Acara arisan komunitas itu digelar di aula serbaguna yang biasa mereka pinjam sebulan sekali, ruangan dengan lantai keramik dingin dan kipas angin yang berputar malas di langit-langit. Gayatri datang seperti biasa, membawa dua toples kue kering yang ia buat semalam bersama Bagas, dan untuk sepersekian detik ia lupa. Ia lupa bahwa segalanya sudah bergeser. Kakinya melangkah masuk dengan ringan, tangannya sudah setengah terangkat untuk menyapa, dan tubuhnya menyimpan ingatan lama tentang bagaimana rasanya pulang.
Lalu ia melihatnya.
Bukan sesuatu yang kasar. Tidak ada yang berteriak, tidak ada yang menunjuk. Justru kehalusannya yang membuat dadanya turun perlahan seperti lift yang talinya dikendurkan. Serombongan ibu-ibu di dekat meja minuman, yang biasanya langsung memanggilnya dengan lambaian lebar dan wajah terbuka, kini menoleh sekilas lalu kembali pada percakapan mereka. Tangan-tangan mereka tetap bergerak, cepat dan rapat, tapi bahu mereka sedikit memutar. Menutup. Isyarat ruang yang paling Gayatri pahami di seluruh dunia ini justru sedang dipakai untuk memberitahunya bahwa ia berada di luar lingkaran.
Ia meletakkan toples di meja panjang tempat makanan dikumpulkan. Seseorang telah menata piring-piring plastik dengan rapi. Ia menaruh kuenya di ujung, agak terpisah dari hidangan lain, dan menyadari ia sendiri yang memilih ujung itu.
Sekar ada di seberang ruangan. Mereka bertemu pandang. Dulu pandangan itu berarti seribu hal sekaligus — lelucon yang tak perlu diucapkan, keluhan tentang suami orang, undangan untuk duduk berdempet. Kini Sekar hanya menahannya sebentar, tidak keras, tidak pula memaafkan, lalu mengalihkan wajah ke arah anaknya yang sedang berlari. Bukan penolakan yang tegas. Sesuatu yang lebih sulit ditanggung: kesopanan. Sekar memperlakukannya sopan, seperti kepada tamu.
Gayatri mencoba mengisyaratkan sesuatu pada seorang bapak yang dulu selalu menggodanya soal kapan menyusul Bagas belajar isyarat sejak bayi. Ia bertanya, sederhana, apakah acara pengumpulan dana jadi diadakan minggu depan. Bapak itu menjawab dengan isyarat yang benar, lengkap, tapi pendek. Jarinya tidak melebar seperti biasa, tidak ada wajah yang ikut bercerita. Register-nya berubah. Ia berbicara padanya seperti pada petugas dinas sosial. Gayatri mengangguk dan mengucapkan terima kasih, dan tangannya sendiri terasa asing saat membentuk kata itu.
Ia tahu apa yang sedang terjadi. Ia bahkan bisa menamainya, seolah sedang mencatat untuk laporan: penarikan afiliasi, pergeseran register, batas komunitas yang ditegakkan tanpa kata. Selama bertahun-tahun ia bangga menjadi orang dengar yang diterima di ruang ini bukan karena belas kasihan, melainkan karena ia mengerti. Ia paham kapan harus diam, kapan tangannya boleh ikut tertawa, kapan sebuah lelucon hanya milik mereka dan bukan miliknya. Status itu tidak pernah diberikan cuma-cuma; ia menabungnya sesendok demi sesendok, lewat Bagas, lewat Sekar, lewat ratusan sore seperti ini. Dan kini ia menyaksikan tabungan itu ditarik, bukan dirampas, hanya perlahan tak lagi diakui sebagai miliknya.
