Salinan berkas itu sudah ia baca entah berapa kali, tapi malam ini Gayatri meletakkannya berbeda. Bukan di pangkuan, bukan di layar ponsel yang menyala di gelap. Ia bentangkan lembar-lembar itu di meja makan, di bawah lampu yang sengaja ia terangkan penuh, seperti orang yang hendak membedah sesuatu dan tak mau ada bayang yang menyembunyikan apa pun. Berita Acara Pemeriksaan. Nama Damar mengetik di sudut, tanggal, jam mulai, jam selesai.
Jam mulai dan jam selesai. Ia baru benar-benar melihatnya sekarang.
Empat puluh menit. Seluruh keterangan yang menentukan hidup seorang pemuda diambil dalam empat puluh menit. Gayatri menghitung ulang, seakan angka itu bisa berubah bila ditatap lebih lama. Ia ingat ruangan itu — sempit, kursi besi, meja yang catnya terkelupas, dan di dinding sebuah jam yang detiknya terdengar terlalu keras. Ia ingat penyidik yang berdiri, bukan duduk, dan cara pria itu mengetuk-ngetuk pena ke meja setiap kali Damar terlalu lama menyusun isyarat. Dulu ketukan itu tak masuk hitungannya. Ia juru bahasa; tugasnya menyampaikan, bukan menimbang suasana. Sekarang ketukan itu terdengar lagi di kepalanya, dan ia menyadari bahwa Damar pun mendengarnya — bukan dengan telinga, tapi dengan mata yang menangkap tangan gelisah itu, dengan tubuh yang belajar sejak kecil membaca kapan orang dengar mulai kehilangan sabar.
Ia tarik satu lembar lagi. Di kolom yang seharusnya mencatat pendamping, tertulis: juru bahasa isyarat — dan namanya sendiri. Hanya itu. Tidak ada baris untuk CDI. Tidak ada kolomnya bahkan. Seolah dalam bayangan sistem yang menyusun formulir ini, seorang Tuli cukup dijembatani satu orang dengar bersertifikat, dan urusan selesai. Padahal Damar bukan penutur yang tumbuh dengan isyarat baku ruang sidang. Isyaratnya membawa logat kampung, klasifikator yang ia bentuk dengan caranya sendiri, ruang yang ia tata menurut kebiasaannya. Seorang CDI — juru bahasa Tuli yang berbagi rasa bahasa itu dari dalam — mungkin akan berhenti di titik Gayatri melaju. Mungkin akan bertanya ulang, memiringkan kepala, meminta Damar mengulang dengan tubuh yang berbeda. Mungkin akan menangkap bahwa penempatan tangan itu menandai posisi, bukan maksud.
Tapi tidak ada CDI. Dan tidak ada yang menganggap ketiadaan itu janggal.
Gayatri berdiri, menyeduh air yang tak benar-benar ia inginkan, lalu duduk lagi. Ada godaan lama yang menunggunya di tepi pikiran — godaan untuk kembali menaruh seluruh beban ini di atas pundaknya sendiri, untuk menamainya sebagai kesalahannya, dosanya, tangannya. Malam-malam kemarin ia sudah menyerah pada godaan itu sampai tak bisa tidur. Tapi angka empat puluh menit itu, dan kolom yang kosong itu, dan ketukan pena itu, semuanya menariknya ke arah lain yang justru lebih mengerikan karena lebih luas.
Bukan cuma ia.
Ia raih pena dan kertas kosong, dan mulai menulis, bukan surat, bukan pengakuan, hanya daftar. Tak ada CDI. Ia tulis di baris pertama. Pemeriksaan terburu-buru — empat puluh menit. Penyidik berdiri, mengetuk, mendesak. Register hukum yang tak pernah dijelaskan pada terdakwa; kata seperti "dengan sengaja" dilempar seolah semua orang tahu artinya sama. Tidak ada jeda untuk memastikan Damar paham pertanyaannya sebelum ia menjawab. Tidak ada pengulangan. Tidak ada yang merekam isyarat aslinya secara utuh — hanya hasil terjemahan lisan yang mengalir ke mesin ketik, dan dari mesin ketik ke berkas, dan dari berkas ke dakwaan, tanpa ada satu titik pun di sepanjang rantai itu tempat seseorang berhenti dan bertanya: apa kita yakin ini yang dia maksud?
Ia berhenti menulis. Tangannya sedikit dingin.
Selama ini ia membayangkan kekeliruan itu sebagai satu simpul — satu kalimat yang ia rangkai keliru, satu isyarat ruang yang ia rebahkan ke dalam kata yang salah. Bila ia yang salah, maka ia pula yang bisa membetulkan; ada sesuatu yang hampir menghibur dalam beban sebesar itu, karena beban itu miliknya, dan yang menjadi milik bisa ditebus. Tapi lembar-lembar di meja ini memperlihatkan sesuatu yang tak bisa ia tebus sendirian. Kekeliruannya duduk di dalam ruang yang memang dibangun untuk keliru. Andai bukan ia yang menerjemahkan malam itu, akankah hasilnya berbeda? Ia ingin percaya iya. Tapi ruangannya akan tetap sempit, jamnya tetap terlalu keras, kolom CDI tetap tak ada, dan empat puluh menit tetap empat puluh menit. Juru bahasa berikutnya akan berdiri di titik yang sama, dengan pena yang sama mengetuk di sampingnya.
Ia teringat kata Rani, netralitas, saluran, menyampaikan-bukan-membela — dan untuk pertama kali kata-kata itu terasa seperti dibangun di atas anggapan bahwa saluran mengalir di tanah yang rata. Padahal tanahnya miring. Tanahnya selalu miring, dan air selalu mengalir ke bawah, dan bagian bawah selalu tempat yang sama.
Gayatri melipat daftar itu, tidak untuk disimpan sebagai bukti — belum ada yang berani ia sebut bukti — tapi karena ia tak sanggup menatapnya lebih lama. Ia matikan lampu meja, menyisakan gelap yang tadi ia usir. Di gelap itu ia tak lagi merasa seperti seorang yang harus menghukum diri. Ia merasa seperti seorang yang baru saja berdiri di ambang pintu dan melihat betapa besar rumah di baliknya — banyak kamar, banyak lorong, dan di setiap kamar seseorang seperti Damar, menunggu dijembatani oleh orang yang sedang terburu-buru.
Ia tak tahu apa yang harus ia perbuat dengan pengetahuan sebesar itu. Ia hanya tahu bahwa ia tak bisa lagi berpura-pura pengetahuan itu berukuran sebesar dirinya sendiri.