Surel itu masuk pukul sepuluh lewat, ketika Gayatri sedang menuang air panas ke gelas dan memikirkan hal-hal kecil yang tak penting—apakah ia perlu membeli kopi baru, apakah tagihan listrik sudah ia bayar. Ponselnya bergetar di meja. Nama pengirimnya ia kenal: kantor advokat tempat Pram bekerja. Subjeknya kering, sekering semua surat resmi: Pemberitahuan Permohonan Peninjauan atas Berita Acara Pemeriksaan—dan di bawahnya, nomor perkara yang sudah ia hafal tanpa pernah berniat menghafalnya.
Ia meletakkan gelas. Air masih mengepul, tapi ia lupa pada air itu.
Bukan surat untuknya, sebetulnya. Ia hanya ditembuskan sebagai pihak yang, menurut kalimat di dalamnya, "melaksanakan alih bahasa pada tahap pemeriksaan." Kalimat yang begitu netral, begitu prosedural, sehingga justru itulah yang membuat dadanya turun. Selama berminggu-minggu ia menyimpan pengetahuan tentang isyarat ruang Damar—penempatan tangan yang menandai posisi, arah yang seharusnya dibaca sebagai kejadian yang menimpa, bukan kehendak yang ia lakukan—sebagai batu yang ia telan sendiri, di kamar, dengan rekaman yang berputar. Sekarang ada orang lain yang menyentuh batu yang sama. Dari luar. Dengan tangan seorang pengacara.
Gayatri membaca surat itu tiga kali. Pada bacaan ketiga ia mulai memperhatikan hal-hal yang tak ia perhatikan pada bacaan pertama: bahwa permohonan itu secara khusus menyebut "kemungkinan ketidakcermatan dalam pengalihbahasaan keterangan terdakwa," bahwa Pram meminta agar rekaman diperiksa ulang, dan bahwa—ini yang membuat jarinya berhenti menggulir—pemohon mencadangkan hak untuk menghadirkan pihak penerjemah guna dimintai keterangan.
Pihak penerjemah. Dua kata itu berdiri sendiri, seolah menunjuk seseorang yang jauh. Padahal ia tahu persis siapa yang ditunjuk.
Ia menaruh ponsel telungkup, seakan dengan begitu kalimat-kalimat itu berhenti ada. Tentu saja tidak. Di luar jendela, seorang tetangga menyapu daun-daun, suara sapu bersentuhan dengan aspal, teratur dan sabar. Dunia berjalan seperti kemarin. Hanya di dalam dadanya sesuatu telah bergeser satu takik, dan ia tahu takik itu tak bisa dikembalikan.
Menjelang siang, ponselnya berdering. Pram.
Gayatri memandang layar cukup lama sebelum menjawab. Ketika ia menempelkan ponsel ke telinga, ia sudah menyiapkan suara yang tenang, suara profesi, suara yang biasa ia pakai untuk membuat orang percaya bahwa ia hanya saluran, hanya jembatan, tak ikut basah oleh air yang lewat.
"Bu Gayatri," kata Pram. Nadanya sopan, hati-hati, seperti orang yang menaruh gelas di meja yang licin. "Maaf mengganggu. Ibu mungkin sudah menerima tembusan tadi pagi."
"Sudah," katanya. "Saya baca."
"Saya hanya ingin memberi tahu langsung. Rasanya kurang pantas kalau Ibu tahu dari orang lain." Ada jeda. "Kami mengajukan peninjauan atas beberapa bagian berkas. Salah satunya menyangkut keterangan yang direkam saat pemeriksaan."
"Saya mengerti." Ia mendengar dirinya sendiri berkata itu, dan heran betapa rata suaranya.
