Ruang jenguk di rumah tahanan itu berbau karbol dan keringat yang mengendap di dinding. Gayatri menunggu di kursi plastik yang salah satu kakinya lebih pendek, sehingga tubuhnya sedikit miring tiap kali ia bergeser. Ia sudah menandatangani buku tamu, menyerahkan kartu tanda pengenal, dan menuliskan pada kolom keperluan sebuah kata yang membuatnya ragu sejenak sebelum menggoreskannya: keluarga. Bukan penerjemah. Bukan petugas. Ia tidak berhak menulis itu, tapi hari ini ia datang bukan dengan surat tugas. Ia datang dengan tangannya sendiri, dan tangan itulah yang ingin ia pertaruhkan.
Damar masuk diapit seorang sipir yang tampak bosan. Pemuda itu lebih kurus dari yang Gayatri ingat di ruang keterangan dulu. Rambutnya dipangkas asal, dan ada bekas jerawat di dahinya yang belum sempat kering. Ketika matanya menangkap Gayatri, keningnya berkerut — bukan mengenali, melainkan menakar. Wajah orang yang sudah terlalu sering didekati orang asing yang menganggapnya paham segala hal yang tidak ia paham.
Gayatri menunggu sipir melangkah mundur ke sudut. Lalu ia mengangkat tangannya.
Ia tidak memakai suara. Tidak ada juru bahasa lain di ruang itu, tak ada mulut yang akan mengubah gerak jarinya menjadi kalimat lisan. Untuk pertama kali sejak kasus ini menimpanya, tidak ada perantara antara dirinya dan pemuda ini. Ia mengeja namanya dalam abjad jari, pelan, lalu menyatukan kedua tangan di depan dada — halo, aku Gayatri. Aku pernah ada di ruang itu. Waktu kamu diperiksa.
Sesuatu bergerak di wajah Damar. Bukan lega. Lebih menyerupai waspada yang mengeras. Tangannya membalas, cepat dan tajam, register yang berbeda dari isyarat sopan yang biasa ditujukan orang Tuli kepada orang dengar yang baru dikenal. Kamu yang bicara waktu itu. Kamu yang bikin mereka mengangguk-angguk.
Gayatri menahan diri untuk tidak langsung membela. Ia hanya mengiyakan. Ya. Aku yang menerjemahkan.
Damar mencondongkan tubuh. Ruang di antara mereka menyempit, dan tangannya mulai bercerita — bukan dengan kalimat yang rapi, melainkan dengan isyarat ruang yang membangun kembali malam itu di udara. Ia menempatkan sesuatu di sisi kiri: motor, ia menandainya dengan klasifikator kendaraan, dua jari yang meluncur. Lalu ia meletakkan dirinya sendiri di kanan, agak jauh. Ia menunjukkan bagaimana tubuhnya bergerak — mendekat, lalu ragu, lalu menoleh ke belakang. Arah pandang. Peran. Semua tertata di ruang di depan dadanya seperti denah yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang mengerti bahwa dalam BISINDO tempat adalah tata bahasa, bahwa ke mana tangan menunjuk menentukan siapa melakukan apa kepada siapa.
Dan Gayatri, yang membaca denah itu dengan seluruh keahlian yang dilatihkan bertahun-tahun ke dalam jarinya, merasa dadanya turun perlahan.
Sebab yang Damar bangun di udara ini bukan pengakuan. Isyarat itu bisa berarti ia mendekati motor untuk mengambilnya. Bisa juga berarti ia mendekat lalu mundur, ragu, menoleh mencari pemiliknya. Penempatan tubuh, arah klasifikator, jeda di antara gerak — semuanya membuka, bukan menutup. Ambigu. Ia sudah tahu itu sejak malam-malam ganjil di kamarnya sendiri. Tapi tahu dari rekaman berbeda dengan menyaksikannya di depan mata, dibangun ulang oleh tangan pemuda yang badannya menanggung akibat dari cara ia dulu meluruskan gerak yang bercabang ini.
