Mereka bertemu di kedai kopi yang paling tidak mencolok yang bisa Gayatri pikirkan—sebuah ruko sempit di gang belakang stasiun, tempat mesin espreso tua mendengung lebih keras daripada percakapan siapa pun. Wulan datang membawa map plastik bening dan dua pena, seolah hendak mengajari, bukan bersekongkol. Gayatri memilih meja di sudut, membelakangi pintu, punggungnya menghadap tembok. Kebiasaan lama seorang juru bahasa: cari posisi yang bisa melihat semua tangan di ruangan. Kali ini ia justru ingin tak terlihat.
"Kamu tidak sedang bertanya secara hipotetis," kata Wulan, membuka, tanpa basa-basi. Ia menaruh map itu di antara mereka. "Jadi aku juga tidak akan menjawab secara hipotetis."
Gayatri melingkarkan jemari pada cangkir yang mulai hangat. "Sebut saja aku sedang memetakan."
Wulan tersenyum tipis, lalu mulai. Ia menggambar tiga kotak di atas serbet dengan pena, seperti orang menerangkan rute. Kotak pertama ia beri nama sendiri: adendum keterangan.
"Ini yang paling ringan di atas kertas," ujarnya. "Kamu ajukan koreksi tertulis atas berita acara. Kamu bilang: pada bagian ini, terjemahan lisan tidak sepadan dengan isyarat sumber. Titik. Kamu tidak perlu menyebut kata salah." Ia mengetuk kotak itu. "Tapi ongkosnya bukan di kertas. Begitu adendum masuk, ia jadi milik berkas. Jaksa boleh membacanya, membalasnya, memanggilmu untuk menjelaskannya. Dan yang lebih penting—" Wulan menatapnya, "—adendum sendirian itu lemah. Tanpa yang lain, ia cuma jadi pengakuan bahwa kamu ragu pada dirimu, tanpa cukup bobot untuk membalik apa pun."
Gayatri menelan itu. Sebuah pengakuan yang tak menyelamatkan siapa-siapa, hanya menandai dirinya. Ia teringat Rani, kalimat yang diulang seperti doa: kita menyampaikan, bukan membela. Adendum akan terdengar, di telinga Rani, seperti seorang penyampai yang mendadak ingin menarik ucapannya sendiri.
"Yang kedua," Wulan menggeser jarinya ke kotak tengah, "keterangan ahli. Kamu tidak bicara sebagai pelaku terjemahan. Kamu, atau lebih baik orang lain, bicara sebagai ahli bahasa isyarat. Bagaimana isyarat ruang bekerja, bagaimana klasifikator menandai peran—siapa melakukan apa kepada siapa—dan bagaimana semua itu bisa runtuh saat dialihkan tergesa ke kalimat lisan tanpa CDI." Ia berhenti. "Ini kuat. Karena ia tidak menuduh satu orang. Ia menunjuk sistem."
"Tapi," Gayatri menyela pelan.
"Tapi ahli tidak menyentuh rekaman kasus Damar secara langsung tanpa izin, tanpa prosedur, tanpa pintu yang dibuka pengacara. Dan begitu Pram membuka pintu itu resmi, semua orang akan bertanya: kenapa juru bahasa yang menerjemahkan pertama justru diam saja selama ini?" Wulan menaruh pena. "Ahli bisa membela isyaratnya, Gayatri. Ahli tidak bisa membela kamu."
Uap dari cangkir naik tipis di antara mereka. Di luar, kereta lewat, dan lantai bergetar samar seperti napas yang tertahan. Gayatri memandang kotak ketiga sebelum Wulan sempat menyebutnya, dan ia sudah tahu isinya, karena kotak itu yang sejak semalam menggigit tidurnya.
"Kesaksian ulang," kata Gayatri sendiri.
Wulan mengangguk. Ia tidak menghias kotak ketiga itu dengan apa pun. Ia hanya membiarkannya berdiri, telanjang.
"Kamu naik ke kursi. Di bawah sumpah. Kamu bilang: ini yang kuterjemahkan, dan ini yang seharusnya. Kamu bongkar tanganmu sendiri, di depan majelis, di depan jaksa yang akan bertanya apakah kamu tidak kompeten atau tidak jujur—dan tidak ada jawaban yang tidak melukai." Wulan mencondongkan tubuh. "Adendum menandai. Ahli menjelaskan. Tapi hanya kesaksian ulang yang punya bobot untuk membalik pasal. Dan hanya kesaksian ulang yang bisa mengakhiri sertifikatmu."
Gayatri tidak mengatakan apa-apa untuk waktu yang lama. Ia memutar cangkir seperempat lingkaran, lalu seperempat lagi, seolah ada arah yang benar untuk meletakkannya.
"Yang mana yang bukan bunuh diri profesi?" akhirnya ia bertanya. Suaranya lebih rata daripada yang ia rasakan.
Wulan menarik napas. Untuk pertama kalinya sepanjang sore itu, ia tampak ragu—bukan karena tak tahu, melainkan karena tahu betul. "Kalau kamu bertanya jalan mana yang paling aman, jawabannya adendum. Ia paling sunyi. Kamu bisa menyelipkannya, membiarkan Pram yang menggerakkan sisanya, dan namamu tinggal di margin." Ia diam sejenak. "Tapi kamu tidak menemuiku untuk yang paling aman. Kamu sudah tahu adendum sendirian tidak akan mengeluarkan Damar dari mana pun."
Itu benar, dan kebenarannya terasa seperti batu yang sama, yang sudah berminggu-minggu ini duduk di dadanya, kini disebut dengan suara orang lain. Gayatri memikirkan Damar—wajah yang belum ia jenguk langsung, isyarat yang ia render jadi kalimat berniat, ruang yang salah ia baca. Ia memikirkan Bagas, yang tak tahu apa-apa, yang masih memanggilnya kakak di depan komunitas seolah ia orang dalam yang bersih.
"Aku belum memilih apa-apa," kata Gayatri.
"Aku tahu." Wulan mengumpulkan pena-penanya, tidak memaksa. "Tapi menimbang saja sudah bergerak, Gayatri. Orang yang sungguh netral tidak duduk di kedai belakang stasiun menghitung ongkos." Ia menyelipkan serbet bergambar tiga kotak itu ke bawah cangkir Gayatri, tidak diminta. "Simpan. Bukan supaya kamu memutuskan sekarang. Supaya kamu tahu tidak ada jalan yang gratis, dan berhenti mencari yang gratis."
Gayatri tidak menyentuh serbet itu sampai Wulan pergi, sampai pintu berdenting dan gang menelan langkahnya. Baru kemudian ia menariknya keluar, kertas tipis yang lembap di bawah dasar cangkir, tinta tiga kotak mulai meleleh di satu sudut. Adendum. Keterangan ahli. Kesaksian ulang. Tiga pintu, dan di baliknya masing-masing sebuah ruang yang lebih terang dan lebih dingin dari yang sebelumnya.
Ia melipat serbet itu dua kali, memasukkannya ke saku dalam tasnya, di tempat yang biasa ia sediakan untuk jadwal penugasan. Lalu ia duduk sebentar lagi, membiarkan kopinya dingin, menghitung sesuatu yang tak bisa dijumlahkan di atas kertas mana pun.