Sekar membuka pintu sebelum Gayatri sempat mengetuk kedua kalinya. Itu kebiasaan lama — telapak kaki Sekar mengenali getar langkah di lantai papan rumah petak itu jauh sebelum tamu tiba. Dulu Gayatri menganggapnya keakraban, semacam bahasa yang hanya mereka berdua tahu. Sore ini ia menganggapnya sesuatu yang lain: Sekar tahu siapa yang datang, dan tetap membuka pintu, dan barangkali itu sudah lebih dari yang pantas ia minta.
Mereka duduk di lantai, di tikar yang sudah mereka duduki entah berapa ratus kali. Sekar menuang teh dari teko kaleng ke dua gelas belimbing. Uapnya naik tipis di antara mereka. Tangan Sekar, yang biasanya bicara sederas air, kini bergerak seperlunya saja: menawarkan gula, menunjuk piring pisang goreng yang masih hangat. Sopan. Terlalu sopan. Gayatri mengenali sopan yang seperti ini. Ia sendiri memakainya pada orang yang belum ia percayai.
Kamu kurus, isyarat Sekar akhirnya, matanya menyapu wajah Gayatri. Tidak tidur?
Gayatri menggerakkan tangan setengah hati. Kerjaan.
Sekar mengangguk pelan, tapi tidak melanjutkan basa-basi. Ia menaruh gelasnya. Lalu, dengan ketenangan yang justru membuat dada Gayatri mengencang, ia mulai — perlahan, jelas, seolah ingin memastikan tak ada satu kata pun yang bisa disalahartikan, karena keduanya tahu betul betapa mahal sebuah kata bisa jadi.
Waktu itu di acara arisan, isyaratnya, orang-orang cerita soal Damar. Anak Tuli yang dihukum berat. Katanya penerjemahnya bikin dia terdengar seperti mengaku. Aku ikut marah. Aku bilang, kasihan, siapa juru bahasa ceroboh itu.
Ruang di antara mereka menegang. Sekar menunggu, membiarkan kalimat itu menggantung di udara sebelum tangannya bergerak lagi, kali ini lebih pelan.
Aku tidak tahu itu kamu.
Gayatri membuka mulut, lalu ingat mulut tak berguna di sini. Ia mengangkat tangan. Sekar, aku terikat kode etik. Aku tidak boleh cerita soal kasus yang sedang berjalan. Aku tidak menyembunyikan untuk—
Untuk apa? potong Sekar, dan tangannya berhenti di udara, menuntut.
Gayatri tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia menurunkan tangan ke pangkuan. Alasan itu benar. Setiap katanya benar. Rani akan menepuk bahunya dan berkata itulah tepatnya yang harus dijawab. Tapi di ruangan sempit yang berbau teh dan minyak goreng ini, di depan perempuan yang pernah menungguinya semalaman waktu Bagas dirawat, kebenaran itu terdengar seperti pintu yang ditutup pelan-pelan di depan wajah seseorang.
Aku tahu kamu tidak sengaja, isyarat Sekar. Wajahnya tidak marah. Itu yang paling berat. Andai ia marah, Gayatri bisa berpegang pada kemarahan itu, bisa membalas, bisa menjelaskan. Tapi Sekar cuma tampak lelah, seperti orang yang baru menemukan retak halus di gelas yang sudah lama ia sayang. Aku tahu kamu bukan orang jahat. Aku kenal kamu belasan tahun. Kamu belajar isyarat karena Bagas. Kamu duduk di lantai kayak sekarang, ikut nangis waktu ibuku meninggal.
Ia menarik napas — Gayatri melihatnya, gerak bahu yang naik lalu turun.
Tapi sekarang, kalau kamu duduk di ruangan itu, menerjemahkan salah satu dari kami, isyarat Sekar, dan tangannya menunjuk ke dadanya sendiri, lalu ke arah pintu, ke dunia di luar sana yang penuh orang-orang seperti Damar — aku tidak bisa lagi merasa aman cuma karena itu kamu. Dulu aku merasa aman. Sekarang tidak.
Gayatri menelan sesuatu yang pahit. Ia ingin bilang bahwa ia sedang berusaha memperbaikinya, bahwa ada Pram, ada berkas yang ia telaah ulang sampai matanya perih, bahwa ia mungkin akan bersaksi dan kehilangan segalanya. Ia ingin sekali menaruh itu semua di atas tikar sebagai bukti bahwa ia layak dipercaya. Tapi ia tidak bisa. Sebagian karena kode etik. Sebagian karena — ia sadar dengan ngilu — menyodorkan pengorbanannya sendiri di sini justru akan membalik meja: mengubah Sekar dari orang yang terluka menjadi orang yang harus menghibur. Dan Sekar tidak berutang penghiburan apa pun padanya.
Jadi ia hanya bertanya, dengan tangan yang terasa asing bagi tangannya sendiri: Kita masih—
Ia tidak tahu bagaimana menutup isyarat itu. Sahabat. Kata itu menggantung.
Sekar memandanginya lama. Di luar, seorang tukang bakso memukul mangkuk, bunyi yang tak pernah masuk ke dunia perempuan di depannya, dan untuk sekejap Gayatri merasa betapa ia selalu berada di ambang dua ruang, tak pernah sepenuhnya di dalam salah satunya. Sekutu-orang-dalam, begitu orang menyebutnya. Sore ini kata itu terasa seperti pinjaman yang jatuh tempo.
Aku tidak tahu, jawab Sekar akhirnya. Bukan tidak. Bukan iya. Aku tidak mau bohong sama kamu dan bilang semua baik-baik saja. Kamu selalu tahu kalau aku bohong.
Betul. Gayatri selalu tahu. Itulah yang menjadikan mereka mereka.
Aku butuh waktu, isyarat Sekar. Tangannya bergerak lambat, seakan setiap kata harus ia timbang dulu di telapak sebelum dilepas. Aku tidak mengusir kamu. Kamu tetap boleh datang. Tapi aku belum bisa janji apa-apa soal—
Ia menyentuh dadanya lagi. Yang ini.
Gayatri mengangguk. Ia tidak menawar. Menawar hanya akan mengubah permintaan maaf menjadi tawar-menawar, dan ia sudah cukup mengubah makna orang lain untuk seumur hidupnya.
Ia menghabiskan tehnya karena membiarkannya dingin akan terasa seperti penghinaan kecil pada tuan rumah yang masih mau menuangkannya. Mereka duduk beberapa menit lagi tanpa isyarat, dan anehnya keheningan itu tidak sepenuhnya buruk — hanya belum utuh, seperti tulang yang retak dan tahu bahwa menyambung akan makan waktu, kalau memang bisa.
Di ambang pintu, Sekar menyentuh lengannya sebentar. Bukan pelukan. Bukan pula lambaian dingin. Cuma sentuhan, cukup untuk mengatakan aku belum melepasmu, tapi juga aku belum menggenggammu lagi.
Gayatri melangkah keluar ke jalan yang mulai jingga. Getar langkahnya menjauh dari papan lantai itu, dan ia tahu, di dalam sana, Sekar merasakannya pergi — mengukur jarak lewat lantai, seperti selalu. Ia tidak menoleh. Ada hal-hal yang tidak boleh salah diterjemahkan, dan sore ini ia memilih membiarkan keheningan itu berarti persis seperti adanya: belum selesai, belum putus, hanya retak, dan digantung begitu saja di udara di antara mereka berdua.