Tangannya masih ingat cara gemetar itu, bahkan tiga hari setelah sesi di ruang medis usai. Bukan gemetar yang tampak—orang lain takkan menangkapnya—tapi Gayatri tahu di mana ia bersembunyi: di sendi jari saat ia membentuk klasifikator, sepersekian jeda yang dulu tak pernah ada. Ia mencuci gelas pagi itu dan gelas itu nyaris lepas. Ia meletakkannya, menatap punggung tangannya sendiri seperti menatap alat yang tak lagi ia percayai.
Bagas yang pertama menyebutnya, tanpa kata. Malam sebelumnya mereka duduk di ruang tengah, dan Gayatri mengisyaratkan sesuatu tentang belanja—kalimat sederhana, urusan telur dan minyak. Adiknya menangkap tangannya di udara, menahannya sebentar, lalu mengetuk dadanya sendiri dua kali. *Kamu di mana?* Bukan pertanyaan tentang tempat. Gayatri menarik tangannya, tersenyum, mengisyaratkan *capek saja*. Bagas tidak percaya. Ia tidak mendesak, tapi tidak percaya, dan diamnya itu mengikuti Gayatri sampai ke tempat tidur.
Ia tak bisa menceritakan apa pun pada Bagas. Itu inti persoalannya. Rahasia tentang Damar duduk di antara mereka seperti kaca, dan setiap kali ia hendak bicara, ia melihat wajah adiknya di balik kaca itu dan berhenti.
Maka ia mencari yang lain.
Nomor itu sudah lama ada di ponselnya—selebaran yang dibagikan asosiasi bertahun lalu, kelompok supervisi untuk juru bahasa, yang dulu ia lewati dengan pikiran bahwa itu untuk orang yang belum kuat. Ia mengetik pesan tiga kali dan menghapusnya tiga kali sebelum akhirnya menekan kirim. Balasannya datang cepat dan biasa saja, tanpa iba: *Rabu malam, ruang belakang, boleh datang mendengarkan dulu.*
Ruang itu tak seperti yang ia bayangkan. Bukan lingkaran kursi lipat dan lampu murung, melainkan bekas ruang rapat sebuah yayasan, dinding dilapisi poster daur ulang, teko air panas yang mendesis di sudut. Enam orang. Ia mengenali dua—juru bahasa medis yang pernah berbagi sif dengannya di rumah sakit, dan seorang lelaki tua yang biasa menerjemahkan khotbah Jumat. Sisanya asing. Tak ada yang bertanya kasus apa. Itu aturannya, kata perempuan yang memandu, bernama Diah: mereka tidak membicarakan isi, hanya bekas yang ditinggalkan isi.
Gayatri duduk di kursi paling luar dan berniat hanya mendengar.
Seorang perempuan muda bercerita tentang sesi di ruang gawat darurat yang tak bisa ia lupakan, bagaimana ia pulang dan mendengar suara pasien itu di kamar mandinya sendiri selama seminggu. Lelaki tua bicara tentang pemakaman yang ia terjemahkan, dan bagaimana tangannya menyampaikan kabar kematian pada seorang ibu, dan bagaimana sejak itu ia tak sanggup mengisyaratkan kata tertentu tanpa merasa ikut membunuh. Tak ada yang menghibur. Mereka hanya mengangguk, dan anggukan itu—Gayatri baru menyadarinya—adalah sesuatu yang tak pernah ia terima dari siapa pun. Pengakuan bahwa membawa kata-kata orang lain punya berat, dan berat itu nyata, dan tak memalukan mengukurnya.
Diah menoleh padanya menjelang akhir. Tidak memaksa. "Yang baru boleh diam saja," katanya. "Tapi kalau ada satu kalimat, satu saja, kadang lebih ringan setelahnya."
Gayatri membuka mulut dan tak ada yang keluar. Ia merasa lehernya menyempit, cara yang sama saat ia menahan tangis di depan orang yang tak boleh tahu. Ia memikirkan Rani, yang akan bilang bahwa membawa perasaan ke dalam pekerjaan adalah awal dari kehilangan netralitas. Ia memikirkan berkas Damar, ambiguitas yang tak bisa ia sebut di ruangan ini tanpa menyeret nama seseorang.
"Saya menerjemahkan sesuatu," katanya akhirnya, dan suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, "dan saya tidak yakin saya menyampaikannya dengan benar."
Ia berhenti. Tak ada yang menuntut lanjutan. Diah tidak mencondongkan badan seperti hendak menangkap rahasia.
"Dan sekarang tangan saya gemetar kalau saya mengisyarat," Gayatri melanjutkan, lebih pelan. "Saya kira saya bisa menahannya sendiri. Saya selalu bisa. Itu—itu pekerjaan saya, menahan. Menjadi saluran yang tidak menetes ke mana-mana." Ia menatap tangannya lagi. "Ternyata tidak bisa. Saya tidak bisa menanggung ini sendirian."
Kalimat itu keluar dan tidak ada yang runtuh. Langit-langit tetap di tempatnya. Teko masih mendesis. Tapi sesuatu di dadanya, batu yang sudah berminggu-minggu ia telan, bergeser—hanya sedikit, hanya cukup untuk membuatnya sadar seberapa lama ia menahan napas.
Perempuan muda tadi mengangguk. Lelaki tua itu berkata, tanpa menoleh, "Kami semua kira begitu, di awal. Bahwa profesional artinya sendirian." Ia menuang air ke gelasnya. "Itu bukan profesional. Itu cuma sepi."
Setelah pertemuan, Diah menahannya sebentar di dekat pintu. Menyodorkan secarik kertas dengan nama seorang psikolog yang biasa menangani pekerja layanan—terapi, bukan sekadar kelompok. "Yang di sini untuk saling menahan," kata Diah. "Tapi ada yang perlu ruang yang lebih tertutup. Kalau ada yang tidak bisa kamu ceritakan bahkan di sini." Ia tidak bertanya apa. Ia hanya tahu, cara orang yang sudah lama membaca wajah, bahwa ada yang Gayatri simpan lebih dalam dari yang ia ucapkan.
Gayatri menerima kertas itu. Melipatnya. Memasukkannya ke saku dekat dada, tempat ponsel biasa ia simpan, tempat rahasia tentang Damar juga tinggal.
Di jalan pulang, ia tidak merasa sembuh. Ia tahu itu bukan cara kerjanya. Kasus itu masih di sana, sidang yang akan datang masih di sana, dan besok tangannya mungkin gemetar lagi di depan orang yang butuh ia terjemahkan dengan sempurna. Tapi untuk pertama kalinya sejak rekaman itu mulai berputar di kepalanya, ada satu tempat di dunia yang tahu bahwa ia sedang menanggung sesuatu, meski tak tahu apa. Ia menelepon nomor di kertas itu keesokan paginya, sebelum keberaniannya menguap, dan menyebut janji temu, dan meletakkan ponsel dengan tangan yang—ia perhatikan—hampir tidak gemetar.