Berkas itu datang lewat Wulan, dikirim dalam map cokelat tanpa nama, seolah benda yang tak seorang pun ingin mengakui pernah memegangnya. Gayatri membukanya di meja dapur, larut, ketika Bagas sudah tidur dan rumah tinggal berisi dengung lemari es. Nama di sampul bukan Damar. Seorang perempuan Tuli, Marni, tiga tahun lalu, sebuah kota kecil di timur provinsi. Kasus pencurian yang tak pernah ia dengar, di ruang yang tak pernah ia masuki, ditangani orang yang tak ia kenal.
Ia membaca perlahan. Bukan karena sulit, tapi karena ada sesuatu yang mulai terasa akrab dengan cara yang salah.
Dalam berita acara, Marni disebut "mengakui mengambil". Keterangannya direkam tanpa juru bahasa isyarat Tuli. Yang hadir hanya seorang guru SLB yang, menurut catatan, "mampu berkomunikasi dengan tersangka". Gayatri berhenti di kata itu. Mampu berkomunikasi. Ia tahu betapa longgarnya kalimat semacam itu, betapa banyak yang bisa runtuh di bawahnya. Guru SLB kerap memakai isyarat yang mengikuti tata bahasa lisan, bukan BISINDO yang hidup di tangan orang Tuli sendiri. Dua hal itu bisa terlihat mirip bagi mata yang tak terlatih, dan sama sekali berbeda bagi yang memakainya.
Ia meraih ponsel, memotret satu halaman, lalu meletakkannya kembali. Tangannya berhenti di udara. Ia tak boleh menyebarkan ini. Ia bahkan tak yakin boleh membacanya.
Yang membuat perutnya dingin bukan detail kasus Marni. Melainkan pola kalimatnya. "Mengakui." "Menyatakan dengan sadar." "Tersangka membenarkan." Frasa-frasa yang rapi, tegas, tanpa celah — persis seperti frasa yang dulu ia sendiri ucapkan di ruang keterangan Damar. Bahasa hukum menuntut ketegasan; ia memberi ketegasan. Tapi isyarat ruang tak pernah setegas itu. Klasifikator yang menunjukkan bagaimana sebuah benda dipegang, ke arah mana tubuh bergerak, di titik mana seseorang berdiri — semua itu ambigu di akarnya, dan ambiguitas itu selalu diratakan menjadi kalimat yang gamblang begitu masuk ke kertas.
Bukan tanganku saja, pikirnya. Bukan ruang keterangan Damar saja.
Esoknya ia menemui Wulan di sebuah warung kopi yang jauh dari mana pun mereka biasa dikenali. Wulan datang membawa laptop dan wajah orang yang sudah lama tak tidur nyenyak.
"Marni bukan satu-satunya," kata Wulan, membuka layar. Ia menggeser beberapa dokumen. "Aku kumpulkan yang bisa kudapat. Tidak banyak, karena tidak ada yang mencatat ini sebagai masalah. Tapi lihat."
Gayatri melihat. Sebuah kasus di Sumatra, saksi Tuli yang keterangannya dipakai memberatkan orang lain, tanpa juru bahasa tersertifikasi. Sebuah kasus lalu lintas, pengendara Tuli yang dianggap "tidak kooperatif" karena tak menjawab pertanyaan yang memang tak pernah sampai kepadanya. Sebuah perkara di ruang mediasi, hampir seperti yang pernah Gayatri tangani sendiri.
"Tidak ada CDI di satu pun," kata Wulan. Suaranya rendah, tapi ada nyala di baliknya. "Tidak ada. Kadang tidak ada juru bahasa sama sekali. Kadang ada, tapi bukan yang paham isyarat ruang. Dan tidak ada satu prosedur pun yang memaksa mereka menghadirkannya. Semua bergantung pada apakah petugas hari itu kebetulan peduli."
Gayatri menatap layar tanpa benar-benar membacanya lagi. Ia merasa seperti orang yang selama ini mengira dirinya berdiri di lubang yang ia gali sendiri, lalu tiba-tiba menyadari lubang itu sudah ada di sana jauh sebelum ia lahir, dan ia hanya kebetulan jatuh ke dalamnya sambil membawa cangkul.
"Aku pikir aku yang keliru," katanya pelan. "Aku pikir kalau aku lebih cermat malam itu, lebih hati-hati memilih kata—"
"Kau memang bisa lebih hati-hati." Wulan tak melunakkannya. Itu salah satu hal yang Gayatri diam-diam hormati darinya. "Tapi lihat ini, Ga. Kalau bukan kau di ruang Damar, akan ada orang lain, dengan pelatihan yang sama, di bawah tekanan yang sama, tanpa CDI di sampingnya, membuat kalimat yang sama tegasnya. Kau bukan sebab. Kau gejala."
Kata itu — gejala — mendarat aneh. Seharusnya melegakan. Kalau ini penyakit sistem, maka rasa bersalahnya lebih ringan, bukan? Tapi yang ia rasakan justru sebaliknya. Selama ini bebannya berbentuk satu orang: Damar, satu wajah, satu malam, satu terjemahan yang bisa ia bayangkan diperbaiki. Sekarang bebannya kehilangan bentuk. Ia meluber ke belakang, ke kasus-kasus yang tak akan pernah ditinjau, ke Marni yang mungkin masih menjalani sesuatu yang tak seorang pun akan koreksi, ke nama-nama yang bahkan tak masuk ke map cokelat mana pun.
"Kalau ini pola," ia berkata, lebih kepada dirinya sendiri, "maka membetulkan kasus Damar tidak membetulkan apa-apa."
"Membetulkan satu orang," kata Wulan. "Itu bukan apa-apa yang kecil."
Gayatri tak menjawab. Di luar jendela, seorang pengantar makanan menepi, menatap ponselnya, mengetuk pintu rumah yang salah, lalu pergi ke pintu sebelah tanpa pernah tahu ia hampir keliru. Segalanya begitu mudah keliru, pikirnya, kalau tak ada yang memasang rambu.
"Aku belum bisa membawa ini ke mana-mana," kata Gayatri akhirnya, menutup laptop dengan lembut, seolah takut membangunkan sesuatu. "Kasus Damar saja belum jelas ujungnya. Kalau aku bicara pola sekarang, mereka akan bilang aku mencari pembenaran. Bahwa aku mengubah kesalahanku jadi kampanye supaya tak perlu menanggungnya sendirian."
"Sebagian orang memang akan bilang begitu."
"Kau termasuk?"
Wulan diam sejenak. "Tidak," katanya. "Tapi aku bukan orang yang perlu kau yakinkan."
Malam itu Gayatri tak menyimpan map cokelat di lemari berkas kantornya. Ia menaruhnya di rak paling atas kamar, di balik kotak foto lama, di tempat Bagas tak akan iseng membukanya. Bukan karena ia takut adiknya membaca. Melainkan karena ia belum tahu ia sedang menyimpan apa — bukti, beban, atau awal dari sesuatu yang tak bisa lagi ia pura-pura tak lihat. Ia mematikan lampu. Dalam gelap, kalimat-kalimat tegas dari berkas orang lain masih berputar di kepalanya, sama tegasnya, sama kelirunya, ditulis oleh tangan yang bukan tangannya, di ruang yang bukan ruangnya. Ia bukan satu kecelakaan. Ia satu titik dalam garis panjang yang belum ada seorang pun repot menariknya.