Ruang jenguk itu berbau disinfektan dan keringat yang sudah lama mengendap di tembok. Gayatri duduk di kursi plastik yang satu kakinya lebih pendek, dan setiap kali ia bergeser, kursi itu mengetuk lantai seperti detak yang tak sabar. Di seberang meja logam, Damar menatap tangannya—bukan wajahnya, tangannya—seolah menimbang apakah tangan itu akan mengkhianatinya lagi.
Ia tidak datang membawa berkas kali ini. Tidak ada map, tidak ada catatan, tidak ada pengacara. Ia datang dengan tangan kosong dan permintaan yang sudah ia latih sepanjang perjalanan: *tunjukkan padaku. Bukan ceritakan. Tunjukkan. Pelan.*
Damar mengangkat kepala. Kerutan di dahinya sedikit mengendur, seakan untuk pertama kali sejak semua ini bermula ada orang yang meminta melihat, bukan menyimpulkan. Ia menata ruang di depannya dengan dua telapak, membuka bidang kosong di atas meja seperti orang meratakan taplak yang tak ada. Lalu ia mulai menempatkan.
Di sebelah kanan, ia meletakkan dirinya sendiri—titik ruang yang ia tunjuk dengan dagu, ia diami dengan bahunya. Di sebelah kiri, agak jauh, ia menaruh yang lain: lelaki itu. Gayatri memperhatikan bagaimana Damar membangun jarak di antara dua titik, dan bagaimana jarak itu bukan sekadar hiasan. Jarak itu keterangan. Jarak itu siapa mendekati siapa.
Kemudian tangan Damar bergerak.
Isyarat itu berpindah dari kiri ke kanan. Dari lelaki itu, menuju dirinya. Damar mengulanginya, lebih lambat, agar Gayatri tak salah lihat: pangkal gerak ada di titik lawan, ujungnya menghunjam ke titik tubuhnya sendiri. Arah verba itu jelas seperti anak panah. Yang bergerak adalah dia yang di kiri. Yang menerima adalah Damar.
Gayatri merasakan sesuatu turun di dadanya, dingin dan padat.
Karena ia ingat. Ia ingat betul bagaimana ia merender gerak itu, berbulan-bulan lalu, di ruang keterangan yang sesak dan terburu-buru, dengan penyidik yang mengetuk pena dan menuntut kalimat yang bisa diketik. Ia ingat mengubah anak panah itu menjadi kalimat aktif dengan Damar sebagai subjeknya. *Saya mendekatinya.* Ia telah membalik arah. Ia telah memindahkan pangkal gerak dari titik kiri ke titik kanan, dari lelaki itu ke Damar, dan tak seorang pun di ruangan itu tahu bahwa dalam satu pilihan kata ia telah menukar siapa yang menghampiri siapa.
*Tunggu,* isyaratnya, dan ia menyesal begitu tangannya bergerak, karena Damar langsung berhenti, waspada, seolah menunggu dikoreksi lagi. *Bukan. Bukan salahmu. Ulangi yang tadi. Bagian tangannya.*
Damar mengangkat tangan kanannya, jemari membentuk cengkeraman setengah—bukan genggaman yang mengepal penuh, bukan tangan yang menghunus. Klasifikator itu longgar, ragu, telapak menghadap ke dalam. Benda yang dipegang bukan diacungkan; ia terangkat di antara tubuh dan wajah, sejajar dada, sebuah palang. Damar mendorongnya sedikit ke atas, ke arah titik kiri, dan berhenti. Menahan. Bukan menyerang. Menahan.
Gayatri menatap bentuk tangan itu sampai matanya perih.
Ia tahu klasifikator itu. Ia tahu bagaimana handshape yang sama bisa berarti memegang untuk melindungi atau memegang untuk melukai, dan bahwa yang membedakan keduanya bukan bentuk jari melainkan arah, kecepatan, dan penempatan dalam ruang di sekitar tubuh. Ia tahu bahwa Damar menaruh benda itu di depan dadanya, sebagai batas, sebagai sekat—dan ia tahu, dengan kepastian yang membuatnya ingin memejamkan mata, bahwa dalam terjemahannya ia telah mencabut benda itu dari dada Damar dan mengarahkannya ke luar. *Saya angkat ke arahnya.* Ke arahnya. Seolah tubuh Damar adalah sumber, bukan sasaran.
Semua ambiguitas yang dulu ia rasakan sebagai kilasan tak enak di ujung punggungnya—yang dulu ia tekan demi kalimat yang rapi, demi penyidik yang menunggu, demi register hukum yang tak menyediakan ruang untuk *mungkin*—kini berdiri di depannya sebagai fakta yang bisa dilihat mata. Bukan tafsir yang berlainan. Bukan dua pembacaan yang sama sahih. Damar menunjukkan satu hal, dan ia telah mengucapkan hal yang lain.
*Kamu memegangnya begini,* isyarat Gayatri hati-hati, menirukan klasifikator itu di depan dadanya sendiri, telapak ke dalam, sebagai palang. *Begini. Bukan begini.* Ia mengubah tangannya, memutar telapak ke luar, mendorong ke titik kosong di kiri—versi yang pernah ia ucapkan. Ia membiarkan dua bentuk itu berdampingan di udara, agar Damar menilai.
Damar mengangguk pada yang pertama. Menggeleng keras pada yang kedua. Ia menepuk dadanya sendiri, lalu menunjuk titik kiri, lalu menggerakkan dua jari dari kiri ke kanan lagi—*dia, ke aku*—dan ia mengulang itu tiga kali, seakan jumlah pengulangan bisa memasukkan kebenaran itu ke kepala orang dengar yang tak mau melihatnya dulu.
*Aku mengerti,* isyarat Gayatri, dan tangannya nyaris tak sanggup menyelesaikan gerak itu. *Aku mengerti sekarang.*
Ia tidak menambahkan apa-apa. Tidak ada penjelasan yang pantas ia berikan, tidak ada janji yang tidak akan menjadi kesombongan baru. Ia hanya membiarkan kalimat itu tergantung, dan Damar menerimanya dengan tatapan yang lebih lelah daripada marah—tatapan seseorang yang sudah lama tahu, dan baru sekarang ditemani seseorang yang akhirnya tahu juga.
Sipir mengetuk kaca. Waktu habis.
Gayatri berdiri, dan kursi berkaki pendek itu mengetuk lantai untuk terakhir kali. Ia menatap tangannya sendiri sebentar—tangan yang tersertifikasi, tangan yang dipercaya, tangan yang sepanjang kariernya ia yakini sebagai saluran yang bersih. Tangan yang telah membalik arah sebuah anak panah dan menukar palang menjadi tikaman.
Ia tak bisa lagi menyebutnya kekhilafan yang mungkin, kesalahan yang barangkali. Ia sudah melihat bentuk aslinya, dari tangan orang yang harus menanggung akibatnya. Dan pengetahuan itu, ia sadari sambil melangkah keluar ke koridor yang berbau sama, tidak punya pintu untuk kembali. Ia bisa memilih apa yang akan ia lakukan dengannya. Tetapi ia tidak bisa lagi memilih untuk tidak tahu.