Pemeriksaan berhenti menjelang tengah malam, bukan karena selesai, tapi karena Iptu Resa harus mengurus berkas lain dan tangan Gayatri sudah mencapai batas yang ia kenal betul. Buku-buku jarinya berdenyut tumpul, otot di lengan bawahnya terasa seperti tali yang ditarik terlalu lama. Tidak ada yang mengira bahwa menerjemahkan itu kerja fisik. Mereka mengira juru bahasa cuma duduk dan bicara. Tidak ada yang menghitung berapa ribu gerakan presisi yang dituntut dari sepuluh jari dalam tiga jam.
Sebelum pulang, Aiptu Darman menyodorkan berita acara yang sudah diketik untuk diperiksa ulang. "Mbak baca dulu, ya, untuk memastikan terjemahannya pas. Nanti tanda tangan di kolom juru bahasa."
Gayatri duduk di bawah lampu yang lebih terang di ruang piket dan membaca lembar demi lembar. Dan di sanalah, di atas kertas dengan kop dan nomor register, ia menemukan jurang yang selama ini ia tahu ada tapi belum pernah ia lihat sejelas itu.
Bahasa Indonesia baku punya cara meratakan segala sesuatu. Isyarat Sigit yang penuh ruang, arah, dan tekanan tubuh, telah dipadatkan menjadi kalimat-kalimat dingin bernomor. Di satu poin, jawaban Sigit yang dalam isyarat berarti saya ada di sana, saya melihat orang itu datang mengambil barangnya, telah dituangkan oleh petugas menjadi: "Bahwa yang bersangkutan mengakui keberadaannya di tempat kejadian perkara." Gayatri membacanya dua kali. Mengakui keberadaannya. Dalam bahasa hukum, kata mengakui menyeret bobot yang sama sekali tidak ada dalam isyarat Sigit. Sigit tidak mengakui apa pun yang menjadikannya bersalah. Ia hanya mengatakan bahwa ia ada di kiosnya sendiri, tempat kerjanya, ketika seseorang datang. Tapi di atas kertas, kehadiran biasa itu telah disulap menjadi setengah pengakuan.
Ini bukan kebohongan yang disengaja. Inilah yang membuatnya lebih sulit. Petugas yang mengetik tidak berniat jahat; ia hanya menerjemahkan ucapan lisan Gayatri ke dalam ragam tulisan formal yang ia kenal, dan dalam perjalanan dari isyarat ke suara ke kalimat baku, sebuah nuansa terkikis pada tiap simpul. Gayatri sudah menyuarakannya dengan benar. Tapi suaranya yang benar telah dituliskan ulang menjadi sesuatu yang lain, dan tanda tangannya di kolom juru bahasa akan menjadi stempel yang seakan membenarkan semuanya.
Ia duduk diam cukup lama sehingga Darman menengoknya. "Ada yang kurang, Mbak?"
Di sinilah dinding sumpahnya berdiri tegak. Menyela isi berita acara, mengoreksi kalimat penyidik, mempersoalkan pilihan kata petugas, semua itu melampaui peran juru bahasa. Tugasnya adalah memastikan terjemahan lisan tepat, bukan mengaudit redaksi hukum. Kalau ia mulai mengoreksi bagaimana petugas merumuskan, ia tidak lagi jadi kaca bening; ia jadi penasihat hukum tak resmi, dan justru itu bisa membuat kesaksiannya kelak diragukan, dianggap memihak. Ada logika yang masuk akal di balik tembok itu. Kalau setiap juru bahasa boleh mendebat redaksi, sistem akan kacau, dan yang paling sering kalah dalam kekacauan adalah orang yang paling lemah di ruangan, yaitu Sigit sendiri.
Tapi diam pun, ia mulai paham malam itu, adalah sebuah perbuatan. Diam berarti membiarkan saya ada di sana menjadi mengakui keberadaannya. Diam berarti ikut menulis takdir dengan tinta orang lain.
Gayatri tidak menyela isi. Ia memilih jalan yang lebih sempit, jalan yang berada tepat di garis sumpahnya tanpa melompatinya. "Pak Darman, di kolom catatan juru bahasa, saya boleh menulis keterangan?"
Darman mengernyit. "Catatan apa?"
"Catatan teknis. Bukan pendapat tentang perkara. Catatan tentang terjemahan." Ia menarik napas. "Saya hanya ingin mencatat bahwa beberapa istilah hukum tidak punya padanan baku dalam bahasa isyarat dan harus dijelaskan secara konsep di tempat. Dan bahwa pernyataan tertentu dari yang bersangkutan berupa keterangan keberadaan, bukan pengakuan perbuatan. Itu fakta tentang bahasanya, Pak, bukan pembelaan."
Darman menggaruk kepala, ragu. "Setahu saya juru bahasa cuma tanda tangan saja, Mbak."
"Kode etik profesi saya membolehkan, bahkan menganjurkan, juru bahasa membuat catatan ketika ada risiko salah paham makna," kata Gayatri, dan ia bersyukur suaranya tetap tenang, karena ia tidak sedang berdebat, ia sedang menjelaskan pekerjaannya. "Kalau Bapak keberatan, saya catat di lembar terpisah dan saya lampirkan, atas tanggung jawab saya sendiri sebagai juru bahasa tersumpah."
Darman akhirnya mengangkat bahu, terlalu lelah untuk melawan. "Ya sudah, ditulis saja. Nanti biar penyidik yang menilai."
Maka Gayatri menulis. Dengan tangan yang sudah lelah seharian, ia menorehkan kalimat-kalimat sependek dan sejelas mungkin. Bahwa istilah penggelapan, barang titipan, dan unsur dijelaskan secara konsep karena tiadanya padanan isyarat baku. Bahwa keterangan yang bersangkutan mengenai keberadaannya di lokasi merupakan keterangan posisi, bukan pernyataan mengakui suatu perbuatan. Bahwa terdapat risiko penyempitan makna dalam pengalihan dari isyarat ke ragam tulisan formal. Ia tidak menulis Sigit tidak bersalah. Ia tidak menulis penyidik menekan. Ia menulis tentang bahasa, hanya bahasa, dan justru karena itu setiap kalimatnya benar dan tak terbantahkan.
Selesai menulis, ia menatap tanda tangannya sendiri di bawah catatan itu dan menyadari sesuatu yang membuatnya gemetar pelan. Untuk pertama kalinya dalam kariernya, ia telah meninggalkan jejak. Ada lembar kertas di dunia ini yang menunjukkan bahwa ia, Gayatri Wirjawan, hadir dan memilih untuk mencatat, bukan hanya lewat. Kaca bening tidak meninggalkan jejak. Lensa meninggalkan jejak. Dan ia tidak lagi sepenuhnya yakin yang mana dirinya.
Ia pulang dengan motor menembus kota yang sudah sepi, lampu jalan satu-satu, dan di benaknya berulang wajah Sigit ketika menangkap kata pulang. Ia sudah melakukan yang ia bisa dalam batas sumpahnya. Tapi ada suara kecil, suara yang ia kenali sebagai suara Gayatri kecil yang dulu mencuri kalimat dari mulut ibunya, yang berbisik bahwa batas sumpah itu sendiri mungkin bukan kebajikan murni, melainkan tempat persembunyian yang ia bangun dengan rapi. Ia membenamkan suara itu. Ia sampai di rumah, merendam tangannya di air hangat seperti yang diajarkan seniornya dulu untuk meredakan nyeri sendi, dan tidur tanpa bermimpi, atau bermimpi sesuatu yang ketika bangun sudah jadi berita acara yang nuansanya hilang.