Pukul dua lewat sedikit, dan langit-langit itu masih di tempatnya. Putih, diam, dibasuh cahaya biru dari jam digital yang mengganti angkanya tanpa ampun. Gayatri berbaring telentang, tangan terlipat di atas selimut, dan menghitung. Bukan domba, bukan napas—ia menghitung berapa kali sudah ia mengubah posisi tubuh sejak lampu dimatikan. Sembilan. Sepuluh. Punggungnya hafal setiap lekuk kasur, dan kasur itu, ia yakin, mulai hafal keresahannya.
Ia menutup mata. Itu kesalahan.
Karena begitu kelopaknya turun, ruang itu kembali. Bukan kamarnya—ruang keterangan yang lain, yang dingin oleh pendingin terlalu kencang, dengan meja lipat dan map cokelat dan bau kopi instan yang menguap dari gelas plastik seorang penyidik. Damar duduk di seberang. Tangan pemuda itu terangkat, membuat ruang di udara: telapak menghadap, jari menekuk jadi klasifikator, sebuah bentuk bergerak dari kiri ke kanan lalu berhenti. Isyarat ruang. Penempatan. Arah. Peran yang belum ditetapkan siapa pelaku, siapa yang dikenai.
Dan di sana, di dalam ingatan yang berputar tanpa ia minta, ia mendengar suaranya sendiri. Suara Gayatri yang tenang, yang jernih, yang tersertifikasi. Suara yang merangkai bentuk-bentuk itu menjadi sebuah kalimat lisan yang rapi, berpokok, berpredikat, bertujuan. Sebuah kalimat yang terdengar seperti orang yang tahu persis apa yang akan ia lakukan sebelum ia melakukannya.
Gayatri membuka mata. Jantungnya berdetak seolah ia baru menaiki tangga.
Ini konyol, katanya pada diri sendiri, dengan nada yang ia pinjam dari Rani. Kau lelah. Tidurlah. Besok ada tiga penugasan. Tapi tubuhnya tidak percaya pada nada itu. Tubuhnya percaya pada dingin yang menjalar dari ujung jari, pada rahang yang mengunci diam-diam sampai giginya berderit pelan, pada dada yang terasa seperti ada yang menekan dari dalam—batu lama itu, yang sudah beberapa minggu ini menetap dan tak mau ia usir.
Ia bangkit. Lantai terasa lebih dingin dari seharusnya untuk bulan ini.
Di dapur, ia menuang air tanpa menyalakan lampu besar; cukup cahaya oranye dari lampu kompor. Ia minum berdiri, menghadap jendela, menonton lampu-lampu gang yang tak pernah benar-benar padam. Dan tangannya—tangannya sendiri, yang memegang gelas—bergerak. Bukan disengaja. Jarinya menekuk sedikit, telapaknya memiring, mencari bentuk klasifikator itu di udara gelap, seolah kalau ia mengulanginya cukup pelan, cukup jujur, ia bisa menemukan versi lain. Versi yang tidak menuduh. Versi yang menyisakan ruang bagi Damar untuk sekadar menceritakan, bukan mengakui.
Ia menurunkan tangan cepat-cepat. Menaruh gelas. Menekan telapak ke tepi meja sampai buku-buku jarinya memutih, seakan meja itu bisa menahannya di tempat.
"Mbak?"
Gayatri berbalik. Bagas berdiri di ambang, rambut mencuat, matanya sipit oleh kantuk dan cahaya. Ia pasti merasakan getar langkah kakak-nya di lantai kayu, atau melihat garis terang di bawah pintu. Tuli tak berarti tak terjaga; Bagas selalu punya cara sendiri menangkap kegelisahan rumah.
