Ia terbangun pukul tiga, dan untuk beberapa detik yang panjang tangannya masih bergerak sendiri di udara gelap. Jari-jari itu membentuk sesuatu—sebuah klasifikator, bidang datar yang menekan ke bawah—sebelum otaknya menyusul dan menghentikannya. Gayatri menarik kedua tangannya ke dada, menahannya seperti menahan dua ekor burung yang panik. Dalam mimpi tadi ia ada di ruang keterangan lagi, tapi kali ini Damar mengisyaratkan sesuatu yang tak bisa ia baca, sudut-sudut ruang yang berputar terlalu cepat, dan mulutnya sendiri mengeluarkan kalimat-kalimat yang bukan miliknya, bukan milik siapa pun, kalimat yang jatuh ke atas meja majelis seperti vonis.
Ia tidak tidur lagi. Ia duduk di tepi ranjang sampai jendela berubah kelabu, lalu abu-abu susu, lalu putih. Kopi pertama terasa hambar. Kopi kedua juga.
Penugasan hari itu sederhana, atau seharusnya sederhana. Sesi konseling di sebuah klinik untuk seorang perempuan Tuli muda yang hendak pindah kerja. Bukan hukum, bukan polisi, tidak ada yang dipertaruhkan selain jadwal wawancara dan sepucuk surat rekomendasi. Gayatri sudah menjembatani ratusan sesi seperti ini. Tubuhnya tahu jalannya sebelum pikirannya memerintah.
Tapi ketika ia mulai mengisyarat, tangannya bergetar.
Getaran halus mula-mula, seperti kedinginan. Ia kira ruangan itu memang dingin. Ia mempercepat, menyembunyikannya dalam ritme, membiarkan gerak menutupi gerak. Perempuan muda di hadapannya—namanya Prita—mengernyit sedikit, lalu mengisyaratkan pelan: *Kamu baik-baik saja?* Bukan pertanyaan sopan. Pertanyaan yang tulus, dari orang yang membaca tangan seumur hidupnya dan tahu bahwa tangan tidak bisa berbohong seperti wajah.
*Baik,* jawab Gayatri. *Lanjutkan.*
Ia berhasil menuntaskan sesi itu. Konselor bicara, Gayatri mengalihkan, Prita menjawab, Gayatri mengalihkan balik. Register terjaga, netralitas terjaga, semuanya di tempatnya. Tapi ada momen di tengah—konselor menjelaskan soal kontrak, dan Gayatri harus membentuk klasifikator untuk 'dokumen yang berpindah tangan'—dan pada momen itu jarinya kaku, ragu, seolah lupa bentuk yang sudah ia buat ribuan kali. Ia menutupinya dengan jeda, dengan tarikan napas yang ia pura-purakan sebagai penekanan. Prita menangkap maksudnya. Tapi Gayatri tahu. Ia tahu tangannya baru saja tersandung pada sesuatu yang tak terlihat.
Di sela sesi, saat konselor keluar mengambil berkas, Gayatri duduk sendiri di ruang tunggu. Dan datanglah hal yang lain itu. Mati rasa. Seolah seseorang menuangkan air dingin yang tak terasa dingin ke sepanjang lengannya, dan tiba-tiba tangannya bukan lagi miliknya, hanya benda yang menempel di ujung bahu. Ia menatapnya. Ia menyuruhnya bergerak dan ia bergerak, membuka, menutup, tapi jaraknya terasa jauh, seperti menonton tangan orang lain lewat kaca. Ia pernah membaca tentang ini di modul supervisi yang dulu ia lewati dengan cepat karena merasa tak perlu. *Vikarius.* Kata yang waktu itu terdengar akademis, sekarang duduk di lengannya sendiri.
Ia menekan telapak tangannya ke paha, keras, sampai terasa. Sampai terasa apa saja.
Pulang, ia tidak langsung ke apartemen. Ia mampir ke rumah, ke tempat Bagas, karena entah bagaimana kakinya membawanya ke sana. Adiknya sedang di dapur, mengeringkan gelas, dan wajahnya cerah melihat Gayatri di ambang pintu. Tangan Bagas langsung bergerak, luwes, cepat, penuh—menceritakan soal pesanan yang datang untuk usahanya, soal seseorang yang lucu di komunitas, soal apa saja. Rumah Bagas selalu berisyarat, selalu penuh dengan bahasa yang bergerak.
Gayatri mengangkat tangannya untuk menjawab.
Dan tangan itu tidak mau.
Bukan gemetar kali ini, bukan mati rasa. Sesuatu yang lebih buruk: keengganan. Seolah tangannya tahu apa yang telah ia perbuat dengan tangan yang lain, di ruang yang lain, dan menolak berpura-pura semua baik-baik saja. Ia membentuk beberapa isyarat, terputus, canggung, seperti orang asing yang baru belajar. Bagas berhenti mengeringkan gelas.
*Kakak kenapa?* isyaratnya. Alisnya turun. *Tanganmu—* ia mencari kata, *—capek.*
Kata itu tepat dan tidak tepat sekaligus. Capek. Gayatri hampir tertawa, tawa yang tak sampai ke tenggorokan. Ya, tangannya capek. Capek dengan cara yang tak bisa diistirahatkan dengan tidur, karena tidur pun mengembalikannya ke ruang keterangan itu, ke sudut-sudut yang berputar.
*Iya,* jawabnya akhirnya, dan itu sejujur yang berani ia isyaratkan. *Banyak kerjaan.*
Bagas menatapnya sebentar terlalu lama. Adiknya membaca tangan seumur hidup; ia tahu ketika sebuah kalimat menyembunyikan kalimat lain di baliknya. Tapi ia tidak mendesak. Ia hanya menuangkan teh, meletakkannya di depan Gayatri, lalu duduk dan meletakkan tangannya sendiri diam di atas meja—isyarat tanpa isyarat, kehadiran yang tak menuntut apa-apa. Untuk pertama kali sepanjang hari, Gayatri merasa tangannya perlahan kembali menjadi tangannya.
Malam itu ia mencoba tidur lebih awal, dengan lampu menyala, seperti anak kecil. Tak berhasil. Setiap kali ia menutup mata, ada gerak di baliknya—sebuah orientasi telapak, sebuah arah pandang yang ia terjemahkan keliru dulu, memutar dan memutar seperti rekaman yang tak bisa ia hentikan. Ia bangun, menyalakan keran, dan membasuh kedua tangannya dengan air dingin yang kali ini benar-benar terasa dingin. Ia menatap tangannya di bawah lampu kamar mandi. Sepuluh jari yang sama, yang bertahun-tahun ia percaya sebagai alat yang jujur, jembatan yang bersih.
Sekarang ia menatapnya seperti menatap dua saksi yang tahu terlalu banyak.
Ia mengeringkannya pelan-pelan, satu jari demi satu jari, dan berjanji—pada siapa, ia tak yakin—bahwa besok ia akan mencari nomor supervisi yang selama ini ia simpan tapi tak pernah ia hubungi. Bukan karena ia sudah siap. Hanya karena tangannya, malam ini, dengan cara yang tak bisa ia bantah lagi, telah memberitahunya bahwa ia tidak bisa menanggung ini sendirian. Lampu ia biarkan menyala. Ia berbaring, dan menunggu pagi.