Malam itu lampu meja belajar Gayatri menyala sampai subuh, dan ia membiarkannya. Ia sudah kehilangan hitungan berapa kali cangkir teh di sisi kanan berganti isi, lalu dingin lagi, lalu ia lupakan lagi. Di depannya, di layar laptop, dokumen kosong berkedip. Kursor itu berdenyut seperti nadi kecil yang menunggu diberi tugas. Ia sudah mengetik satu kalimat—Yang bertanda tangan di bawah ini—lalu menghapusnya. Lalu mengetiknya lagi. Lalu menatapnya sampai huruf-huruf itu kehilangan arti, jadi sekadar coretan hitam di atas putih.
Ia teringat cara Bagas dulu menjelaskan sebuah isyarat yang tak punya padanan lisan yang rapi. Kadang, kata adiknya lewat jari-jarinya yang tenang, sebuah tanda cuma bisa didekati, tidak pernah benar-benar dipeluk. Kau memilih kata yang paling sedikit bohongnya. Malam ini Gayatri merasa sedang melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri: mencari kalimat yang paling sedikit bohongnya untuk menamai apa yang hendak ia lakukan.
Ia bangun, membuka jendela. Udara dini hari masuk, basah dan tawar. Di seberang jalan seekor kucing menyeberang tanpa ragu, tahu persis ke mana ia menuju. Gayatri berdiri di situ lama sekali, memikirkan Damar di ruang yang tak bisa ia bayangkan sepenuhnya, memikirkan wajah pemuda itu waktu ia menjenguknya—kebingungan yang bersih, tanpa kepura-puraan. Ia memikirkan Rani, dan perutnya mengencang. Ia memikirkan sertifikat yang tergantung di dinding kantornya, stempel yang selama ini menjadi tulang punggung namanya.
Ketika langit mulai kelabu, ia sudah tahu. Bukan dengan gemuruh, bukan dengan air mata. Hanya sebuah kepastian yang datar dan berat, seperti batu yang akhirnya menemukan dasar sungai dan berhenti bergulir.
Ia menelepon Pram jam delapan lewat, saat ia yakin pengacara itu sudah di kantornya dan belum tenggelam dalam sidang. Suara Pram di ujung sana hati-hati, seperti orang yang sudah lama menunggu tapi tak mau kentara.
"Saya sudah memikirkan pertanyaan Anda," kata Gayatri. Ia sengaja memakai kata pertanyaan, jamak, walau yang ia maksud adalah semua hal yang selama ini digantung Pram di antara basa-basi. "Saya bersedia memberikan keterangan tertulis. Soal terjemahan itu. Soal frasa yang bisa ditafsirkan lain."
Hening sebentar. Ia mendengar Pram menarik napas, lalu bunyi kursi yang bergeser, seperti lelaki itu menegakkan badan.
"Anda paham konsekuensinya," kata Pram. Bukan pertanyaan. Itu bukan gaya Pram menakut-nakuti; itu caranya memastikan bahwa yang di depannya sadar sedang melangkah ke mana.
"Saya paham." Gayatri menatap sertifikat di dinding. "Saya tidak minta dilindungi. Saya cuma tidak mau menandatangani sesuatu yang bukan yang saya lihat."
"Tertulis dulu," kata Pram, dan Gayatri bisa mendengar ia sedang menahan diri untuk tidak terdengar lega. "Kita mulai dari situ. Adendum keterangan, bukan pengakuan salah total. Anda menandai apa yang ambigu, sejauh yang bisa Anda pertanggungjawabkan sebagai ahli bahasa. Selebihnya biar mekanismenya yang bekerja."
"Sejauh yang bisa saya pertanggungjawabkan," Gayatri mengulang, pelan, seolah mencicipi batas kalimat itu. Ia menyukainya. Itu kalimat yang paling sedikit bohongnya.
Mereka menyepakati waktu. Setelah sambungan terputus, Gayatri duduk diam di tepi kasur, dan untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu batu di dadanya terasa sedikit bergeser—bukan hilang, hanya bergeser, memberi ruang seukuran napas.
Ruang itu tak bertahan lama.
Rani menemuinya sore itu, di kedai kopi yang biasa mereka pakai untuk membahas jadwal penugasan. Gayatri tahu kabar bergerak cepat di kalangan mereka; ia tidak menyangka secepat ini. Rani datang tanpa senyum yang biasa, meletakkan tasnya dengan tenang yang justru lebih menakutkan daripada bentakan.
"Kamu bicara dengan pengacara Damar," kata Rani. Suaranya rendah, terukur, register seorang mentor yang selama dua puluh tahun mengajarkan bahwa netralitas adalah tulang punggung kepercayaan. "Bukan sebagai saksi yang dipanggil resmi. Kamu yang menawarkan diri."
"Saya menawarkan keterangan tertulis," kata Gayatri. Ia tidak menunduk. Ia berutang setidaknya itu pada Rani: menatapnya. "Tentang apa yang saya lihat di isyarat itu. Bukan membela, Bu. Menandai."
"Menandai." Rani menghembuskan kata itu seperti sesuatu yang pahit. "Kamu pikir mereka akan membacanya sebagai menandai? Kamu pikir jaksa, wartawan, asosiasi, akan berhenti di kata menandai? Begitu kamu meneken kertas itu, kamu bukan lagi juru bahasa yang keterangannya bisa dipercaya. Kamu jadi juru bahasa yang membatalkan kerjanya sendiri. Dan kalau satu dari kita bisa membatalkan diri, mereka akan bertanya-tanya tentang kita semua."
"Mungkin memang harus ada yang bertanya," kata Gayatri, dan ia sendiri terkejut betapa tenang suaranya.
Sesuatu berubah di wajah Rani. Bukan marah. Lebih buruk. Sesuatu yang menyerupai duka, seolah ia sedang melihat murid yang ia bentuk dengan tangannya sendiri berjalan menjauh ke arah yang sudah ia peringatkan seumur hidupnya.
"Aku mengajarimu bahwa kita bukan pembela," kata Rani, pelan. "Bukan karena kita tidak punya hati. Justru karena kita punya. Batas itu yang menjaga kita tetap bisa dipercaya semua pihak. Kamu melangkahinya, Gayatri, dan aku tidak tahu apakah kamu bisa kembali."
Gayatri memutar cangkirnya, memandang permukaan kopi yang bergoyang. Ia ingin bilang bahwa ia tidak sedang melangkahi batas; ia sedang menemukan bahwa batas itu tidak pernah selurus yang mereka gambar di ruang kelas. Tapi ia tahu kalimat itu tak akan sampai. Tidak sekarang. Mungkin tidak dari mulutnya.
"Saya tidak minta Ibu setuju," kata Gayatri akhirnya. "Saya cuma tidak mau Ibu tahu dari orang lain."
Rani berdiri. Ia mengambil tasnya, lalu berhenti sejenak, seakan hendak berkata sesuatu lagi—sebuah nasihat terakhir, atau barangkali sekadar selamat tinggal pada versi Gayatri yang ia kenal. Tapi ia hanya mengangguk sekali, kaku, dan pergi.
Gayatri tinggal sendiri dengan kopi yang mendingin. Di luar, sore turun ke jalan seperti selalu, tak peduli. Ia mengeluarkan ponsel dan menatap layar percakapannya dengan Pram, kata "bersedia" yang sudah tak bisa ia tarik. Batu di dadanya kembali penuh. Tapi kali ini, di sebelahnya, ada sesuatu yang lain—sesuatu yang keras dan sunyi dan tak mau minta maaf. Ia belum tahu namanya. Ia hanya tahu ia sudah tidak bisa berbalik.