Unggahan itu muncul di layar Gayatri pukul sebelas malam, di sela ia menyisir linimasa untuk menidurkan pikiran yang tak mau tidur. Sebuah utas panjang, dibagikan entah oleh siapa, lalu masuk ke berandanya lewat tangan seorang kenalan yang me-repost dengan satu kata: "Penting." Ia hampir menggeser lewat. Lalu matanya menangkap tiga kata yang membuat jempolnya berhenti di udara: terdakwa Tuli, vonis, keliru.
Ia duduk lebih tegak. Kamar tetap gelap, hanya cahaya layar yang menyalai wajahnya kebiruan. Utas itu ditulis rapi, bernada hati-hati, tanpa nama. Penulisnya menyebut dirinya "pengamat proses hukum untuk kelompok rentan". Ia menceritakan sebuah kasus—tanpa menyebut nama, tanpa menyebut kota—tentang seorang pemuda Tuli yang keterangannya di ruang kepolisian diterjemahkan tergesa, tanpa CDI, dan bagaimana terjemahan lisan itu, kata penulis, "boleh jadi telah mengubah sesuatu yang tak berniat menjadi sesuatu yang berniat". Kalimat berikutnya membuat dada Gayatri mengeras seperti ada batu yang naik: Berapa banyak makna yang hilang di celah antara tangan dan mulut, dan siapa yang menanggungnya?
Tak ada namanya di situ. Tak ada nama Damar. Tak ada nama pasal. Tapi Gayatri membaca ulang tiga kali, dan tiga kali ia merasa seolah seseorang menyebut namanya di ruangan yang penuh orang.
Ia menggeser ke bawah. Kolom komentar sudah berbaris panjang. Ada yang menulis "baru tahu ada masalah begini". Ada yang bertanya apakah juru bahasa isyarat memang bisa keliru sebesar itu—dan di bawahnya, seseorang menjawab dengan sabar bahwa isyarat ruang dan klasifikator tidak berpadanan satu lawan satu dengan kata, bahwa arah, penempatan, dan peran bisa dirender jadi kalimat yang sama sekali lain bila penerjemahnya terburu. Gayatri mengenali kalimat itu. Bukan kata-katanya sendiri, tapi kebenaran yang sama yang selama berminggu-minggu ia putar di kamar ini, sendirian, seperti rekaman yang tak mau berhenti. Sekarang kebenaran itu ada di luar sana, di tangan orang-orang yang tak ia kenal, tumbuh sendiri tanpa izinnya.
Angka di bawah utas bergerak saat ia memandang. Dibagikan seribu dua ratus kali. Lalu seribu tiga ratus. Ia menonton angka itu naik seperti orang menonton air pasang merambati anak tangga, tahu ia tak bisa menyuruhnya surut.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Sekar, di grup kecil mereka. Sebuah tautan—utas yang sama—dan di bawahnya: "Kalian sudah baca ini? Kasihan sekali kalau benar. Bayangkan dipenjara gara-gara tangan orang lain." Gayatri menatap layar itu lama. Jempolnya melayang di atas papan ketik. Ia mengetik "iya", menghapusnya, mengetik "ngeri ya", menghapusnya lagi. Akhirnya ia hanya menekan ikon hati kecil pada pesan Sekar, tanda ia sudah melihat, dan meletakkan ponsel telungkup di seprai seakan itu bisa memadamkan sesuatu.
Tapi ia mengangkatnya lagi tak sampai semenit kemudian.
Ia tahu, dari cara komunitas bekerja, bahwa utas ini akan sampai ke tangan-tangan yang mengisyarat sebelum matahari terbit. Ia membayangkan orang-orang yang ia kenal di acara-acara itu—yang mengajaknya bercanda dengan tangan, yang menyebutnya "orang dalam"—membaca ini besok pagi, lalu bertanya-tanya siapa penerjemah yang tangannya keliru. Ia membayangkan pertanyaan itu berputar di ruang-ruang yang selama ini menjadi rumah keduanya, dan ia, duduk di antara mereka, memegang jawabannya di kerongkongan seperti duri.
Ia teringat suara Rani sore tadi, tenang tapi rapat seperti pintu yang ditutup pelan: jaga marwah, tutup barisan, jangan biarkan urusan internal jadi tontonan. Dan sekarang, tanpa satu pun dari mereka menggerakkannya, urusan itu sudah menjadi tontonan. Bukan karena Gayatri bicara. Bukan karena Rani gagal menutup pintu. Melainkan karena ada celah di sistem yang terlalu lebar untuk ditutupi oleh diamnya siapa pun—celah yang, cepat atau lambat, akan ditemukan orang lain dan ditunjuk dengan jari.
Ada sesuatu yang menakutkan dan sesuatu yang, ia enggan mengakuinya, hampir melegakan dalam hal itu. Menakutkan karena ia kehilangan kendali atas kapan dan bagaimana kebenaran itu keluar. Melegakan karena untuk pertama kalinya, batu di dadanya tidak sepenuhnya miliknya sendiri. Ada orang lain yang memikulnya, meski mereka tak tahu siapa yang tangannya bergetar di balik semua ini.
Ia membuka utas itu sekali lagi. Seseorang yang baru saja berkomentar menulis pertanyaan yang paling sederhana dan paling tajam: "Terus penerjemahnya siapa? Masih kerja nggak sekarang?"
Belum ada yang menjawab. Tapi Gayatri tahu, dengan kepastian dingin yang menetap di tulang, bahwa pertanyaan seperti itu tidak akan menganggur lama. Orang akan mencari. Orang akan menghubung-hubungkan. Berkas punya nama; ruang keterangan punya daftar hadir; dan komunitas yang kecil ini punya ingatan yang panjang tentang siapa menerjemahkan apa.
Ia mematikan layar. Kamar kembali gelap sempurna, dan untuk sesaat ia bisa mendengar detak jam dinding tua di ruang tengah, lambat, sabar, tak peduli. Ia berbaring miring, menarik selimut sampai bahu, dan memejamkan mata. Di balik kelopak, angka itu masih naik—seribu empat ratus, seribu lima ratus—seolah tercetak di gelap.
Ia teringat Pram, yang minggu lalu mengajukan permohonan peninjauan dengan sabar dan metodis, seolah punya seluruh waktu di dunia. Sekarang waktu itu berubah sifatnya. Ada sesuatu di luar sana yang berdetak, yang tak menunggu jadwal sidang, yang tak mengenal kode etik maupun tutup barisan. Peninjauan Pram bergerak dengan kecepatan hukum; layar bergerak dengan kecepatan lain, kecepatan yang tak bisa ditawar.
Ponsel bergetar sekali lagi di seprai. Ia tidak meraihnya. Ia berbaring saja, mendengar jantungnya sendiri, dan menyadari bahwa pertanyaan yang selama ini ia tunda—kapan, bagaimana, kepada siapa ia akan mengaku—kini punya teman baru yang lebih mendesak. Bukan lagi apakah kebenaran akan keluar.
Melainkan siapa yang akan menyebut namanya lebih dulu: dirinya, atau layar.