Bagas datang tanpa mengetuk. Ia tak pernah mengetuk; sejak kecil ia hanya menyalakan dan memadamkan lampu teras dua kali, kode lama yang berarti ini aku, buka. Malam itu lampu berkedip tiga kali, dan Gayatri tahu sebelum membuka pintu bahwa ada yang tak beres. Adiknya tak pernah salah hitung.
Bagas masuk membawa udara jalanan di jaketnya, bau hujan yang belum turun. Ia tak langsung duduk. Berdiri di tengah ruang, memandangi rak buku Gayatri seolah baru pertama melihatnya, padahal rak itu sudah di situ bertahun-tahun. Gayatri menyentuh lengannya supaya adiknya menoleh, lalu mengangkat kedua alis: pertanyaan tanpa kata. Ada apa.
Tangan Bagas terangkat, ragu. Ia memulai sebuah isyarat, membatalkannya di tengah, menurunkannya lagi. Gayatri belum pernah melihat adiknya kehilangan bahasa. Bagas yang di panggung komunitas bisa bercerita selama sepuluh menit tanpa jeda, membuat seluruh ruangan tergelak hanya dengan gerak bahu dan mata. Bagas yang ini seperti orang yang lupa jalan pulang.
Duduk dulu, isyarat Gayatri. Ia menuang teh, meletakkan cangkir di meja, dan sengaja duduk berhadapan, cukup dekat, cahaya lampu jatuh penuh ke wajah mereka berdua supaya tak ada yang tersembunyi di bayang. Itu tata krama percakapan yang ia pelajari sebelum ia belajar apa pun tentang kode etik: beri wajahmu, beri tanganmu, beri terang.
Tadi di futsal, Bagas memulai. Isyaratnya pelan, seolah setiap kata ditimbang. Ruang di depannya ia bagi — di sebelah kanan ia menempatkan satu sosok, di kiri sosok lain, klasifikator dua orang berhadapan. Rekan-rekannya. Mereka bertanya soal Damar. Soal kasus itu.
Gayatri merasa perutnya mengeras, tapi ia menjaga wajahnya tetap terbuka, tetap mendengar dengan mata.
Mereka tahu, lanjut Bagas. Tangannya menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk ke arah Gayatri, lalu menarik garis di antara keduanya — kakak, adik, kita. Mereka tahu kau kakakku. Mereka tahu kau yang menerjemahkan.
Ia berhenti. Jakunnya bergerak. Bagas menelan sesuatu yang tak bersuara.
Ada yang bilang, tangannya bergerak lagi, lebih tajam sekarang, meniru orang lain — bahu dinaikkan, dagu dimajukan, gaya isyarat seseorang yang bukan dirinya. Kau harus pilih, Gas. Isyarat "pilih" itu ia buat dengan telunjuk dan jari tengah, dua opsi, menuding bergantian ke kiri dan kanan seperti orang menuding dua pintu. Kakakmu, atau kami. Darah, atau rumah.
Ruang di antara mereka terasa menyempit. Gayatri ingin sekali meraih tangan adiknya dan menghentikan kalimat itu, tapi menghentikan tangan orang yang sedang bicara sama saja dengan membekap mulut. Ia membiarkan Bagas selesai.
Aku bilang apa, kau tahu? Bagas menatapnya. Mata itu memerah di tepinya. Aku tidak bilang apa-apa. Aku diam. Aku berdiri di sana seperti tiang, dan mereka menunggu, dan aku tidak punya tangan untuk menjawab.
Isyarat "diam" yang ia buat bukan isyarat yang biasa — bukan telapak menutup mulut. Bagas menurunkan kedua tangannya ke pangkuan, membiarkannya mati di sana, tak bergerak. Bagi orang yang seluruh suaranya ada di tangan, itulah bentuk paling telanjang dari kebisuan. Gayatri merasa dadanya ditekan batu yang sama, batu yang sudah berminggu-minggu tinggal di sana sejak ia memutar ulang rekaman itu di kamar yang sunyi.
Maaf, tangan Gayatri bergerak sebelum ia sempat menahannya. Kata itu kecil dan tak cukup dan ia tahu.
Bagas menggeleng cepat, hampir marah. Bukan itu yang kucari darimu. Ia menarik napas lewat hidung, bahunya turun. Aku tidak datang ke sini supaya kau minta maaf. Aku datang karena rumah tidak lagi terasa seperti rumah, dan aku tidak tahu harus mengeluh ke siapa selain ke orang yang jadi sebabnya.
Kalimat itu mendarat telak. Gayatri menahannya tanpa berkedip. Ia berhak mengatakannya, pikir Gayatri. Ia berhak.
Kau tahu apa yang paling menyakitkan? Bagas melanjutkan, dan kini tangannya kembali menemukan iramanya, meski irama yang perih. Selama ini komunitas itu tempatku dimengerti tanpa harus menerjemahkan diriku. Kau tempatku pulang tanpa harus menjelaskan apa pun. Dan sekarang mereka menyuruhku memotong salah satunya. Ia mengangkat satu tangan datar, telapak menghadap bawah, lalu gerakan membelah — memotong. Seolah orang bisa dibelah dua dan tetap hidup.
Gayatri memikirkan segala hal yang bisa ia isyaratkan. Ia bisa berkata jangan pilih aku, pilih mereka, rumahmu lebih penting. Ia bisa berkata aku akan mundur, aku akan menjauh, supaya kau tak perlu memikul namaku. Tapi tiap kalimat itu, ia sadari, adalah cara halus untuk membuat dirinya merasa lebih baik dengan membebankan keputusan pada adiknya. Sama seperti di ruang keterangan dulu — memilih kata yang enak didengar dan menyebutnya netral.
Jadi ia tidak menawarkan apa-apa. Ia mengulurkan tangan, meletakkannya di atas kedua tangan Bagas yang mati di pangkuan itu, dan menahannya di sana. Bukan isyarat. Hanya sentuhan. Hangat tangan adiknya merambat ke telapaknya.
Aku tidak akan menyuruhmu memilih, akhirnya tangan Gayatri bergerak, pelan, di ruang sempit di antara wajah mereka. Dan aku tidak akan memintamu membelaku. Itu tidak adil buatmu.
Lalu apa? Mata Bagas bertanya sebelum tangannya.
Gayatri diam sejenak. Aku belum tahu, ia mengaku, dan pengakuan itu terasa seperti melepas satu simpul di dadanya, meski hanya satu. Tapi apa pun yang kupilih untuk kulakukan, itu urusanku. Bukan bebanmu. Kau tidak perlu jadi jembatan untuk ini, Gas. Sekali ini saja, kau boleh cuma jadi adikku.
Bagas menatapnya lama. Hujan yang sedari tadi menahan diri akhirnya turun, mengetuk kaca jendela, getaran halus yang bisa mereka berdua rasakan lewat lantai. Bagas tidak tersenyum. Ia hanya membalik telapaknya di bawah tangan Gayatri, menggenggam balik, dan untuk beberapa saat mereka duduk begitu — dua orang yang tak sanggup menjanjikan apa pun, di sebuah ruang yang terangnya sengaja dijaga, membiarkan hujan mengambil alih seluruh percakapan yang tak bisa lagi ditanggung tangan.