Kamu paham? Tangan Damar berhenti di udara, menggantung. Matanya menyipit. Waktu itu ada perempuan yang mengetik. Ada polisi yang tanya cepat-cepat. Aku isyaratkan begini — ia mengulang gerak mendekat-lalu-ragu — dan kamu bilang apa ke mereka? Mereka jadi yakin sekali. Aku lihat wajah mereka. Mereka pikir aku sudah mengaku.
Gayatri menelan sesuatu yang kering di tenggorokannya. Ia bisa saja menjawab dengan lembut, menyelamatkan dirinya di balik prosedur. Ia bisa bilang kondisinya terburu-buru, tak ada CDI, tekanan aparat. Semua itu benar. Tapi tangannya, yang selama ini terlatih untuk netral, kini terasa berat oleh sesuatu yang bukan netralitas.
Aku tidak tahu, isyaratnya akhirnya, dan itu jujur. Aku tidak tahu kamu bingung. Kamu kelihatan tenang.
Damar mengeluarkan bunyi pendek dari tenggorokannya, bukan tawa, lebih semacam sengal. Tangannya melebar. Tenang? Aku tidak mengerti setengah dari yang mereka tanya. Aku angguk supaya cepat selesai. Di sini semua orang suruh aku angguk.
Kalimat itu masuk ke Gayatri seperti batu yang dijatuhkan ke dasar sumur — lama, lalu berdebum di tempat yang dalam. Ia teringat doktrin Rani, kita hanya menyampaikan, bukan menafsir niat. Tapi ia tak sedang menyampaikan apa-apa sekarang. Ia sedang duduk berhadapan dengan seorang manusia berusia sembilan belas tahun yang mengangguk agar sesi cepat selesai, dan angguk itu, lewat tangannya dulu, menjelma jadi berkas yang menuntutnya.
Ia bertanya, hati-hati, apakah pengacaranya — Pram — sudah menemuinya. Damar mengangguk, kali ini dengan angguk yang berbeda, angguk yang mengerti. Ada yang datang. Bicaranya pakai kertas. Tapi kertas juga aku tidak selalu paham.
Ada CDI? Gayatri mengeja singkatan itu dengan hati-hati, lalu memperjelas: penerjemah yang Tuli juga, seperti kamu, yang bisa bantu memastikan.
Damar menggeleng. Tidak ada. Cuma orang dengar. Selalu orang dengar.
Sipir di sudut menepuk arloji. Waktu jenguk pendek di tempat seperti ini. Gayatri mengangkat tangan sekali lagi, dan untuk sesaat ia tidak tahu harus mengisyaratkan apa yang tidak akan berupa janji palsu. Ia tidak boleh berjanji membebaskan. Ia bukan penyelamat siapa-siapa, dan kalaupun ia ingin, ia tak punya kuasa itu. Maka ia hanya menyatukan tangannya, pelan, di depan dada.
Aku akan datang lagi, isyaratnya. Dan lain kali aku akan dengar — ia mengoreksi pilihan katanya sendiri, sebab dengar bukan kata yang tepat — aku akan lihat, betul-betul, apa yang kamu isyaratkan.
Damar menatapnya lama. Ia tidak balas mengangguk. Ia hanya menahan pandangannya sejenak, seolah menakar apakah kalimat itu satu lagi janji orang dengar yang akan menguap. Lalu ia berdiri, dituntun sipir, dan berjalan keluar tanpa menoleh.
Gayatri tetap duduk di kursi yang miring itu setelah pintu tertutup. Berkas di tasnya terasa tipis dan bodoh. Sampai malam ini kasus Damar adalah tumpukan halaman dengan kolom-kolom, nomor perkara, kalimat-kalimat yang ia bantu bentuk. Sekarang kasus itu punya bekas jerawat di dahi, punya rambut yang dipangkas asal, punya kebiasaan mengangguk agar cepat selesai. Ia tak lagi bisa memperlakukannya sebagai halaman.
Di luar, senja jatuh di halaman rutan yang berdebu, dan Gayatri berjalan ke gerbang dengan tangan yang masih hangat oleh percakapan yang tak sekali pun memakai suaranya.