Kabar itu bergerak seperti air yang menemukan celah: tak ada yang mengumumkannya, tapi pada Kamis pagi seluruh orang tahu. Gayatri mengetahuinya dari cara ponselnya bergetar tanpa henti sejak subuh, dari notifikasi grup komunitas yang biasanya ia buka sambil menyeruput kopi, kini ia buka dengan jari yang dingin.
Di grup video itu orang tidak menulis. Mereka berkirim rekaman. Satu per satu wajah muncul di layar kecil, tangan mereka bicara, dan Gayatri menontonnya di meja dapur seakan menonton pengadilan yang majelisnya adalah rumahnya sendiri.
Rekaman pertama dari seorang lelaki yang ia kenal sebagai paman salah satu murid kelas isyarat. Tangannya tegas. Ia membentuk klasifikator seorang pemuda, menaruhnya di ruang kiri, lalu menunjuk ruang kanan tempat sosok tak terlihat—hukum, aparat, entitas besar itu—dan menggeserkan sosok kiri ke bawah. Tenggelam. "Anak kita," isyaratnya, "diterjemahkan sampai tenggelam. Dan yang menerjemahkan orang dengar yang kita anggap saudara." Ia tidak menyebut nama. Ia tidak perlu. Ruang di sisi kirinya sudah berbentuk Damar; ruang yang menggeser sudah berbentuk Gayatri.
Balasan datang cepat. Seorang perempuan muda, aktivis yang pernah sekelas dengan Wulan, mengangkat tangan dengan sabar. "Jangan buru-buru," isyaratnya. Ia menggambar sistem: ruang keterangan tanpa CDI, aparat yang terburu, satu juru bahasa dengar sendirian menahan beban yang mestinya ditanggung prosedur. "Dia juga digilas mesin yang sama. Kalau kalian bakar dia, mesinnya tetap berjalan, dan besok ada Damar yang lain."
Gayatri menahan napas. Ia ingin berterima kasih pada perempuan itu dan sekaligus menyuruhnya berhenti membelanya, karena tiap pembelaan membuat dadanya lebih sesak, bukan lebih ringan. Ada sesuatu yang keliru saat orang membelamu dengan alasan yang kaupikir tak sepenuhnya kaulayak terima.
Ia menutup aplikasi dan pergi ke tempat yang seharusnya netral: kedai kopi di dekat balai komunitas, tempat ia biasa menunggu Bagas selesai latihan teater isyarat. Barista Tuli di sana, Fajar, mengenalnya sejak lama. Biasanya Fajar menyambutnya dengan lelucon tangan tentang kopinya yang selalu kurang gula. Hari ini Fajar hanya mengangguk. Isyaratnya sopan, dingin, seukuran transaksi. Kopi. Sekian. Terima kasih. Tak ada lelucon. Jarak itu diletakkan dengan begitu halus sehingga Gayatri tak bisa memprotesnya tanpa terlihat berlebihan, dan justru kehalusannya yang paling menyakitkan.
Di sudut kedai, dua perempuan paruh baya yang ia kenal wajahnya sedang bicara cepat. Mereka belum melihatnya. Tangan mereka terbuka, tak menyembunyikan apa pun, karena mereka mengira orang dengar tak membaca—dan Gayatri, yang membaca setiap gerak, menjadi penyadap atas rumahnya sendiri. "Katanya dia dari dulu kerja untuk polisi," kata yang satu. "Kita saja yang tak tahu." Yang lain menggeleng. "Adiknya Tuli. Masa dia tega." "Justru itu," balas yang pertama, dan isyaratnya mengeras, "yang paling dekat yang paling bisa melukai."
Gayatri membawa kopinya keluar sebelum mereka menoleh.
Sorenya Sekar datang ke flatnya tanpa dijanji. Itu sendiri sebuah pertanda—Sekar yang biasa mengetuk lewat pesan dulu, kini muncul begitu saja, seolah sopan santun sudah tak sepadan lagi dengan keadaan. Mereka duduk berhadapan. Cahaya jatuh miring dari jendela, dan tangan Sekar, yang selama bertahun-tahun paling fasih Gayatri baca, kini bergerak hati-hati, seakan takut salah ucap.
"Aku tak datang untuk memusuhimu," isyarat Sekar. "Aku datang supaya kau tahu apa yang mereka katakan. Karena kau tak akan pernah dengar versi utuhnya. Mereka menahannya di depanmu."
Gayatri mengangguk. "Katakan."
Sekar menarik napas. "Sebagian bilang kau menjual kami. Bahwa orang dengar selalu begitu—dekat saat butuh jembatan, hilang saat jembatannya roboh menimpa kami." Tangannya berhenti sejenak. "Sebagian lain membelamu. Bilang kau korban juga. Bahwa marah pada satu penerjemah lebih mudah daripada marah pada seluruh sistem yang tak pernah menyediakan CDI." Ia menatap Gayatri lurus. "Dan pembelaan itu, Yatri, membuat yang marah makin marah. Karena mereka merasa lukanya diperkecil."
Gayatri merasakan kebenaran dingin dari kalimat itu masuk seperti jarum. Komunitas tidak terbelah antara yang benar dan yang salah. Ia terbelah antara dua cara mencintai hal yang sama, dan ia—Gayatri—berdiri persis di garis retaknya.
"Kau di sebelah mana?" tanya Gayatri, dan begitu tangannya menyelesaikan pertanyaan itu ia menyesal, karena ia tahu ia tak berhak menagih pihak dari siapa pun.
Sekar tidak menjawab cepat. Ia memandang ke luar jendela, ke arah anak-anak yang main di halaman bawah, lalu kembali. "Aku di sebelah Damar," isyaratnya pelan. "Dan aku masih mencoba mencari tahu apakah berdiri di sebelah Damar berarti aku harus meninggalkanmu. Aku belum tahu, Yatri. Aku benar-benar belum tahu."
Kejujuran itu lebih baik daripada penghakiman dan lebih buruk daripada pengampunan. Gayatri menerimanya karena tak ada yang lain untuk diterima.
Malam itu grup komunitas masih menyala. Rekaman-rekaman terus berdatangan, saling membalas, saling meralat, sebagian marah, sebagian menengahi, satu-dua sudah menyeret nama Bagas—menuntut sang adik bersuara, memilih, menegaskan. Gayatri menonton nama adiknya diseret ke tengah ruang yang bukan ia buat, dan untuk pertama kali ia mengerti bahwa yang terbelah bukan hanya orang banyak di luar sana.
Retakan itu sudah masuk ke dalam rumah. Ia hanya belum sampai ke Bagas.
Ia meletakkan ponsel menghadap meja agar cahayanya tak menyilaukan, dan duduk dalam gelap yang tak lagi terasa seperti tempat berteduh. Di luar, kota berdengung dengan suara yang tak pernah bisa didengar orang-orang yang paling ia sayangi; di dalam, keheningan penuh oleh tangan-tangan yang berdebat tentang dirinya. Ia tak bisa membela diri di kedua bahasa itu sekaligus. Ia bahkan belum yakin ia berhak membela diri sama sekali.