Sekar sudah menunggu di meja pojok ketika Gayatri tiba, di sudut warung kopi tempat lampu neon tak benar-benar sampai. Sekar selalu memilih tempat seperti ini—punggung ke tembok, pandangan lapang, ruang cukup untuk dua pasang tangan bicara tanpa ditonton orang. Dulu Gayatri menganggapnya kebiasaan lucu. Malam itu, entah kenapa, pilihan meja itu terasa seperti sesuatu yang sudah disiapkan.
"Lama," isyarat Sekar, alis naik, senyum miring. Ia menepuk kursi di sebelahnya, bukan yang di seberang.
Gayatri duduk. Ia memesan teh dengan menunjuk daftar, lalu memutar tubuh menghadap sahabatnya, membuka percakapan dengan keluhan ringan soal jadwal, soal jalanan, soal Bagas yang katanya sekarang sok sibuk dengan usaha barunya. Tangannya bergerak lancar, seperti biasa. Sekar tertawa di tempat yang tepat, mencela di tempat yang tepat. Untuk beberapa menit semuanya terasa seperti ratusan malam sebelumnya—dua perempuan yang saling mengenal lebih lama dari yang bisa mereka hitung.
Lalu Sekar menaruh gelasnya, dan tangannya melambat.
"Kamu dengar soal anak itu?" Ia mengeja sebuah nama dengan abjad jari, pelan, seolah menimbang tiap huruf. "Damar. Yang kasusnya ramai di grup."
Ada jeda kecil di dada Gayatri, seperti langkah yang terlewat di tangga gelap. Ia menjaga wajahnya. "Sedikit," isyaratnya. "Kenapa?"
Sekar bersandar. Ceritanya mengalir: bagaimana keluarga Damar datang ke pertemuan komunitas minggu lalu, bagaimana ibunya bicara dengan tangan gemetar, bagaimana orang-orang mulai saling berbisik—dalam isyarat, yang berarti semua orang di ruangan itu bisa membaca. Vonisnya berat. Katanya anak itu dituduh mengakui sesuatu yang tak pernah ia maksud. Katanya ada yang salah di ruang keterangan, di mulut orang yang menerjemahkan.
"Ada juru bahasa dengar di sana," lanjut Sekar. Jarinya menekan udara di antara mereka, menempatkan sosok itu di satu titik, seperti orang meletakkan benda di rak. "Perempuan. Bersertifikat. Katanya bagus."
Gayatri merasa titik itu menggantung di ruang di antara mereka, dan ia tahu—dengan pengetahuan dingin yang datang dari profesinya sendiri—bahwa Sekar sedang membangun rujukan. Menempatkan pelaku di sebuah lokus. Nanti tangan itu tinggal menunjuk kembali ke sana, dan semua orang akan tahu siapa yang dimaksud tanpa perlu nama.
"Banyak juru bahasa perempuan," Gayatri menjawab. Tangannya terasa lebih berat dari biasa.
"Hm." Sekar tidak mengangguk. Ia menatap, lama, cara Sekar menatap ketika ia sedang membaca lebih dari yang diucapkan. "Bagas cerita kamu banyak kerja di kepolisian belakangan. High-stakes, katanya. Dia bangga." Sekar tersenyum, tapi senyum itu tak sampai ke matanya. "Dia sebut bulan-bulan itu. Bulan yang sama."
Warung terasa menyempit. Gayatri sadar ia menahan napas dan memaksa dirinya melepasnya perlahan, supaya bahunya tidak berkhianat.
"Sekar—"
"Aku tidak bertanya," potong Sekar, tangannya lembut tapi tegas, seperti orang menutup pintu tanpa membanting. "Dengar dulu. Aku duduk di pertemuan itu. Aku lihat ibu anak itu. Dan aku pulang, dan aku pikirkan siapa yang aku kenal, yang bersertifikat, yang perempuan, yang kerja di sana bulan itu, yang tiba-tiba jadi susah diajak ketawa." Ia berhenti. "Aku tidak butuh kamu bilang ya. Aku cuma butuh kamu tidak bilang tidak."
