Polsek itu bangunan tua yang dicat ulang seadanya. Lampu neon di lorong berkedip pada interval yang tidak teratur, dan Gayatri langsung mencatatnya seperti seorang juru ukur mencatat kemiringan tanah. Kedipan itu musuhnya. Tangan yang dibaca di bawah cahaya yang berkedip akan kehilangan separuh maknanya, dan separuh makna dalam ruang pemeriksaan bisa berarti tahun-tahun seseorang.
Aiptu Darman menemuinya, lebih muda dari suaranya di telepon, dengan kantong mata yang menggantung. Ia memperkenalkan penyidik yang akan memimpin, seorang lelaki bertubuh tegap bernama Iptu Resa, yang menjabat tangan Gayatri terlalu erat dan terlalu cepat, lalu langsung berkata, "Bagus, sudah datang. Kita kejar, ya, Mbak. Saya masih ada berkas lain malam ini."
Kejar. Kata pertama yang ia dengar tentang ritme ruangan itu adalah kejar. Gayatri menyimpannya tanpa berkomentar.
Ruang pemeriksaan persis seperti namanya yang ia karang dalam hati: ruang tanpa jendela. Dinding hijau pucat, satu meja logam, kursi-kursi yang kakinya berdecit di lantai. Di langit-langit, sebuah kamera CCTV menyala dengan titik merah kecil yang tak pernah tidur. Dan di salah satu kursi, duduk seorang lelaki yang tubuhnya seperti ingin mengecil sampai hilang.
Namanya Sigit Pranaja. Tiga puluh enam tahun, kata berkas. Tuli sejak kecil. Ia mengenakan kaus oblong yang sudah kusut karena dipakai dari siang, dan ketika Gayatri masuk dan mengambil posisi di sisi yang membentuk segitiga antara dirinya, Sigit, dan penyidik, mata lelaki itu langsung mengunci tangannya dengan kelaparan yang membuat Gayatri merasa sakit di tempat yang tidak punya nama. Sigit sudah berjam-jam dikelilingi suara yang tidak bisa ia tangkap. Kedatangan Gayatri, bagi Sigit, bukan kedatangan seorang petugas. Itu kedatangan bahasa.
Gayatri memperkenalkan diri dalam isyarat, pelan, jelas. Saya juru bahasa. Saya akan menerjemahkan persis apa yang mereka katakan dan persis apa yang Anda katakan. Saya tidak di pihak siapa pun. Saya tidak bisa memberi nasihat. Wajah Sigit berkerut, separuh lega separuh curiga, dan ia menjawab dengan satu isyarat yang gugup. Anda dengar? Maksudnya, apakah Gayatri orang dengar. Ya, jawab Gayatri jujur, tanpa menghaluskan, karena di komunitas itu pertanyaan tersebut bukan basa-basi. Tapi ibu saya Tuli. Tangan Sigit berhenti sejenak, lalu mengangguk pelan, sesuatu seperti pengakuan kecil yang lewat tanpa kata.
Iptu Resa tidak menunggu. "Oke, kita mulai. Tanyakan namanya, alamatnya, pekerjaannya."
Gayatri mengalihkan. Sigit menjawab dengan isyarat yang jelas: ia bekerja sebagai tukang servis elektronik kecil-kecilan, kios di pasar. Gayatri menyuarakan jawabannya kata demi kata, dengan kecepatan yang ia jaga agar Resa bisa mengetiknya tanpa minta diulang. Sampai di sini ruangan itu masih jinak.
Lalu Resa mulai mempercepat. Ia bicara dalam kalimat panjang yang berkelok, menyelipkan istilah yang ia ucapkan seperti palu. "Tanyakan, apakah dia mengetahui adanya unsur penggelapan dalam transaksi yang melibatkan barang titipan milik korban." Lalu sebelum Gayatri sempat membongkar kalimat itu menjadi isyarat yang utuh, Resa sudah menambah, "Dan tekankan, kalau dia kooperatif, perkaranya bisa lebih ringan. Bilang begitu ke dia."
Gayatri menahan napas selama seperempat detik. Penggelapan. Istilah hukum yang tidak punya isyarat baku tunggal di BISINDO; ia harus membangunnya, menjelaskan konsepnya, bukan sekadar mengeja huruf demi huruf yang akan jadi mantra kosong di mata Sigit. Dan bilang begitu ke dia, perintah agar Gayatri membujuk. Itu bukan terjemahan. Itu meminta Gayatri menjadi alat tekanan.
