Kedai kopi di ujung Jalan Tebet itu bukan tempat yang biasa Gayatri pilih. Terlalu jauh dari kantor pengadilan, terlalu dekat dengan indekos mahasiswa yang bising. Justru karena itu ia memilihnya. Tak ada juru bahasa yang akan mampir. Tak ada Rani.
Wulan datang terlambat sepuluh menit, dengan ransel yang berat sebelah dan rambut yang masih basah di ujung. Ia menjatuhkan diri ke kursi seberang, memesan teh tawar dengan tangan, lalu tersenyum seolah pertemuan ini adalah hal paling wajar di dunia.
"Tumben," kata Wulan. "Kukira kau menganggapku aktivis yang kebanyakan bicara."
Gayatri memutar gelasnya. Es sudah mencair jadi genangan bening di dasar. "Aku memang menganggapmu begitu."
"Tapi kau tetap datang." Wulan meletakkan siku di meja. "Jadi, ada apa?"
Gayatri sudah menyiapkan kalimat ini sejak semalam. Ia mengulanginya di kepala sampai terdengar cukup ringan, cukup jauh dari dirinya sendiri. "Pertanyaan saja. Soal profesi."
"Soal profesi." Wulan mengangguk pelan, membiarkan kata itu menggantung.
"Misalnya," Gayatri memulai, menjaga suaranya rata, "seorang juru bahasa sudah menyelesaikan sebuah penugasan. Keterangan resmi. Sudah ditandatangani, sudah masuk berkas. Lalu belakangan ia merasa—" ia mencari kata yang tidak terlalu telanjang, "—ada bagian yang bisa ditafsir lain. Bukan salah. Cuma bisa dibaca dua arah."
"Ambiguitas yang tak ia tandai waktu itu."
"Misalnya."
Wulan tidak langsung menjawab. Ia mengambil sendok kecil, mengaduk teh yang belum diberi apa-apa, gerakan tanpa guna yang membuat Gayatri sadar perempuan muda ini sedang mengulur waktu untuk memandanginya.
"Secara mekanisme," Wulan akhirnya berkata, "ada beberapa jalan. Tergantung perkaranya masih berjalan atau sudah inkrah. Kalau masih berproses, juru bahasa bisa mengajukan adendum. Semacam koreksi terlampir pada keterangan asli. Atau memberi keterangan ahli—posisinya beda, dia menjelaskan soal bahasa, bukan menerjemahkan ulang. Yang paling berat, kesaksian ulang di persidangan."
"Tapi bisa. Bisa ditarik kembali."
"Tidak ada yang benar-benar ditarik, Gayatri." Wulan meletakkan sendoknya. "Yang sudah keluar tetap ada di berkas. Yang bisa kaulakukan cuma menaruh sesuatu di sampingnya. Bilang: ini yang dulu kusampaikan, dan ini yang seharusnya. Selebihnya biar majelis yang menimbang."
Gayatri menahan sesuatu di dadanya agar tidak naik ke wajah. Ia mengangguk, seolah ini kuliah yang menarik dan tak lebih.
"Dan ongkosnya?" tanyanya. "Untuk si juru bahasa. Secara hipotetis."
Untuk pertama kalinya Wulan tersenyum penuh, senyum yang tidak ada hangatnya. "Kau tahu, kata 'hipotetis' itu selalu dipakai orang yang sudah tidak berada di wilayah hipotetis."
Ruang di antara mereka menyempit. Di meja sebelah, dua mahasiswa tertawa keras tentang sesuatu, dan suara itu terasa datang dari dunia lain.
"Aku cuma bertanya," kata Gayatri, terlalu cepat.
"Kau tak pernah bertanya padaku soal apa pun." Wulan mencondongkan badan, suaranya turun, bukan mengancam, justru lembut, yang lebih buruk. "Setahun kita saling papasan di ruang tunggu, kau tak pernah menanggapku selain dengan basa-basi. Rani menganggapku beban. Kau menganggapku ceroboh. Lalu tiba-tiba kau menyeberang kota untuk bertanya soal cara menarik terjemahan resmi, seolah itu teka-teki silang." Ia diam sebentar. "Kasus siapa, Gayatri?"
