Rani memilih kedai yang sama seperti biasa—lantai dua yang menghadap jalan, tempat mereka dulu membedah penugasan sambil menunggu hujan reda. Gayatri datang lebih awal, memesan teh, dan tahu dari cara Rani menaruh tas di kursi—tidak digantung, tapi dipangku, seakan hendak segera pergi—bahwa ini bukan pertemuan untuk membedah apa pun.
"Aku dengar kau bertemu Wulan," kata Rani, tanpa mengaduk kopinya. Suaranya rata, register yang biasa ia pakai di ruang keterangan. Justru keratannya itu yang membuat Gayatri waspada. "Dua kali. Yang kedua di kantornya."
Gayatri menahan diri untuk tidak menoleh ke jendela. "Kami mengobrol."
"Mengobrol." Rani mengulang kata itu seolah menimbangnya di telapak tangan. "Kau tahu betul siapa Wulan di mata asosiasi. Orang tidak bertanya-tanya kalau dua juru bahasa minum kopi. Tapi kalau salah satunya Wulan, dan yang lain kau, orang mulai mengarang cerita sebelum ceritanya sendiri ada."
"Aku tidak sedang membuat cerita apa pun."
"Aku tidak bilang kau membuatnya." Rani akhirnya mengangkat cangkir, meminum sedikit, meletakkannya kembali persis di lingkaran basah yang sudah ada di meja. "Aku bilang kau memberi orang bahan. Ada bedanya. Dan kau cukup lama di profesi ini untuk tahu bedanya."
Gayatri merasakan sesuatu mengeras di dadanya, batu yang sudah berminggu-minggu ia bawa. Ia ingin berkata: aku bertanya soal sesuatu yang tidak bisa kutanyakan padamu. Tapi ia tahu, begitu kalimat itu keluar, ia tak akan bisa menariknya kembali—dan menariknya kembali persis yang ingin ia tahu caranya.
"Aku hanya bertanya soal prosedur," katanya, memilih kata sehati-hati ia memilih klasifikator di ruang sidang. "Hipotetis. Bagaimana sebuah keterangan diperlakukan setelah masuk berkas. Itu saja."
"Hipotetis." Untuk pertama kalinya Rani tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "Kau tahu apa yang lucu? Wulan tidak pernah membicarakan yang hipotetis. Gadis itu tidak punya waktu untuk itu. Kalau ia meladenimu, itu karena ia mencium sesuatu yang nyata. Dan kalau ia mencium sesuatu, cepat atau lambat ia akan mengangkatnya jadi bendera."
Di luar, sebuah angkot berhenti, menurunkan penumpang, melaju lagi. Gayatri menatap orang-orang yang menyeberang dan iri pada mereka yang urusannya bisa selesai dengan menyeberang jalan.
"Kau mengajariku bahwa kita bukan pembela," kata Gayatri pelan. "Aku ingat. Aku memegangnya."
"Kalau kau memegangnya, kau tidak akan duduk di kantor Wulan." Rani mencondongkan badan, dan untuk sesaat nada mentornya yang dulu kembali—yang tujuh tahun lalu mengajarinya cara menandai jeda, cara tidak menambahkan apa pun yang tidak diisyaratkan. "Dengar. Aku tidak peduli apa yang menggerogotimu. Semua orang di profesi ini menyimpan penugasan yang tidak bisa mereka tidurkan. Semua orang. Bedanya, kita tidak membawanya keluar barisan. Kita tidak menyeret nama semua orang lain hanya karena satu di antara kita tidak bisa tidur."
"Aku tidak menyeret siapa-siapa."
"Belum." Kata itu jatuh di antara mereka, dingin dan bulat. "Wulan akan membuat kau merasa berani. Ia pandai soal itu. Ia akan bilang menandai ambiguitas itu kejujuran, mengoreksi itu keberanian, dan kau akan pulang merasa lebih ringan. Lalu besok pagi seseorang menelepon kliennya, jaksa mempertanyakan setiap berkas yang pernah kau sentuh, dan tiga puluh juru bahasa lain—yang tidak pernah minta jadi bagian dari keberanianmu—mendapati sertifikasi mereka ikut diragukan. Netralitas itu bukan cuma sikapmu, Gayatri. Itu satu-satunya alasan orang mau menaruh nyawa hukumnya di tangan kita."
Gayatri membuka mulut, lalu menutupnya. Ada kebenaran di kata-kata Rani, dan justru kebenaran itu yang membuatnya nyaris tak sanggup menanggapinya. Sebab ia sudah melihat sisi lain: bahwa netralitas yang sama itulah yang, di satu ruang, di satu sore yang terburu-buru, telah merender isyarat ruang seorang pemuda menjadi kalimat yang tak pernah ia maksud.
"Bagaimana kalau netral itu sendiri yang keliru?" Ia mengucapkannya nyaris berbisik. "Bukan sikapku. Terjemahannya. Bagaimana kalau—"
"Jangan." Rani mengangkat tangan, telapak menghadap keluar, isyarat yang bahkan tak perlu diterjemahkan. "Jangan selesaikan kalimat itu di sini. Kalau kau selesaikan, aku jadi tahu. Dan kalau aku tahu, aku tidak bisa lagi berpura-pura ini soal Wulan."
Untuk beberapa saat keduanya diam. Uap teh Gayatri sudah habis. Di meja sebelah, dua orang tertawa soal sesuatu yang jauh.
Rani mengambil tasnya, tidak dengan marah, tapi dengan lelah yang lebih menyakitkan dari marah. "Aku memasukkan namamu untuk dua penugasan bulan depan. Aku belum mencabutnya." Ia berdiri. "Tapi pikirkan barisan tempat kau berdiri sekarang. Dan pikirkan siapa yang masih ada di sana kalau kau keluar."
Ia tidak menunggu jawaban. Gayatri mendengar langkahnya menuruni tangga, teratur, tidak buru-buru—langkah orang yang tahu ia benar. Dan itulah yang membuatnya paling perih: bahwa Rani mungkin benar, dan itu tidak mengubah apa pun.
Ia tetap duduk sampai jendela mulai gelap, memutar percakapan itu di kepalanya seperti rekaman lain yang belakangan terus ia putar—mencari tempat di mana ia bisa memilih kata yang berbeda, dan tidak menemukannya. Di luar, orang-orang terus menyeberang jalan, urusan mereka selesai begitu saja, dan Gayatri iri pada mereka sekali lagi.