Ruang pertemuan asosiasi di lantai tiga itu selalu terlalu dingin. Pendingin udaranya cuma punya satu suhu, dan seseorang yang datang paling pagi selalu lupa mematikannya. Gayatri duduk di deret kedua, menggenggam gelas kertas berisi kopi yang sudah tak panas, mendengarkan derik kursi-kursi lipat yang diseret ke tempatnya. Ada dua belas orang siang itu, lebih banyak dari rapat rutin biasa. Ia menghitungnya tanpa sadar, kebiasaan lama dari ruang keterangan: selalu tahu siapa saja yang hadir, siapa yang bisa melihat tanganmu bergerak.
Rani berdiri di depan, tak memakai slide, tak membawa map. Itu pertanda. Kalau Rani membawa map, agendanya prosedur. Kalau tangannya kosong, yang akan ia bicarakan adalah sesuatu yang tak ingin ia tinggalkan jejaknya di kertas.
"Saya dengar," Rani membuka, suaranya tenang seperti biasa, "ada perkara yang mulai dibicarakan orang. Perkara di pengadilan. Menyangkut terjemahan seorang di antara kita."
Gayatri menahan gelas kertasnya agar tidak meremas. Ia menatap lurus, memasang wajah yang sama seperti wajah dua belas orang lain di ruangan itu: perhatian yang sopan, sedikit ingin tahu. Ia sudah berlatih wajah ini berminggu-minggu, di depan cermin kamar mandi, di kaca jendela kereta. Wajah orang yang tak punya urusan pribadi dengan yang sedang dibahas.
"Saya tidak akan menyebut nama," Rani meneruskan. "Bukan karena tak tahu, tapi karena tak perlu. Yang penting bukan siapa. Yang penting bagaimana kita berdiri."
Seorang penerjemah senior, Pak Hendra, mengangguk-angguk. Ia sudah tiga puluh tahun di profesi ini, tangannya kaku oleh usia tapi masih dipercaya di sidang-sidang besar. "Kabar begini memang cepat sekali menyebar," katanya. "Baru dari mulut ke mulut, tahu-tahu sudah jadi kesimpulan."
"Justru itu." Rani melangkah pelan ke samping. "Ada pengacara yang mulai bertanya-tanya soal kualitas terjemahan. Sekali pintu itu dibuka, ia tidak menutup untuk satu orang. Ia menganga untuk kita semua. Besok lusa, setiap keterangan yang pernah kita jembatani bisa diungkit ulang. Setiap terdakwa yang kalah bisa berkata: mungkin penerjemahnya yang keliru."
Gayatri merasakan sesuatu mengendap di dasar perutnya. Rani tidak tahu. Ia yakin Rani belum tahu bahwa penerjemah yang sedang dibicarakan itu duduk di deret kedua, memegang kopi dingin. Tapi setiap kalimat perempuan itu terasa seperti ditujukan lurus ke arahnya, seperti isyarat ruang yang penempatannya tak bisa keliru dibaca: kau, di titik itu, kau yang kumaksud.
"Lalu kita harus bagaimana?" Wulan bertanya. Ia duduk dua kursi dari Gayatri, dan suaranya, meski sopan, punya ujung yang tak sepenuhnya tumpul. "Kalau memang ada terjemahan yang salah, bukankah justru kita yang paling tahu cara memperbaikinya?"
Ruangan hening sejenak. Pak Hendra berdeham.
"Yang saya minta bukan kita menutup mata," kata Rani, dan untuk pertama kali nada tenangnya menajam sedikit. "Yang saya minta kita tidak membongkar rumah sendiri di depan tetangga. Kalau ada yang perlu ditinjau, ada mekanismenya, ada forum internal, ada supervisi. Bukan di ruang sidang, bukan di koran, bukan di layar orang. Begitu satu penerjemah berdiri di depan hakim dan berkata 'saya salah', yang runtuh bukan namanya sendiri. Yang runtuh kepercayaan pada setiap tangan di ruangan ini. Termasuk tanganmu, Wulan. Termasuk tangan yang belum pernah keliru sekali pun."
"Dan kalau kepercayaan itu memang harus runtuh sedikit supaya seseorang tidak dihukum karena kata yang tak pernah ia maksud?" Wulan tidak mengangkat suara. Justru karena itu kalimatnya terdengar tajam.
"Kita bukan pembela," Rani menjawab, cepat, seperti refleks yang sudah ditanam bertahun-tahun. "Kita saluran. Begitu kita mulai merasa berhak menilai benar-salah sebuah putusan, kita tidak lagi menerjemahkan. Kita mengarang. Dan hari itu tak ada satu pun keterangan kita yang bisa dipercaya."
Gayatri menunduk ke gelasnya. Di permukaan kopi yang keruh itu ia melihat sesuatu yang tak ingin ia lihat: bahwa Rani benar dan salah pada saat yang sama, dan bahwa kebenaran keduanya justru yang membuat dadanya sesak. Sebab ia tahu, lebih dari siapa pun di ruangan ini, bahwa saluran yang Rani banggakan itu telah membelokkan air ke arah yang keliru. Isyarat ruang yang Damar buat — tangan yang menempatkan seseorang di satu titik, lalu bergerak — telah ia rendah menjadi kalimat berniat. Ia sendiri yang mengarang, di ruang keterangan itu, tanpa merasa mengarang.
"Jadi," Rani menutup, menyapu ruangan dengan pandangannya, berhenti sekejap — atau apakah Gayatri hanya membayangkannya — di deret kedua, "kalau ada di antara kalian yang tahu sesuatu, yang dengar sesuatu, saya minta satu hal. Bawa ke dalam. Ke saya, ke pengurus. Jangan ke luar. Kita jaga barisan ini rapat. Karena kalau tidak kita yang menjaganya, tidak akan ada orang lain yang mau."
Beberapa kepala mengangguk. Pak Hendra menggumamkan sesuatu tentang zaman yang makin gampang menghakimi. Kursi-kursi mulai berderik lagi, tanda rapat mendekati akhir, dan seseorang akhirnya bangkit mematikan pendingin udara.
Gayatri tetap duduk sebentar setelah yang lain mulai berdiri. Kopinya masih penuh. Ia merasakan tangan Wulan menyentuh bahunya sekilas saat perempuan muda itu lewat — bukan isyarat, hanya sentuhan — dan ia tak berani menoleh untuk membaca artinya.
Di ambang pintu, Rani menepuk lengannya, hangat, seperti seorang guru pada murid kesayangan. "Kamu tenang saja," katanya, mengira gurat di wajah Gayatri adalah cemas biasa. "Selama kita bersama, tidak ada yang bisa mengurai kita satu-satu."
Gayatri tersenyum tipis dan mengucapkan terima kasih. Ia melangkah keluar ke koridor yang lebih hangat, dan baru di tangga, jauh dari mata siapa pun, ia sadar tangannya sedikit gemetar memegang gelas yang tak jadi ia minum. Barisan sudah dirapatkan. Dan ia berdiri persis di dalamnya, di tempat yang seharusnya paling aman, merasa seperti orang yang menyembunyikan retak di tembok yang sedang dipuji semua orang karena kokohnya.