Rani memilih kedai yang sama seperti dulu, sudut dekat jendela tempat mereka biasa membedah rekaman lama sambil tertawa kecil atas kekeliruan pemula. Kali ini tak ada tawa. Kopi di hadapan Gayatri mengembun, tak tersentuh, dan Rani berbicara dengan suara yang ia kenal betul: tenang, terukur, seperti orang membaca kode etik dari dalam kepalanya.
"Kau menyampaikan apa yang ada di ruang itu," kata Rani. "Titik. Bukan apa yang kau harap ada. Bukan apa yang kau takutkan. Kalau setiap juru bahasa mulai menimbang beban hukuman sebelum mengangkat tangan, tak akan ada satu pun keterangan yang bisa dipercaya di negeri ini."
"Aku tidak menimbang hukuman, Bu," kata Gayatri. "Aku menimbang apakah yang kusampaikan itu benar."
"Benar menurut siapa?" Rani meletakkan sendok dengan hati-hati, seolah menaruh argumen di atas meja. "Kau bukan hakim. Kau bukan pembela. Kita bukan pembela. Kalau keterangan itu keliru, ada mekanisme untuk itu — bukan tangan penerjemah yang menariknya sendiri seperti mencabut jahitan."
Gayatri menatap perempuan yang mengajarinya membaca ruang, mengajarinya bahwa punggung tangan pun bisa menyimpan tata bahasa. Ia menunggu di dalam dirinya rasa lega yang biasa datang setiap kali Rani menyederhanakan dunia jadi garis lurus. Rasa lega itu tidak datang. Yang datang justru gambar Damar di ruang jenguk, jari-jarinya membentuk sebuah ruang yang dulu Gayatri ratakan jadi kalimat berniat.
"Kalau mekanismenya yang keliru?" tanya Gayatri pelan. "Kalau tak ada CDI, keterangan diambil terburu-buru, dan aku satu-satunya orang di ruangan itu yang tahu isyarat ruangnya bisa dibaca dua arah — netralitas yang mana yang sedang kujaga? Netralitas pada kebenaran, atau netralitas pada kekeliruan yang sudah rapi diketik?"
Rani diam sejenak. Untuk pertama kalinya wajahnya bukan wajah guru, melainkan wajah orang yang pertahanannya diketuk dari sisi yang tak ia jaga. Lalu ia menutupnya kembali, seperti menutup buku catatan. "Kau terlalu banyak bergaul dengan Wulan," katanya. Dan Gayatri tahu percakapan itu telah selesai sebelum kopinya sempat hangat.
Dua hari kemudian Wulan mengajaknya jalan kaki menyusuri trotoar dekat kampus, bukan duduk, karena Wulan berpikir paling jernih ketika kakinya bergerak. Ia berjalan cepat, tangannya ikut bicara di udara meski tak ada yang perlu diterjemahkan, kebiasaan orang yang hidup di antara dua bahasa.
"Bawa ke terang," kata Wulan. "Semua. Rekamannya, berkasnya, namamu. Kau punya bukti bahwa seorang pemuda Tuli dihukum karena tanganmu keliru dibaca ruangnya. Itu bukan aib pribadimu, Gay, itu cacat sistem yang kebetulan lewat lewat tanganmu. Diam justru pengkhianatan."
"Dan Damar jadi tontonan," kata Gayatri. "Keluarganya jadi tajuk. Wajahnya di layar-layar orang yang tak bisa membaca satu isyarat pun tapi merasa berhak menghakimi kasusnya."
"Kadang orang harus terluka di depan umum supaya yang lain berhenti terluka diam-diam."
Gayatri berhenti di tepi trotoar. "Itu keputusan Damar untuk diambil. Bukan keputusanku untuk mendermakan penderitaannya demi kebenaran yang kuanggap penting." Ia melihat sesuatu berkelebat di mata Wulan — bukan marah, melainkan keyakinan yang begitu penuh sampai tak ada ruang tersisa untuk ragu. Keyakinan itu indah, dan mengerikan. Wulan sudah tahu jawabannya sebelum pertanyaannya lengkap. Advokasi baginya adalah pedal gas; ia tak pernah menyebut soal rem.
"Kau menandai ambiguitas," kata Gayatri, "lalu kau tekan ambiguitas itu ke satu arah yang kau yakini. Bagaimana itu berbeda dari yang kulakukan pada Damar, Wulan? Aku pun dulu yakin. Aku pun dulu merasa sedang menyampaikan yang paling benar."
Wulan membuka mulut, lalu menutupnya. Untuk perempuan yang tangannya tak pernah kehabisan kata, jeda itu berarti sesuatu.
Malam itu Gayatri duduk di lantai kamarnya, punggung bersandar ke ranjang, catatan supervisi terbuka di pangkuan tapi tak ia baca. Ia memutar dua suara di kepalanya berulang-ulang seperti dulu ia memutar rekaman keterangan Damar. Rani: sampaikan, jangan menimbang. Wulan: menimbang, lalu dorong. Yang satu meminta ia menjadi kaca — jernih, dingin, tak berbekas, dan justru karena tak berbekas ia meloloskan kekeliruan tanpa terasa. Yang lain meminta ia menjadi tangan yang mendorong — dan tangan yang mendorong ke arah baik hari ini adalah tangan yang sama yang mendorong Damar ke penjara kemarin, hanya berbeda niat.
Keduanya, sadarnya perlahan, sama-sama menawarkan sebuah tempat untuk bersembunyi. Kaca bersembunyi di balik prosedur. Tangan bersembunyi di balik keyakinan. Tak satu pun berani berdiri di tempat yang paling tidak nyaman: mengakui bahwa ia melihat dua makna, menaruh keduanya di atas meja dengan jujur, dan berkata terus terang bahwa ia tidak tahu pasti — lalu membiarkan orang yang berwenang, dan Damar sendiri, memutuskan dengan mata terbuka.
Bukan kaca. Bukan pendorong. Sesuatu di antara yang belum ada namanya.
Ia teringat sesuatu yang pernah dikatakan Bagas dengan enteng, bertahun lalu, sambil menertawakan seorang juru bahasa acara televisi yang meratakan lelucon Tuli jadi kalimat datar: isyarat itu punya ruang, Kak. Kalau kau ratakan ruangnya, kau buang separuh maksudnya. Waktu itu Gayatri tertawa. Sekarang kalimat itu terasa seperti hukuman dan petunjuk sekaligus.
Ia menutup catatan supervisi. Besok ia akan menuliskannya sendiri — bukan doktrin Rani, bukan doktrin Wulan, melainkan sesuatu yang harus ia tempa dari kegagalan keduanya. Menandai yang ambigu tanpa mendorongnya. Terlihat ketika kejujuran menuntut, diam ketika kesombongan yang menuntut. Rendah hati atas batas tangannya sendiri.
Ia belum tahu bagaimana membawanya ke ruang majelis. Ia hanya tahu, untuk pertama kalinya sejak Damar, bahwa ia tak lagi mencari izin dari siapa pun untuk cara ia berdiri. Lampu ia matikan. Di luar, kota tetap bersuara. Di dalam, untuk sekali ini, sunyi itu terasa seperti awal, bukan batu.