Gayatri membuka tangannya. Menutupnya lagi. Setiap kalimat yang ia susun dalam kepala runtuh sebelum jadi isyarat. Ia terlatih menerjemahkan maksud orang lain menjadi kata; sekarang maksudnya sendiri tak mau menemukan bentuk.
"Ini rumit," akhirnya ia isyaratkan. Kata yang pengecut, dan ia tahu itu begitu tangannya selesai.
Sesuatu bergeser di wajah Sekar. Bukan marah—Gayatri hampir berharap itu marah, karena marah punya ujung yang bisa ia hadapi. Ini lebih pelan. Ini kekecewaan yang mengendap, cara air surut dan meninggalkan garis di dinding.
"Tahu apa yang paling menusuk?" Tangan Sekar bergerak kecil sekarang, dekat ke tubuh, seolah tak ingin ruangan ikut mendengar. "Bukan bahwa mungkin kamu yang menerjemahkan. Orang bisa salah. Ruang keterangan itu buruk untuk kami, semua orang tahu itu." Ia menunjuk ke titik tadi, lalu menariknya kembali ke dadanya sendiri. "Yang menusuk adalah kamu duduk di sini, ngobrol soal Bagas, soal jalanan, dan kamu biarkan aku cerita soal anak itu seolah kamu penonton. Seolah aku bukan orang yang akan kamu percaya."
"Aku percaya kamu." Gayatri mengisyaratkannya cepat, terlalu cepat.
"Tidak cukup untuk bilang." Sekar mengangkat gelas kopinya, meminum, meletakkannya. Gerakannya jadi sangat biasa, dan justru itu yang mengerikan. "Kamu 'orang dalam'. Kamu selalu bangga soal itu. Bagas jembatanmu, aku kunci pintunya. Kamu masuk ke rumah kami dan kami tidak pernah menghitung kamu sebagai tamu." Jeda. "Tapi orang dalam tidak menyimpan hal begini dari orang yang berbagi rumah dengannya."
Gayatri ingin menjelaskan tentang kode etik, tentang kerahasiaan penugasan, tentang bagaimana ia belum boleh, belum bisa, tentang Pram dan berkas dan malam-malam yang tak mau tidur. Semua alasan itu benar. Semua alasan itu, di meja pojok ini, terasa seperti dinding yang ia bangun untuk melindungi diri sendiri, bukan Damar.
"Aku belum bisa cerita semuanya," ia isyaratkan pada akhirnya. "Bukan karena kamu. Ada hal yang sedang berjalan. Kalau aku ceritakan sekarang, aku bisa merusaknya."
Sekar memandanginya lama sekali. Di luar, sebuah motor lewat, lampunya menyapu meja mereka sekejap lalu hilang.
"Baik," isyarat Sekar. Hanya itu. Bukan pengampunan, bukan penghakiman. Ia mengumpulkan tasnya, berdiri, dan berhenti sebentar di samping Gayatri. Tangannya terangkat, ragu, lalu menyentuh bahu Gayatri—sentuhan lama, sentuhan sahabat—tapi kali ini terasa seperti orang memeriksa apakah sesuatu masih ada di tempatnya.
"Anak itu bingung, Gayatri," ujar tangannya, tepat di garis pandang. "Aku lihat ibunya. Siapa pun juru bahasanya—dia harus lebih berani dari yang dia tunjukkan malam ini."
Lalu Sekar pergi, melewati pintu, menembus lampu neon yang tak sampai ke sudut. Gayatri tetap duduk dengan teh yang tak ia sentuh, di meja yang tiba-tiba terlalu lapang untuk satu orang, sambil menyadari bahwa rahasia yang selama ini ia kira miliknya sendiri kini sudah punya saksi—dan saksi itu adalah rumahnya.