Gayatri membuka mulut. Kalimat penyangkalan sudah ada di lidahnya, licin dan siap. *Bukan kasus siapa-siapa. Aku hanya sedang menulis panduan pelatihan. Aku hanya penasaran.* Semuanya masuk akal. Semuanya bisa ia ucapkan dengan wajah rata seorang juru bahasa yang seumur hidup melatih diri untuk tidak menampakkan apa-apa.
Tapi ia menatap Wulan, dan Wulan menatapnya balik, dan ia sadar penyangkalan itu justru akan menjadi pengakuan yang lebih keras. Orang tak menyeberang kota untuk berbohong soal panduan pelatihan.
Maka ia memilih diam. Diam yang ia biarkan terlalu lama.
"Begitu," kata Wulan pelan. Ia bersandar kembali. Ada sesuatu yang bergeser di wajahnya—bukan kemenangan, lebih seperti seseorang yang baru saja melihat berapa dalam sebuah sumur. "Aku tak akan bertanya lagi. Belum."
"Wulan—"
"Dengar." Perempuan itu mengangkat tangan, isyarat kecil yang menghentikan. "Aku tak tahu perkara apa, dan aku tak mau tahu sekarang. Tapi kalau tebakanku benar sedikit saja tentang beratnya, kau tidak boleh melangkah sendirian. Bukan karena kau lemah. Karena sistem ini dirancang supaya orang yang mengaku keliru terlihat seperti satu-satunya yang keliru." Ia menarik napas. "Rani akan bilang tutup mulut demi marwah profesi. Aku bilang sebaliknya. Tapi kau tak butuh dua slogan itu sekarang. Kau butuh seseorang yang tahu jalannya dan tak akan lari ke asosiasi."
Gayatri merasa matanya panas dan ia benci itu. Ia sudah bertahan berminggu-minggu tanpa satu orang pun yang boleh melihat retaknya, dan kini seorang yang tiga tahun lebih muda darinya menawarkan tangan seolah tahu persis betapa berat batu di dadanya.
"Kalau ini benar bukan hipotetis," lanjut Wulan, suaranya nyaris berbisik, "kau harus tahu satu hal sebelum apa pun. Begitu kau menaruh koreksi di samping keterangan lama, tidak ada jalan mundur. Kau tak bisa mengoreksi setengah. Bukti yang membebaskan orang lain adalah bukti yang menuduh tanganmu sendiri. Itu satu benda, Gayatri. Tak terpisah."
"Aku tahu," kata Gayatri. Suaranya keluar lebih serak dari yang ia mau.
"Kau tahu di kepala." Wulan menatapnya. "Belum di badan."
Mereka duduk tanpa kata untuk beberapa saat. Teh Wulan menjadi dingin, tak tersentuh. Di luar, angin sore membawa bau hujan yang belum jatuh.
"Aku belum memutuskan apa-apa," kata Gayatri akhirnya. Itu, setidaknya, sepenuhnya jujur.
"Aku tahu." Wulan meraih ransel setengahnya, tak beranjak. "Tapi kau sudah datang ke sini. Itu juga sebuah keputusan, meski kau belum mau menyebutnya begitu." Ia menuliskan sesuatu di sobekan struk—bukan nomor yang tercetak di kartu namanya, melainkan yang lain. "Ini yang kupakai untuk hal-hal yang tak lewat asosiasi. Jangan simpan di kontak dengan namaku."
Gayatri menerima kertas itu. Kecil, ringan, hampir tak ada beratnya. Namun begitu jarinya mengatup di atasnya, ia tahu ia telah melangkah ke wilayah yang tak bisa ia sebutkan kepada Rani, kepada Bagas, kepada siapa pun. Sebuah persekutuan yang, kalau terbongkar, akan berarti persis apa yang paling ia takuti.
Ia memasukkan kertas itu ke saku dalam tasnya, jauh di dasar, dan berkata terima kasih dengan suara yang tak terdengar seperti miliknya sendiri.