Ia membuat keputusan dalam waktu yang lebih singkat dari kedipan lampu neon di lorong. Ia akan menerjemahkan utuh, termasuk tekanannya, tanpa menjadi tekanannya. Ada perbedaan tipis yang hanya juru bahasa yang akan mengerti: ia akan menyampaikan bahwa penyidik berkata kerja sama bisa meringankan, sebagai kalimat penyidik, bukan sebagai nasihat Gayatri. Ia tidak akan membujuk dengan tubuhnya sendiri. Ekspresinya akan tetap netral, isyaratnya akan menandai dengan jelas bahwa kalimat itu milik orang lain.
Untuk istilah penggelapan, ia berhenti sejenak dan menatap Resa. "Pak, istilah ini tidak punya padanan isyarat tunggal. Saya perlu menjelaskan konsepnya ke beliau supaya tidak salah paham. Itu akan memakan beberapa detik lebih lama."
Resa mengibaskan tangan. "Ya sudah, cepat saja, yang penting dia ngerti maksudnya ambil barang yang bukan haknya."
Gayatri mengalihkan ke Sigit. Ia menjelaskan: ada barang yang dititipkan, milik orang lain. Penyidik bertanya apakah Anda tahu ada hal di mana barang titipan itu dipakai atau dialihkan padahal bukan hak Anda. Ia membentuk konsepnya dengan dua tangan, ruang di antara mereka jadi diagram. Sigit menyimak, lalu wajahnya berubah, alis turun, kepala menggeleng dengan keras. Tangannya bergerak cepat dan tegas. Saya tidak mengambil apa pun. Saya hanya memperbaiki radio itu. Pemiliknya yang menitipkan, lalu dia tidak datang-datang. Saya simpan, saya tunggu.
Gayatri menyuarakannya tepat. "Saya tidak mengambil apa pun. Saya hanya memperbaiki radio itu. Pemiliknya menitipkan lalu tidak datang-datang. Saya simpan, saya tunggu."
Resa menghela napas, bersandar, dan ada nada baru di suaranya, nada yang membuat tengkuk Gayatri menegang. "Mbak, terjemahin yang ini ya, plek-plekan. Sigit, dengar. Kami punya saksi yang melihat kamu di lokasi. Lebih baik kamu mengaku saja sekarang, biar cepat selesai, biar kamu bisa pulang. Kalau berbelit-belit, malah ribet sendiri. Ngerti?"
Di sinilah kaca bening pertama kali terasa seperti pisau di tangan sendiri. Gayatri harus menerjemahkan kalimat itu utuh. Mengaku saja. Biar cepat. Biar bisa pulang. Ia tahu, dengan kejelasan yang dingin, bahwa kalimat itu adalah jebakan halus yang diucapkan kepada seorang lelaki yang sudah berjam-jam ketakutan tanpa bahasa, yang kata pulang baginya mungkin terdengar seperti satu-satunya pintu di ruangan tanpa jendela. Kalau Gayatri menerjemahkannya dengan setia, ia ikut menyodorkan pintu palsu itu. Kalau ia menghaluskannya, atau diam-diam menyisipkan peringatan, ia mengkhianati sumpahnya dan menjadi pengacara yang ia bersumpah tidak akan pernah jadi.
Ia menerjemahkan. Tangannya bergerak rapi, setia, tanpa satu pun nasihat terselip. Penyidik mengatakan ada saksi yang melihat Anda di lokasi. Penyidik mengatakan lebih baik Anda mengaku sekarang supaya cepat selesai dan bisa pulang. Ia menandai dengan jelas: penyidik mengatakan. Bukan Gayatri. Tapi mata Sigit, saat menangkap kata pulang, berbinar dengan harapan yang begitu polos sehingga Gayatri merasa harapan itu sendiri adalah luka yang ia bantu torehkan.
Sigit menatapnya, dan untuk sepersekian detik, tangan lelaki itu terangkat seperti hendak bertanya kepada Gayatri secara pribadi, bukan kepada penyidik. Apa yang harus saya lakukan? Mata itu memohon. Dan Gayatri, dengan seluruh disiplin yang ia bangun selama belasan tahun, menjaga wajahnya tetap kosong dan tangannya tetap diam, karena menjawab pertanyaan itu berarti runtuh. Ia hanya mengulang isyarat netral: saya hanya menerjemahkan.
Untuk pertama kalinya sejak ia jadi kaca bening, Gayatri merasakan beban yang sesungguhnya dari kebeningannya. Cahaya memang lewat tanpa berubah. Tapi kaca itu sendiri, ia mulai mengerti, ikut menentukan ke mana cahaya jatuh.