Map penugasan bulan itu tergeletak terbuka di meja, dan Gayatri menatapnya seperti orang menatap ramalan cuaca yang tak ingin ia percaya. Kotak-kotak hari terisi rapi oleh tulisannya sendiri: sidang perdata di pengadilan negeri, dua sesi medis di rumah sakit rujukan, satu penerjemahan notaris, dan di ujung minggu, tanda bintang kecil untuk penugasan kepolisian yang belum resmi tapi sudah dijanjikan lewat telepon. Setahun lalu, deretan itu akan membuatnya lega—bukti bahwa namanya dipercaya, bahwa ia tak perlu lagi menawar-nawar tarif seperti juru bahasa baru. Kini deretan yang sama terasa seperti utang yang menumpuk pada sesuatu yang belum ia bayar.
Ia mengambil map hijau di tumpukan lain, yang isinya lebih tua: fotokopi sertifikasi, salinan surat rekomendasi, cetakan berkas pelatihan register hukum yang ia ikuti dua tahun berturut-turut. Kertas-kertas itu menyusun sebuah tubuh yang punya bentuk—seorang juru bahasa dengar tersertifikasi, terdaftar di asosiasi, dicatat baik oleh pengadilan. Semua itu berdiri di atas satu hal yang tak tertulis di mana pun: kepercayaan bahwa ketika Gayatri berkata seseorang mengatakan sesuatu, orang itu memang mengatakannya.
Cabut satu batu bata dari fondasi itu, dan ia tahu persis apa yang runtuh. Bukan hanya kasus Damar. Setiap berita acara yang pernah ia tandatangani. Setiap terjemahan lisan yang sudah jadi vonis, jadi perjanjian, jadi rekam medis. Bila ia berdiri di depan siapa pun dan berkata isyarat ruang yang dulu kurender jadi pengakuan itu sebenarnya ambigu, pertanyaan berikutnya tak akan berhenti pada Damar. Pertanyaannya akan jadi: lalu berapa kali lagi kau keliru dan diam?
Ia menutup map itu terlalu keras. Suaranya memantul di kamar yang sepi.
Ponselnya berkedip. Pesan dari penyidik yang ramah itu, yang selalu memanggilnya "Mbak Gaya" dan menawarinya kopi sachet di ruang pemeriksaan. *Mbak, yang Kamis jadi ya. Kasusnya agak sensitif, saksinya Tuli juga. Kami maunya Mbak, yang lain kurang sreg.* Ada tanda seru dan emotikon jempol, sesuatu yang begitu biasa sampai terasa kejam. Mereka memintanya karena mereka memercayainya. Karena rekam jejaknya bersih. Karena, sejauh yang tercatat di berkas mana pun, Gayatri tidak pernah salah.
Ia meletakkan ponsel telungkup, seolah dengan begitu pesan itu berhenti ada.
Dari ruang tengah terdengar Bagas dan seorang temannya tertawa—bukan suara, tapi hentakan telapak di paha, gedebuk kursi yang bergeser, tawa yang keluar sebagai embusan napas patah-patah. Mereka sedang menonton video, tangan Bagas bergerak cepat mengomentari sesuatu di layar, lincah dan riang dalam bahasa yang bukan bahasa suara. Gayatri mengintip dari ambang pintu tanpa masuk. Adiknya menoleh, mengangkat dagu, mengisyaratkan *ikut?* dengan alis terangkat. Gayatri menggeleng, menunjuk mejanya, membentuk *kerja* dengan gerak lelah. Bagas mengangguk, kembali pada temannya. Sederhana. Tak ada yang tahu bahwa di kamar sebelah kakaknya sedang menimbang apakah akan meruntuhkan dirinya sendiri.
Itulah yang membuat semuanya konkret. Bukan gagasan besar tentang keadilan—ia tak seyakin itu tentang gagasan besar. Yang konkret adalah ini: jika ia bersuara, tak akan ada lagi pesan "kami maunya Mbak". Tak akan ada map penuh kotak terisi. Asosiasi—Rani, orang-orang yang mengajarinya bahwa juru bahasa adalah saluran, bukan sumbat—akan melihatnya bukan sebagai orang jujur, melainkan sebagai orang yang mengaku telah mengkhianati justru inti pekerjaan mereka. Sebab bila satu juru bahasa mengaku terjemahannya bisa mencelakai, seluruh profesi ikut kehilangan tameng yang selama ini melindungi mereka: anggapan bahwa mereka hanya menyampaikan, tak bertanggung jawab atas isi.
Ia menghormati anggapan itu. Ia pernah bersandar padanya di malam-malam ketika ia menerjemahkan hal-hal mengerikan dan pulang dengan tangan bersih. *Kita bukan pembela,* kata Rani, dan kalimat itu dulu terasa seperti perlindungan, bukan penjara.
Gayatri menarik selembar kertas kosong dan, hampir tanpa sadar, mulai menulis. Bukan pengakuan. Hanya dua kolom, seperti neraca. Di kiri ia menulis *bila diam*. Di kanan *bila bersuara*. Di bawah *bila diam*, tangannya bergerak lancar: karier utuh, nama baik, Kamis jadi, Bagas tak terseret, Rani tak kecewa. Ia berhenti. Ada baris yang tak sanggup ia tulis di kolom itu, jadi ia menulisnya toh, kecil-kecil di sudut: *Damar tetap di sana.*
Di kolom kanan tangannya melambat. *Sertifikasi—?* Ia bahkan tak tahu apakah asosiasi akan mencabutnya, menskorsnya, atau sekadar membuatnya jadi nama yang tak lagi direkomendasikan siapa pun—kematian pelan yang lebih sopan dari pemecatan. Ia menulis *kredibilitas profesi tercoreng*, lalu memandanginya lama. Sebab itu bagian yang paling menyiksa: ia tak sedang menimbang dirinya melawan Damar. Ia menimbang Damar melawan sesuatu yang ia yakini baik. Netralitas bukan kemalasan moral; ia pernah melihatnya melindungi orang Tuli dari juru bahasa yang terlalu banyak menambahi, terlalu berani menebak. Bila ia menariknya keluar sekarang, ia tak hanya menyelamatkan satu orang—ia mungkin membuka celah bagi seratus penerjemah lain untuk berkata *aku hanya menafsir sesuai nurani*, dan nurani, ia tahu betul, bisa sekeliru isyarat ruang yang salah dibaca.
Tak ada kolom yang menang. Itu yang membuatnya berhenti menulis. Ini bukan soal berani atau pengecut, bukan soal benar melawan mudah. Ini dua hal yang ia hormati saling menyayat, dan tubuh Damar terjepit di antaranya, nyata, sembilan belas tahun, bingung, sedang menunggu di suatu tempat yang tak ia pilih.
Ia melipat kertas itu jadi empat, lalu jadi delapan, sampai terlalu tebal untuk dilipat lagi. Ponsel masih menyala di baliknya, pesan Kamis menunggu jawaban yang sopan. Dari ruang tengah, tawa tanpa suara itu meletup lagi, hangat, tak tahu apa-apa. Gayatri menarik ponsel, mengetik *Insya Allah bisa, Pak*, dan menahan ibu jarinya di atas tombol kirim—cukup lama untuk membenci betapa mudahnya jari itu bergerak, cukup lama untuk tahu bahwa penundaan bukanlah keputusan, hanya keputusan yang ditunda.
Ia belum menekan kirim ketika lampu kamar terasa terlalu terang. Tapi ia juga belum menghapusnya.