Telepon itu datang pukul enam pagi, saat kopi Gayatri belum sempat mengepul. Suara koordinator layanan terdengar datar oleh kebiasaan: ada permintaan darurat dari unit gawat darurat sebuah rumah sakit di pinggir kota, seorang perempuan Tuli, korban kekerasan, butuh juru bahasa secepatnya karena visum tidak bisa menunggu. Gayatri menuliskan alamatnya di punggung tangan, seperti dulu-dulu, dan berkata ia berangkat. Ia tidak bertanya apa-apa lagi. Bertanya terlalu banyak hanya membuat kaki menolak melangkah.
Di lorong rumah sakit yang berbau antiseptik dan keringat orang menunggu, seorang perawat menyongsongnya dengan wajah lega yang terburu-buru. Pasiennya bernama Ningsih, katanya, umur dua puluh enam, dibawa tetangga semalam. Dokter perlu menanyakan kronologi untuk visum et repertum, dan sejak subuh mereka hanya bisa saling menunjuk dan menggeleng. "Untung ada yang bisa isyarat," ujar perawat itu. Gayatri mengangguk. Kata untung terasa seperti kerikil di dalam sepatunya.
Ningsih duduk di tepi ranjang periksa, selimut hijau pucat menutup sampai pinggang. Ada plester di pelipisnya, lebam yang mulai menghijau di rahang, dan pergelangan tangan kirinya dibebat. Gayatri memperkenalkan diri dalam BISINDO — namanya, perannya, bahwa ia hanya menyampaikan, bahwa apa pun yang Ningsih isyaratkan akan dialihkannya sepersis mungkin. Mata perempuan itu, yang tadinya menatap lantai, perlahan naik. Ada pengenalan di sana, kelegaan tipis melihat tangan yang bergerak dalam bahasa yang sama. Untuk sesaat Gayatri merasa dirinya berguna, dan perasaan itu nyaris membuatnya bisa bernapas.
Dokter masuk, muda, sopan, memegang map. Ia bertanya lewat Gayatri: bisa diceritakan apa yang terjadi semalam. Gayatri mengalihkan pertanyaan itu ke tangan. Ningsih diam sebentar, lalu mulai.
Ia berisyarat pelan pada awalnya. Rumah. Pintu. Seseorang — ditandainya di ruang di sebelah kanan, tinggi, laki-laki. Dirinya sendiri ditempatkannya di kiri. Lalu tangan itu mulai bekerja dengan cara yang membuat perut Gayatri mengeras: klasifikator. Telapak yang menjadi tubuh, jari yang menjadi lengan terangkat, ruang di antara keduanya yang menjadi jarak yang menyempit. Ningsih menunjukkan bagaimana sosok di kanan itu bergerak ke arah kiri, bagaimana tangan terayun, di mana benturan mendarat. Ia tidak sekadar bercerita. Ia membangun kejadian itu kembali di udara, dengan penempatan dan arah dan peran yang presisi, cara bahasa isyarat memang menuturkan ruang.
Dan di situlah tangan Gayatri berhenti setengah jalan.
Karena ia tahu, terlalu tahu sekarang, betapa banyak yang bergantung pada bagaimana ia mengucapkan ini. Sosok di kanan yang bergerak — apakah ia berkata "ia memukul saya" atau "tangan itu terayun ke arah saya"? Klasifikator yang sama, dua kalimat yang berbeda bobotnya di atas kertas visum, di dalam berkas yang barangkali kelak dibaca orang berjubah. Ia melihat lengan Damar terangkat lagi di ruang keterangan yang lain, di bulan yang lain, isyarat ruang yang ia rapikan jadi kalimat berniat. Ia melihat dirinya sendiri dulu, secekatan mesin, merender tanpa ragu.
"Mbak?" Dokter itu menunggu. Ningsih menunggu, tangannya masih menggantung di udara pada bentuk terakhir yang ia buat.
Gayatri menelan sesuatu yang kering. Ia menyampaikan apa yang ia lihat, sepersis yang ia bisa, dan menandai — untuk dokter — bahwa yang perempuan ini tunjukkan adalah arah gerakan dan letak, bukan kata-kata jadi. Suaranya keluar lebih rendah dari biasanya. Dokter mengangguk, mencatat, tak menyadari apa-apa. Bagi lelaki itu ini hanya sesi yang lebih lambat dari perkiraan.
Ningsih melanjutkan. Ada bagian yang lebih pelan, lebih dalam ke tubuh isyaratnya — bagaimana ia menutup diri, bagaimana ruang di sekelilingnya mengecil. Gayatri mengikuti, mengalihkan, tetapi tangannya sendiri mulai terasa asing. Jari-jarinya, yang telah dua belas tahun ia percayai, gemetar tipis saat membentuk sesuatu. Ia mengepalkannya sebentar di paha, di bawah pandang, lalu membukanya lagi. Ruangan terasa menyempit sebagaimana ruang yang ditunjukkan Ningsih tadi. Bau antiseptik menebal. Ia mendengar detak jam dinding yang tak seharusnya ia dengar sejelas itu.
Ada jeda ketika Ningsih berhenti, menunduk, bahunya berguncang tanpa suara. Perawat bergerak memberi tisu. Dokter menunggu dengan sabar yang terlatih. Dan Gayatri, yang tugasnya hanya berdiri di antara, mendapati matanya sendiri memanas dengan cara yang dilarang kode etik. Juru bahasa tidak menangis untuk kliennya. Juru bahasa adalah kaca. Rani pernah mengatakannya begitu, dan dulu ia percaya. Sekarang kaca itu retak halus, dan ia harus menahan seluruh tubuhnya agar tak roboh menembusnya.
Ia meminta izin sebentar, sesuatu yang jarang sekali ia lakukan. "Sesi bisa dijeda dua menit?" katanya pada dokter, dan pada Ningsih ia mengisyaratkan bahwa ia hanya perlu ambil air, bahwa ia akan kembali, bahwa perempuan itu tidak sedang ditinggalkan. Ningsih mengangguk, dan tatapan percayanya justru yang paling sukar ditanggung.
Di lorong, Gayatri bersandar ke dinding keramik yang dingin. Ia menghitung napas seperti yang diajarkan entah oleh siapa, satu, dua, tiga, tetapi hitungan itu terus terlepas dari genggamannya. Bayangan lengan terayun — Ningsih, Damar, keduanya menumpuk — tidak mau pergi. Tangannya masih bergetar bila ia angkat. Ia menatapnya seolah menatap milik orang lain.
Ia kembali. Tentu ia kembali; perempuan di dalam sana belum selesai bercerita, dan tak ada orang lain yang bisa menjadi jembatan pagi itu. Gayatri menuntaskan sesi sampai dokter menutup mapnya dan berterima kasih. Ia mengucap selamat pada Ningsih dengan tangan yang ia paksa tenang, dan berjanji layanan akan mengirim juru bahasa lagi bila diperlukan. Perempuan itu menggenggam pergelangannya sebentar, ucapan terima kasih yang tak butuh diterjemahkan.
Di parkiran, di dalam mobil yang belum ia nyalakan, Gayatri duduk memandang dua tangannya di atas kemudi. Sesi itu selesai. Ia menyelesaikannya. Tetapi ia tahu, dengan kepastian yang menakutkan, bahwa ia nyaris tidak. Bahwa lain kali barangkali ia tak akan sanggup berdiri di lorong itu dan kembali. Sesuatu di dalam dirinya yang selama ini menahan beban telah bergeser semalam, tanpa izin, dan tidak akan kembali ke tempatnya semula.