Ruang serbaguna di lantai dua gedung asosiasi selalu terlalu terang untuk pertemuan sore. Lampu neon memantul di keramik yang baru dipel, dan bau kopi sachet bercampur wangi karpet yang belum benar-benar kering. Gayatri datang lima menit sebelum acara mulai, menandatangani daftar hadir dengan tangan yang ia usahakan tenang, lalu memilih kursi di deretan tengah — tidak terlalu depan, tidak terlalu belakang. Tempat yang selama bertahun-tahun ia anggap aman.
Temu rutin bulanan. Di grup, agendanya cuma tertulis "silaturahmi dan penyegaran kode etik". Ada sekitar dua puluh orang. Sebagian ia kenal baik, sebagian hanya wajah yang pernah berpapasan di ruang tunggu pengadilan atau lorong rumah sakit. Rani duduk di barisan depan, punggungnya tegak seperti biasa, dan tidak menoleh ketika Gayatri lewat. Sejak percakapan yang keras tempo hari, di antara mereka menganga jarak yang tak seorang pun di ruang ini tahu asal-usulnya.
Pak Herman, yang mengetuai asosiasi entah sudah periode keberapa, membuka dengan hal-hal ringan. Ucapan terima kasih untuk yang sudah datang di tengah hujan. Laporan iuran yang seret. Kabar pelatihan register hukum bulan depan yang kuotanya nyaris penuh. Ia bicara sambil sesekali menyeruput teh, gaya orang yang merasa berada di rumah sendiri. Gayatri mencatat tanpa perlu mencatat; kepalanya sudah terbiasa menyimpan kalimat orang.
Lalu, seolah baru teringat sesuatu yang tak penting-penting amat, Pak Herman meletakkan gelasnya.
"Ada satu hal yang mau saya titip," katanya. Nadanya tidak berubah, tetap hangat, tapi ruangan seperti sedikit merapat. "Belakangan saya dengar—dan ini betul cuma dengar-dengar—ada perkara di ranah hukum yang katanya bermasalah di sisi terjemahan."
Ia tidak menyebut nama. Tidak menyebut Damar, tidak menyebut pasal, tidak menyebut siapa pun. Tapi Gayatri merasakan sesuatu mengeras pelan-pelan di dadanya, batu yang sudah lama ia gendong itu, seakan tahu sedang dibicarakan.
"Saya tidak sedang menuduh siapa-siapa," Pak Herman melanjutkan. "Kekeliruan itu manusiawi. Kita ini menjembatani dua bahasa dalam hitungan detik, di ruang yang tertekan, sering tanpa CDI, sering diburu-buru aparat. Siapa pun bisa keseleo." Ia mengangguk-angguk, seperti sedang memaklumi dirinya sendiri. "Justru karena itu, kalau memang ada yang perlu ditinjau, tinjaulah di dalam. Kita punya mekanisme. Kita punya majelis etik. Jangan sampai persoalan rumah tangga kita dibawa keluar, ke media, ke ramai-ramai orang yang tidak paham bedanya isyarat ruang dan kalimat lisan."
Seseorang di sudut menggumamkan setuju. Yang lain mengangguk. Gayatri menahan diri untuk tidak memandang tengkuk Rani.
"Kepercayaan publik itu satu-satunya modal kita," kata Pak Herman, dan untuk pertama kali suaranya turun serius. "Sekali orang ragu pada satu juru bahasa, mereka ragu pada kita semua. Besok mereka tanya: memangnya terjemahan yang kemarin-kemarin bisa dipercaya? Memangnya vonis yang lalu-lalu sah? Bayangkan berapa banyak saksi Tuli, terdakwa Tuli, pasien Tuli yang akan kena getahnya kalau nama profesi ini jatuh. Marwah kita itu bukan soal gengsi. Itu perlindungan buat mereka yang kita layani."
Kalimat terakhir itu yang paling licin, pikir Gayatri. Karena sebagian dari kalimat itu benar. Karena ia tak bisa langsung membantahnya. Justru dengan menyeret nama orang-orang Tuli ke tengah, Pak Herman membuat diam terdengar seperti kebaikan, dan bersuara terdengar seperti pengkhianatan pada yang lemah.
Acara berlanjut ke hal lain — usulan seragam, rencana kunjungan ke sekolah luar biasa. Tapi Gayatri tak lagi benar-benar mendengar. Ia menatap gelas plastiknya, uap kopi yang sudah habis, dan mengulang-ulang di kepala: mekanisme di dalam. Seolah ada pintu rapi bernama mekanisme yang tinggal ia ketuk, seolah selama ini pintu itu tidak justru dijaga oleh orang-orang yang paling ingin perkara Damar tetap tertutup.
Saat rehat, seorang juru bahasa muda — Gayatri lupa namanya, baru setahun tersertifikasi — menghampirinya sambil menyodorkan piring risoles.
"Mbak Gayatri terjemahin sidang-sidang berat, ya?" katanya, matanya berbinar polos. "Saya kagum. Nggak kebayang tekanannya."
"Biasa saja," jawab Gayatri, dan senyumnya terasa seperti kain yang ditarik terlalu kencang.
"Kalau Pak Herman tadi ngomong soal jaga nama itu, saya setuju banget," lanjut perempuan itu, mengunyah. "Ngeri, ya, kalau ada oknum yang bikin malu semua. Untung di kita orang-orangnya solid."
Gayatri mengangguk. Ia tidak tahu harus berkata apa pada seseorang yang menyebut kata oknum dengan begitu ringan, tanpa tahu bahwa oknum itu mungkin sedang berdiri di depannya, memegang piring yang sama.
Di seberang ruangan, Rani berdiri di dekat dispenser, berbincang dengan Pak Herman. Sekali, hanya sekali, mata mentornya beradu dengan matanya. Tidak ada amarah di sana. Yang ada justru lebih berat: semacam permohonan, semacam peringatan yang dibungkus kasih sayang lama. Jangan, kata tatapan itu. Kau masih bisa mundur. Kita masih bisa selesaikan ini di dalam, di antara kita, tanpa ada yang perlu jatuh.
Gayatri memalingkan pandang lebih dulu.
Ia pamit sebelum acara benar-benar bubar, turun tangga yang lampunya sebagian mati, keluar ke halaman tempat hujan sudah menyusut jadi gerimis. Di trotoar, ia berdiri sebentar, membiarkan titik-titik air menyentuh wajahnya. Tak ada yang mengancam apa pun sore ini. Tak ada surat, tak ada teguran resmi, tak ada nada tinggi. Justru itu yang membuatnya sesak. Mereka tidak perlu membentaknya. Mereka cukup mengingatkannya, dengan senyum dan risoles dan kata marwah, bahwa jika ia membuka mulut, ia tidak akan kehilangan satu perkara — ia akan kehilangan seluruh rumah yang membesarkannya.
Ponselnya bergetar di saku. Nama Pram di layar. Gayatri menatapnya lama, gerimis membasahi kaca, sebelum akhirnya memasukkannya kembali tanpa membalas. Batu di dadanya tidak lagi cuma miliknya, ia mulai paham. Kini batu itu punya banyak tangan yang menahannya di tempat.