang bukan tentang Damar supaya tetap bisa berdiri."
Ia mendengar Pram menarik napas. Ketika lelaki itu bicara lagi, nadanya berubah, dan itu yang membuat Gayatri waspada. "Aku minta maaf. Aku—" Jeda. "Aku terlalu sering lupa kau juga sedang hancur oleh ini. Aku cuma melihat satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan anak itu, dan aku menagihnya terus. Itu tidak adil."
Ada kehangatan di kalimat itu, sesuatu yang selama berbulan-bulan tumbuh diam-diam di sela berkas dan kopi dingin di kantor pengacara, dan sekejap Gayatri merasakannya menarik-narik—godaan untuk dilihat sebagai manusia, bukan sebagai bukti. Ia menutup mata. "Jangan," katanya pelan. "Jangan yang itu. Aku tidak sanggup menambah satu benang lagi yang bisa membuatku bias."
"Aku tahu," jawab Pram, dan mereka membiarkannya di situ, tergantung, tak diambil oleh siapa pun. "Batasnya kujaga. Aku janji."
"Kirim berkasnya ke ahli linguistikmu, bukan padaku," kata Gayatri. "Aku hanya akan bersaksi soal apa yang keluar dari tanganku sendiri. Tidak lebih."
Setelah telepon mati, ruang tamu terasa terlalu besar. Dua bungkus nasi Bagas sudah tak ada, tapi baunya masih tinggal, minyak dan cabai, bau rumah yang belakangan makin jarang ia singgahi. Gayatri membuka lagi laptopnya. Kolom terjemahan itu masih di sana, menunggu, sabar dan kejam. Ia menatapnya sampai matanya perih, lalu—untuk pertama kali malam itu—menutupnya tanpa membaca ulang. Ia mengirim satu pesan ke Bagas: *Rabu depan. Aku catat pakai tinta. Tidak akan kulewatkan.* Titik kecil di bawah pesan itu tak kunjung berubah jadi terbaca, dan ia membiarkan ponselnya menyala di dadanya, menunggu, sementara di luar hujan turun tanpa suara ke atas kota yang tidur.