"Ibu tidak dalam posisi tertuduh apa pun," Pram menambahkan, terlalu cepat, seakan sudah menduga arah pikirannya. "Ini soal prosedur. Kami ingin rekaman diperiksa oleh ahli, mungkin dengan CDI yang bisa membaca isyarat ruangnya. Bukan menyalahkan siapa-siapa. Menerjemahkan dari BISINDO ke keterangan lisan, dalam ruang seperti itu, tanpa juru bahasa isyarat Tuli yang mendampingi—saya kira siapa pun bisa berada di posisi sulit."
Ia menutup mata. Kalimat Pram itu, yang dimaksudkan untuk melapangkan, justru terasa seperti tangan yang meraba tepat di titik yang sakit. Siapa pun bisa. Ya. Tapi bukan siapa pun yang duduk di kursi itu di Bab keterangan, bukan siapa pun yang merender isyarat yang bergerak menjauh dari tubuh menjadi kalimat berpelaku, berkehendak, bermaksud. Itu tangannya. Ia mengenali tangannya sendiri di dalam rekaman itu seperti orang mengenali tulisannya sendiri di surat yang telah lama ia lupakan pernah tulis.
"Apa yang Bapak butuhkan dari saya?" tanyanya, karena itulah pertanyaan yang aman, pertanyaan yang meletakkan bola kembali ke tangan lawan bicara.
"Untuk sekarang, tidak ada," kata Pram. "Kalau majelis mengabulkan pemeriksaan ulang, ada kemungkinan Ibu diminta memberi keterangan. Sebagai penerjemah, bukan sebagai pihak. Menjelaskan bagaimana proses waktu itu. Saya hanya ingin Ibu tidak terkejut kalau panggilan itu datang."
Panggilan itu datang. Ia mengulang kalimat itu dalam kepala, dan menyadari betapa Pram memilih kata dengan cermat—setiap kata pengacara adalah kata yang telah ditimbang, sama seperti setiap kata seorang juru bahasa. Mereka berdua, dalam telepon ini, sedang saling menerjemahkan sesuatu yang tak diucapkan.
"Saya paham," ia berkata lagi. Lalu, tanpa benar-benar merencanakannya, ia menambahkan: "Pemeriksaan ulangnya—akan melibatkan CDI?"
Ada jeda kecil di seberang. Seolah Pram menandai pertanyaan itu, menyimpannya di suatu tempat. "Kami mengusulkan begitu," katanya pelan. "Menurut Ibu itu perlu?"
Gayatri menahan napas. Ia tahu Rani akan bilang: jangan menjawab, itu bukan urusanmu, kau bukan pembela. Ia tahu Wulan akan bilang: katakan, katakan sekarang, kau tahu jawabannya. Dan ia, berdiri di dapurnya sendiri dengan air yang sudah dingin di dalam gelas, berada di suatu tempat di antara keduanya, di tanah yang belum ada namanya.
"Saya rasa," katanya akhirnya, memilih setiap kata seperti memindahkan batu di sungai dangkal, "isyarat ruang memang sebaiknya dibaca oleh orang yang setiap hari hidup di dalamnya."
Ia tak berkata lebih. Ia tak mengaku apa-apa. Tapi ia tahu, dan ia curiga Pram pun tahu, bahwa kalimat sesederhana itu bukan kalimat orang yang tak punya kepentingan.
"Terima kasih, Bu Gayatri," kata Pram, dan dalam terima kasih itu ada bobot yang tak sepadan dengan basa-basi.
Setelah telepon ditutup, ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Gayatri menuang air yang sudah dingin itu ke wastafel, memandanginya berputar lalu hilang di lubang pembuangan. Mesin sudah berputar—ia bisa merasakannya, seperti roda gigi jauh yang mulai bergerak dan takkan berhenti hanya karena ia menutup mata. Ia tak lagi satu-satunya orang yang menyimpan batu itu. Dan cepat atau lambat, ia tahu, seseorang akan meminta ia meletakkannya di atas meja, di depan semua orang, dengan tangannya sendiri.
Ia mengisi gelas dengan air baru, dan kali ini tidak lupa meminumnya.