Tangan Bagas naik, malas tapi lancar. *Kenapa belum tidur?*
Gayatri menyalakan lampu kecil di atas meja supaya adiknya bisa membaca wajahnya. Dan di situlah masalahnya, pikirnya, sekilas, getir: Bagas bisa membaca wajahnya sebaik ia membaca tangan orang lain. Maka ia memasang wajah yang paling ia percaya. *Nggak apa-apa. Haus. Kerjaan banyak, kepala penuh.*
Bagas mengamatinya sebentar. *Kepala penuh apa?*
Untuk sepersekian detik, isyarat itu—*apa*—menggantung di antara mereka seperti pintu yang setengah terbuka. Gayatri merasakan seluruh berat cerita itu naik ke tenggorokannya: ruang keterangan, map cokelat, sebuah bentuk yang ia render jadi niat, seorang pemuda seusia adiknya yang kini menanggung kalimat buatannya. Bagas jangkarnya, jembatannya, orang yang paling mungkin mengerti kenapa ini menghantam sekeras ini. Justru karena itu ia tak bisa. Menceritakannya pada Bagas berarti menaruh batu itu di dada Bagas juga, dan menyeret komunitas—rumah adiknya—ke dalam sesuatu yang belum ia mengerti sendiri.
*Penugasan besok,* isyaratnya. *Rumah sakit, terus sidang perdata, terus satu lagi. Otak nggak mau mati.*
Bagas mendengus pelan, senyum sebelah. *Kakak kebanyakan mikir. Dari dulu.* Ia mengangkat dagu ke arah gelas. *Minum yang anget. Susu. Bukan air dingin jam segini.* Lalu, sebelum berbalik, tangannya melambat, jadi lebih hangat: *Jangan lupa kakak juga manusia.*
Isyarat terakhir itu tinggal di udara lebih lama dari yang lain. *Manusia.* Gayatri mengangguk, dan Bagas menghilang ke lorong, langkahnya berat oleh kantuk, tak menoleh lagi.
Ia tidak membuat susu. Ia kembali ke kamar, duduk di tepi kasur, dan membiarkan angka jam berganti: 02.41. 03.03. 03.17.
Setiap kali ia hampir tenggelam, sesuatu menariknya ke atas permukaan—bukan mimpi buruk yang jelas, hanya potongan. Tangan Damar. Suaranya sendiri. Wajah penyidik yang mengangguk puas mendengar terjemahan yang begitu bersih, begitu bisa dipakai. Ia bertanya-tanya, di kegelapan itu, apakah ada yang keliru pada dirinya karena tak sanggup mematikan ini. Ia sudah menerjemahkan hal-hal berat sebelumnya: pengakuan kekerasan, kabar kematian, sengketa yang membuat orang menangis di depannya. Ia selalu bisa menaruhnya di rak setelah pulang, menutup pintu, tidur. Itu bagian dari pekerjaan—register yang benar, jarak yang benar, netralitas yang benar. Rani mengajarinya begitu, dan ia patuh, dan itu selalu berhasil.
Kali ini rak itu tak mau menutup. Kali ini yang ia taruh di sana adalah tangannya sendiri.
Menjelang subuh, ketika garis abu mulai merembes di celah tirai dan azan pertama terdengar samar dari kejauhan, Gayatri masih terjaga, mata perih, kepala berat seperti diisi pasir basah. Ia tidak menang melawan malam. Ia hanya menunggunya lewat.
Ia bangkit, membasuh muka dengan air yang terlalu dingin, dan menatap pantulannya di cermin retak-kecil di sudut. Wajah itu wajahnya. Tapi ada yang lelah di sana yang tak mau pergi hanya dengan cuci muka. Tiga penugasan menunggu. Tangannya harus tenang, jernih, tepat—tangan yang dipercaya orang untuk mengubah isyarat jadi kata tanpa menambah, tanpa mengurang.
Ia menatap kedua tangannya di bawah keran. Untuk pertama kalinya, ia tidak sepenuhnya percaya pada keduanya. Dan ia tetap mengeringkannya, dan tetap bersiap, karena itulah yang ia bisa lakukan pagi ini: berdiri, dan berjalan ke ruang berikutnya, membawa malam yang tak mau tidur itu di dalam dada.