Kantor Pram menempati lantai dua sebuah ruko yang catnya mulai mengelupas, di atas kios fotokopi yang mesinnya berdengung sepanjang hari. Gayatri datang bukan atas panggilan resmi. Ia menelepon pagi tadi, berkata ada satu-dua hal soal berkas yang mungkin perlu diklarifikasi, dan Pram menjawab dengan nada yang terlalu ringan untuk terasa jujur, "Silakan, Bu Gayatri. Saya selalu senang bicara dengan orang yang teliti."
Kata teliti itu menempel di benaknya sepanjang perjalanan.
Ruangan itu sempit, penuh map berdiri di rak besi, dan bau kopi instan yang sudah dingin. Pram menyingkirkan setumpuk berkas dari kursi tamu, mempersilakannya duduk, lalu duduk sendiri di seberang meja tanpa terburu-buru. Ia tidak membuka laptop, tidak menyiapkan pena. Ia hanya melipat tangan dan menunggu, dan justru ketenangannya itu yang membuat Gayatri merasa seperti saksi, bukan tamu.
"Saya sedang membaca ulang beberapa penugasan lama," Gayatri memulai. Suaranya terdengar terlatih di telinganya sendiri, dan ia benci itu. "Kebiasaan. Kadang saya cek konsistensi register terjemahan saya. Kasus Damar salah satunya."
"Oh?" Pram mengangkat alis, seolah baru mendengar nama itu untuk pertama kali. Padahal ia tahu, dan Gayatri tahu ia tahu.
"Ada satu bagian." Ia berhenti, memilih jalan di antara kata-kata seperti orang menyeberangi sungai dengan menginjak batu yang licin. "Di keterangan awal. Damar membuat serangkaian isyarat ruang. Ia menempatkan dua entitas di ruang isyarat, lalu menggerakkan klasifikator di antara keduanya. Dalam BISINDO, konstruksi seperti itu bisa menandai beberapa hal sekaligus—arah, peran, siapa melakukan apa terhadap siapa."
"Dan Anda menerjemahkannya."
"Saya merendernya jadi satu kalimat lisan." Ia menahan napas sebentar. "Waktu itu saya yakin. Sekarang, membacanya lagi, saya pikir kalimat itu... bisa ditafsirkan lebih dari satu cara. Frasa itu punya ambiguitas yang tidak saya tandai di catatan."
Ia berhenti di situ. Sengaja. Ia tidak berkata keliru. Ia tidak berkata pengakuan niat. Ia hanya meletakkan sepotong kebenaran di atas meja itu, sepotong yang paling kecil, dan menunggu untuk melihat apakah potongan itu cukup untuk membuatnya bisa tidur.
Pram tidak segera menjawab. Di bawah mereka, mesin fotokopi menyelesaikan satu putaran dan berhenti, dan keheningan yang tersisa terasa lebih besar dari ruangan itu.
"Ambiguitas," Pram mengulang, mencicipi kata itu. "Yang tidak Anda tandai."
"Kami dilatih untuk memilih satu tafsir yang paling mungkin dari konteks. Kami tidak mengarang; kami menyampaikan. Tapi konteks di ruang keterangan itu—" Gayatri berhenti lagi. Ia hampir menyebut tidak ada CDI, tidak ada pendamping, keterangan yang diambil terburu-buru oleh penyidik yang ingin cepat pulang. Semua itu benar. Semua itu bisa jadi tameng. Dan justru karena bisa jadi tameng, ia tidak mengucapkannya. "Konteksnya tidak sesempurna yang tercatat di berkas," katanya akhirnya.
Pram mencondongkan tubuh sedikit. Wajahnya tetap ramah, tetapi ada sesuatu yang berubah di matanya, sesuatu yang Gayatri kenali karena ia sering melihatnya di ruang sidang: perhatian seorang yang terbiasa mendengar apa yang tidak dikatakan.