Bagas berdiri tak jauh, di antara dua kelompok, dan Gayatri melihat betapa kakunya bahu adiknya. Bagas menangkap tatapannya dan tersenyum kecil, senyum yang ingin meyakinkan tapi tak sanggup. Ada anak muda di sebelah Bagas yang berbicara cepat, sesekali melirik ke arah Gayatri, lalu berhenti begitu tahu ia diperhatikan. Gayatri tidak perlu membaca setiap katanya untuk tahu subjeknya. Nama Damar tidak diisyaratkan gamblang, tapi ada bentuk tangan tertentu, ada arah pandang yang menoleh padanya, ada cara orang menutup percakapan begitu ia mendekat. Ia menjadi kalimat yang berhenti di tengah begitu ia masuk ruangan.
Ia mengambil segelas teh manis dan berdiri di dekat dinding. Dari sana ia bisa melihat seluruh aula bergerak dalam bahasa yang ia cintai. Tangan-tangan melintas di udara, wajah-wajah bercerita, tawa yang tak bersuara mengguncang beberapa bahu sekaligus. Keindahan itu tidak berkurang sedikit pun. Justru itu yang menyakitkan. Ruangan ini tetap hangat; hanya saja kehangatannya kini mengalir mengelilinginya, seperti air yang membelah batu, tak lagi menyentuhnya di tengah.
Seorang perempuan tua yang ia hormati, salah satu tetua yang jarang bicara, melintas di dekatnya menuju kursi. Gayatri menunduk hormat dan menyapa dengan isyarat yang paling sopan yang ia tahu. Perempuan itu berhenti. Menatapnya lama. Tangannya bergerak, pelan, agar Gayatri tak mungkin salah baca: Kami dengar kamu ada di ruang itu. Bukan pertanyaan. Bukan tuduhan. Sebuah pernyataan yang meletakkan sesuatu di antara mereka dan membiarkannya tergeletak. Gayatri membuka tangannya untuk menjawab, dan tak menemukan isyarat yang cukup jujur sekaligus cukup aman. Ia menutupnya kembali. Perempuan itu mengangguk sekali, seolah ketiadaan jawaban itu sudah jawaban, lalu berjalan ke kursinya.
Gayatri tidak menangis. Ia sudah lewat dari usia dan keadaan di mana air mata datang mudah. Yang ia rasakan lebih mirip dingin yang naik dari lantai keramik, menembus telapak kaki, menetap di persendian. Ia memikirkan Damar di ruang tahanan, sendirian dengan kebingungannya, dan menyadari betapa serupanya. Terkucil di tengah keramaian yang seharusnya jadi rumah.
Ia bertahan sampai acara utama selesai, karena pergi terlalu cepat akan menjadi cerita tersendiri, dan ia tak mau menambah bahan. Ia membantu membereskan gelas, seperti selalu, tapi kali ini tak ada yang menyerahkan tumpukan piring ke tangannya sambil mengeluh santai. Ia mengerjakannya sendiri, di sudut, dan pekerjaan itu terasa seperti izin tinggal yang tersisa.
Saat pulang, Bagas berjalan di sampingnya di trotoar yang mulai gelap. Adiknya tidak mengisyaratkan apa-apa untuk waktu yang lama, dan Gayatri bersyukur untuk diam itu. Lampu jalan menyala satu per satu. Toples kuenya kembali penuh; hampir tak ada yang mengambil. Ia mendekapnya di dada seperti sesuatu yang tak tahu harus ditaruh di mana.
Di persimpangan, Bagas akhirnya berhenti dan menghadapnya. Tangannya terangkat, ragu, lalu membentuk satu kalimat pendek: Kamu masih kakakku. Gayatri menatap kata-kata itu menggantung di udara malam, dan menyadari bahwa Bagas mengisyaratkan kakak, bukan orang dalam, bukan bagian dari kami. Batasnya sudah dipilih untuknya. Yang tersisa hanya ikatan darah — nyata, teguh, tapi lebih kecil dari dunia yang tadi ia tinggalkan di dalam aula. Ia mengangguk, dan membalas dengan tangannya yang dingin, iya, dan mereka berjalan pulang.