Bagas datang pada Minggu pagi, membawa map plastik warna biru yang sudutnya sudah melengkung. Ia tidak mengetuk lama-lama; kunci apartemen Gayatri memang selalu ada padanya. Dari dapur, Gayatri melihat adiknya menyandarkan map itu di meja seolah barang rapuh, lalu menyapa dengan lambaian pendek yang biasa mereka pakai sejak kecil—bukan halo yang sopan, melainkan halo yang berarti aku lapar, kau masak apa.
Gayatri menaruh dua gelas teh. Tangan mereka bicara di atas meja, cepat dan pendek, dengan ritme yang tidak perlu dijelaskan kepada siapa pun. Bagas bercerita tentang bengkel kecilnya, tentang dua kawan Tuli yang ikut bekerja, tentang mesin las yang sudah waktunya diganti. Lalu jari-jarinya melambat. Ia membuka map biru itu.
"Aku mau ajukan pinjaman," isyaratnya. Ruang di depan dadanya ia bentuk jadi kotak, tempat ia menaruh masa depan yang belum ada. "Untuk perluasan. Ada koperasi yang mau. Tapi mereka minta pertemuan resmi. Ada notaris."
Gayatri membaca lembar-lembar itu. Perjanjian pinjaman, jadwal angsuran, satu klausul jaminan yang dicetak dengan huruf lebih kecil dari yang lain. Matanya berhenti di sana lebih lama daripada yang ia mau.
"Kau sudah baca semua?" tanyanya.
Bagas mengangkat bahu dengan cara yang Gayatri kenal: setengah yakin, setengah malu. "Aku baca. Tapi bahasa surat begitu susah. Kau ikut, ya. Kau terjemahkan. Aku percaya kau."
Aku percaya kau. Isyarat itu sederhana—telunjuk yang menempel di dagu lalu turun mantap. Tapi pagi itu ia mendarat di dada Gayatri seperti sesuatu yang lebih berat dari maknanya.
Ia menuang teh yang sudah penuh. "Bagas, untuk urusan resmi begini, kau berhak minta juru bahasa yang ditunjuk koperasi. Netral. Bukan aku."
Adiknya mengerutkan kening. "Kenapa? Kau juru bahasa. Kau kakakku. Dua-duanya bagus."
Justru karena dua-duanya, Gayatri ingin berkata, tapi ia menahan tangannya di udara, ragu. Selama bertahun-tahun ia menerjemahkan untuk Bagas tanpa sekali pun menimbang batas: di ruang tunggu dokter, di kelurahan, di rapat orang tua sekolah dulu. Ia adalah suara adiknya dan itu terasa sealamiah bernapas. Tapi kini ada kotak di kepalanya, kotak lain—rekaman keterangan Damar yang berputar di malam-malam sunyi, isyarat ruang yang ia render terlalu yakin, kalimat yang ia bentuk terlalu rapi hingga terdengar seperti niat. Ia tahu sekarang, dengan pengetahuan yang tak bisa ia buang, bahwa tangannya tidak pernah netral. Setiap kata yang ia pilih membentuk sesuatu.
Dan di ruang notaris nanti, kalau ada klausul yang memberatkan Bagas, apa yang akan tangannya lakukan? Menerjemahkan datar, apa adanya, membiarkan adiknya menandatangani sesuatu yang mungkin menjeratnya bertahun ke depan? Atau melunak sedikit, memberi tekanan di kata "jaminan", menambah jeda yang berarti hati-hati—dan dengan begitu berhenti menjadi juru bahasa, mulai menjadi kakak yang membela?
Rani akan bilang: itu bukan urusanmu. Kau menyampaikan, bukan menimbang. Wulan akan bilang: kalau kau lihat orang akan celaka, kau wajib menandai. Dua suara itu berdebat di kepalanya di meja dapurnya sendiri, di hadapan adiknya sendiri, dan Gayatri baru sadar betapa nyamannya dulu—ketika ia belum tahu bahwa keduanya bisa salah.
"Klausul ini," ia menunjuk huruf kecil di lembar ketiga, memilih jadi kakak dulu, sebelum jadi apa pun. "Kalau angsuran telat tiga bulan, bengkel bisa disita. Kau lihat ini?"
Bagas membungkuk. Membacanya pelan. Wajahnya tidak berubah banyak, tapi Gayatri, yang mengenal adiknya lebih dari siapa pun, melihat sesuatu mengeras di rahangnya. "Aku lihat," isyaratnya akhirnya. "Aku tetap mau. Ini kesempatan. Kau kira aku tidak sanggup hitung risiko sendiri?"
Ada tajam di situ yang membuat Gayatri diam. Ia terlalu sering lupa: adiknya bukan anak yang perlu dijaga menyeberang jalan. Bagas menjalankan usaha, menggaji orang, menimbang risiko setiap hari dalam bahasa yang tidak pernah menganggapnya kurang. Kalau Gayatri sekarang mendadak jadi penjaga yang cemas, bukankah itu juga sejenis pengkhianatan—menganggap adiknya properti yang harus diselamatkan?
"Aku tidak bilang kau tidak sanggup," tangannya berhati-hati. "Aku bilang aku takut aku tidak bisa jadi juru bahasa yang baik untukmu. Justru karena kau adikku."
Bagas menatapnya lama. Dari wajah itu Gayatri tak bisa membaca apakah adiknya menangkap ada lapisan lain di kalimatnya—sesuatu yang tidak ia ceritakan, tentang seorang pemuda Tuli di ruang tahanan, tentang kalimat yang berputar. Ia berharap Bagas tidak menangkapnya. Ia juga, dengan malu, berharap adiknya menangkapnya, karena beban ini terlalu berat untuk dipikul sendirian di dada.
"Kalau kau terjemahkan datar-datar saja," isyarat Bagas pelan, seolah menawar, "dan aku yang putuskan. Kau cuma jembatan. Aku yang menyeberang. Bagaimana?"
Cuma jembatan. Persis kata yang Rani pakai. Tapi Gayatri sudah tahu jembatan pun punya bentuk, punya kemiringan, punya tempat orang lebih mudah tergelincir. Tak ada jembatan yang netral. Ia hanya belum tahu bagaimana mengatakan itu tanpa menakuti adiknya dengan ketakutannya sendiri.
Ia menutup map biru itu, merapikan sudutnya yang melengkung dengan ibu jari. "Beri aku waktu sampai besok," isyaratnya. "Aku carikan juga nama juru bahasa lain, untuk jaga-jaga. Kalau kau tetap mau aku, aku ikut. Tapi aku minta satu hal: di ruang itu, kalau aku ragu pada satu kata, aku akan berhenti dan bilang aku ragu. Di depanmu, di depan notaris. Aku tidak akan pura-pura yakin."
Bagas memiringkan kepala, agak heran pada kesungguhan yang tidak biasa itu. Lalu ia tersenyum, senyum yang sama sejak mereka kecil, dan mengetuk pelan punggung tangan Gayatri—tanda setuju, tanda sayang, tanda yang tak butuh kamus.
"Kau berubah," isyaratnya. "Dulu kau tak pernah bilang ragu."
Gayatri membalas senyumnya, tapi di dalam ia tahu adiknya benar, dan tahu pula bahwa perubahan itu punya nama yang belum berani ia ucapkan. Ia mengambil gelas teh yang sudah dingin, membiarkan batas antara kakak dan juru bahasa, antara rumah dan pekerjaan, mengabur di meja dapurnya sendiri—dan untuk pertama kali ia mengerti bahwa batas itu memang tidak pernah ada, ia saja yang dulu belum melihatnya.