"Bu Gayatri," ujarnya pelan, "saya sudah tiga belas tahun jadi pembela. Saya belajar satu hal. Kalau seorang saksi datang menemui saya sendiri, tanpa dipanggil, untuk memberi tahu bahwa ada satu frasa yang mungkin ambigu—biasanya bukan satu frasa yang mengganggunya."
Gayatri menahan agar tangannya tetap diam di pangkuannya.
"Saya hanya ingin akurasi berkas terjaga," katanya. "Kalau ada peninjauan, saya tidak mau ada yang bertumpu pada terjemahan yang belum saya tandai kehati-hatiannya. Itu tanggung jawab profesi saya."
"Tanggung jawab profesi." Pram mengangguk perlahan, dan senyum tipis muncul, bukan senyum menang, melainkan senyum orang yang memahami betapa mahal setiap kata yang barusan diucapkan. "Itu kalimat yang bagus. Saya percaya Anda memercayainya."
Ia mengambil map di dekatnya, membukanya, tetapi tidak membacanya—hanya menggunakannya sebagai alasan untuk memberi Gayatri jeda, kesopanan kecil yang justru lebih menekan daripada desakan.
"Kalau Anda mengizinkan saya jujur," kata Pram tanpa mengangkat wajah, "yang Anda sebut ambiguitas ini bisa jadi selisih antara satu pasal dan pasal yang lain. Antara beberapa tahun. Anda mengerti itu. Anda tidak akan menaiki tangga ruko saya yang jelek ini kalau tidak mengerti itu."
Batu di dada Gayatri, yang sudah lama menetap sejak malam-malam ia memutar rekaman itu, terasa bergeser—bukan hilang, hanya bergeser, menekan tempat baru. Ia ingin sekali mengatakan seluruhnya. Ia ingin meletakkan seluruh berat itu di meja berdebu ini dan pulang dengan ringan. Tetapi ia memikirkan Rani, memikirkan kata tutup barisan, memikirkan sertifikat yang menggantung namanya, memikirkan Sekar yang belum tahu, Bagas yang belum tahu, dan komunitas yang menganggapnya orang dalam. Mengaku penuh di sini, sekarang, di depan pembela lawan aparat, tanpa jalur, tanpa perlindungan—itu bukan keberanian. Itu terjun.
"Saya belum bisa mengatakan lebih dari yang sudah saya katakan," ujarnya, dan untuk pertama kali suaranya tidak terdengar terlatih. Terdengar lelah. "Saya hanya ingin Anda tahu bahwa frasa itu ada. Bahwa layak ditinjau. Selebihnya... saya masih menimbang."
Pram menutup map itu. Ia tidak memaksa. Barangkali justru itu yang paling ia kuasai: kesabaran untuk tidak memaksa.
"Baik," katanya. "Anda sudah memberi saya satu batu untuk berpijak. Saya tidak akan pura-pura itu banyak. Tapi saya juga tidak akan pura-pura itu sedikit." Ia menatap Gayatri lurus. "Pintu saya terbuka, Bu. Dan pintu ini tidak akan menutup lebih cepat karena Anda datang perlahan. Tapi ada orang lain—Damar, keluarganya—yang jam dindingnya berjalan lebih cepat dari jam dinding kita."
Gayatri berdiri. Ia menjabat tangan Pram, dan tangan itu hangat, kering, tanpa penghakiman, dan justru karena itu terasa seperti tuduhan yang paling lembut.
Di tangga ruko yang berbau tinta dan debu, ia berhenti sejenak, satu tangan di pegangan besi yang dingin. Ia telah mengaku, dan tidak mengaku. Ia telah membuka satu pintu selebar celah, dan menahannya di situ dengan seluruh berat tubuhnya.
Di bawah, mesin fotokopi berdengung lagi, menggandakan sesuatu, berulang-ulang, tak peduli benar atau salah yang ia salin.