Ruang mediasi di kantor dinas tenaga kerja itu tak lebih besar dari ruang kelas, dan meja panjang di tengahnya membelah dua pihak seperti garis perbatasan. Gayatri duduk di ujung, kursinya sengaja ditarik agak menyerong — bukan di sisi siapa-siapa. Dari sana ia bisa menangkap keduanya sekaligus: Pak Tarno di kiri, lelaki lima puluhan dengan tangan terlipat di atas map plastik yang sudutnya sudah menggulung; dan tiga orang dari perusahaan di kanan, berkemeja licin, folder berlabel, ponsel yang sesekali menyala di pangkuan.
Mediator membuka dengan suara datar orang yang sudah ratusan kali membuka pertemuan serupa. Empat belas tahun Pak Tarno di pabrik pengepakan itu. Dua ruas jari kirinya tinggal kenangan sejak mesin pres menjepitnya tiga tahun lalu. Lalu, musim lalu, ia dirumahkan dengan alasan yang tercetak rapi: tidak lagi memenuhi standar produktivitas. Kini mereka duduk di sini menakar pesangon.
Wakil perusahaan bicara lebih dulu. Kalimatnya halus, penuh istilah, disokong angka. Gayatri mengalihkannya ke tangan — jernih, sepadan register: sopan yang dingin, sopan yang berjarak. Pak Tarno mengikuti tiap gerak jarinya, dahi berkerut, sesekali mengangguk kecil seolah mencocokkan dengan yang sudah ia duga.
Lalu giliran lelaki itu.
Tangannya bergerak dan seluruh tubuhnya ikut bicara. Ia menaruh pabrik di ruang di depannya, menempatkan mesin di sisi kanan, tangannya sendiri menyusup ke sana — klasifikator yang begitu gamblang hingga Gayatri seakan mendengar deru pres itu di ruangan yang senyap. Empat belas, isyaratnya, jari-jari terbuka dua kali lebih sedikit dua. Empat belas tahun. Lalu ia membuang sesuatu dari telapaknya ke lantai, gerak singkat, tajam: dibuang seperti sarung tangan sobek.
Gayatri menyuarakannya. "Empat belas tahun saya di sana. Sekarang saya dibuang seperti sarung tangan yang sudah sobek."
Ia menahan diri agar suaranya tetap rata. Bukan dingin, bukan pula memelas — persis setinggi register yang Pak Tarno pakai: lurus, terluka, tanpa bantalan.
Tangan lelaki itu menuding ke seberang meja. Tangan saya jadi begini, isyaratnya, mesin kalian. Kalian tahu. Tak ada maaf sebelumnya, tak ada barangkali, tak ada bapak-ibu yang terhormat. Hanya tuduhan telanjang.
Di sinilah Gayatri merasakannya. Godaan itu sekecil embusan napas: ia bisa membungkus. Ia bisa menyisipkan izin, Bapak, dengan hormat; ia bisa menukar dibuang jadi diberhentikan; ia bisa memberi lelaki ini logat memohon yang biasa didengar telinga dengar dari orang yang datang meminta belas. Satu kata yang dilunakkan, dan mediator di ujung meja mungkin akan melihat korban, bukan orang yang sulit. Ia tahu persis kata mana yang harus digeser. Ia sudah menggenggamnya di ujung lidah.
Ia tidak menggesernya.
"Tangan saya jadi begini karena mesin kalian. Kalian tahu itu."
Kalimat itu jatuh di meja telanjang seperti aslinya. Wakil perusahaan yang di tengah menegakkan punggung. Yang di kanannya berbisik. Gayatri melihat sesuatu mengeras di wajah-wajah itu — bukan rasa bersalah, melainkan pertahanan. Nada tuduhan itu, yang dari tangan Pak Tarno adalah luka, di ruang ini berubah jadi serangan. Dan orang yang menyerang lebih mudah ditolak ketimbang orang yang merintih.
Mediator berdeham. "Mari kita jaga ini tetap konstruktif, ya, Pak." Ia menoleh ke Gayatri, seakan Gayatri bisa menjinakkan sesuatu. Gayatri hanya mengalihkan kalimat itu ke tangan, apa adanya, dan membiarkan Pak Tarno menjawab sendiri. Bukan urusannya menjinakkan. Kode etik itu berdiri tegak di dadanya seperti pagar, dan hari ini pagar itu terasa terlalu rapi.
Sisa mediasi berjalan seperti air yang sudah tahu ke mana ia turun. Wakil perusahaan menyebut Pak Tarno "emosional", "sulit diajak berunding", dan angka di atas kertas mereka tak bergerak naik. Mereka menawarkan pesangon yang, Gayatri tahu dari perkara-perkara serupa, jauh di bawah yang layak untuk empat belas tahun dan dua ruas jari. Mereka membingkainya sebagai iktikad baik, penyelesaian cepat, daripada berlarut ke pengadilan yang mahal dan panjang.
Pak Tarno bertanya lewat tangan, capek, apakah kalau ke pengadilan ia bisa menang. Mediator menjawab hati-hati: bisa, tapi butuh waktu, butuh biaya, butuh pengacara. Gayatri mengalihkan tiap kata, netral, lengkap, termasuk jeda yang membuat "butuh biaya" menggantung lebih lama dari yang lain.
Ia melihat perhitungan berlangsung di mata lelaki itu. Anak yang masih sekolah. Tabungan yang menipis. Berapa bulan lagi ia sanggup bertahan tanpa upah demi selisih yang belum tentu ia menangi. Pundaknya turun sedikit demi sedikit, dan Gayatri mengenali bentuk kekalahan itu — bukan yang meledak, melainkan yang mengempis.
Pak Tarno menandatangani perjanjian bersama itu dengan tangan kanannya yang utuh. Gorésan pena terdengar terlalu keras di ruangan yang diam.
Di koridor, sesudahnya, lelaki itu menghampirinya. Gayatri menyiapkan diri untuk kepahitan, untuk tudingan, untuk apa pun yang layak ia terima. Tapi Pak Tarno hanya tersenyum lelah dan mengisyaratkan, pelan, terima kasih. Isyaratmu jelas, Mbak. Kamu tidak menutup-nutupi maksudku.
Gayatri membalas terima kasih, dan senyum di wajahnya terasa seperti pinjaman. Justru pujian itu yang paling menyakitkan. Ia telah menyampaikan tiap gerak Pak Tarno dengan setia, tanpa cacat, tanpa condong — dan kesetiaan yang bersih itulah yang membiarkan lelaki ini pulang dengan tangan hampir kosong. Seandainya ia sedikit tak setia, sedikit lebih hangat, mungkin hasilnya lain. Mungkin.
Ia menuruni tangga kantor dinas ke jalan yang panas. Rani akan berkata ia melakukan tugasnya dengan benar; menyampaikan, bukan membela. Wulan akan berkata ada tanda yang tak ia beri, advokasi yang ia telan. Keduanya, hari ini, terdengar sama-sama sahih dan sama-sama tak cukup.
Di tas selempangnya, ponsel itu terasa berat tanpa alasan. Di dalamnya masih ada rekaman lain yang menunggu di kamar sunyi — suara yang pernah ia rendam dari tangan pemuda bernama Damar, dulu, ketika ia belum tahu bahwa setia dan lunak tidak selalu berpihak pada orang yang sama. Ia mengepalkan lalu membuka kedua tangannya, seakan memeriksa apakah keduanya masih miliknya.
Lalu ia berjalan pulang, membawa satu netral lagi yang sudah dibayar orang lain.