Ruang pelatihan di lantai tiga gedung asosiasi itu berbau kopi instan dan karpet lama. Gayatri datang terlambat lima menit, menyelinap ke kursi baris belakang, dan langsung tahu ia salah memilih hari untuk hadir. Di depan, Wulan berdiri tanpa podium, tangannya sudah bergerak sebelum kata pertama keluar dari mulutnya.
"Kita diajari," kata Wulan, isyarat dan suaranya berjalan bersama untuk peserta dengar maupun Tuli di ruangan itu, "bahwa juru bahasa adalah kaca. Bening. Tak berwarna. Apa pun yang lewat, lewat apa adanya." Ia berhenti. "Aku ingin bertanya satu hal. Pernahkah kalian melihat kaca yang benar-benar tak punya warna?"
Beberapa peserta muda tertawa kecil. Gayatri tidak. Ia mengenali kalimat itu sebagai serangan halus, dan ia tahu ke arah siapa serangan itu ditujukan, meski Rani tidak ada di ruangan ini sore itu. Doktrin Rani hadir tanpa perlu tubuhnya. Kita bukan pembela. Kita menyampaikan, bukan membela. Kalimat yang minggu lalu diucapkan mentornya seolah paku yang ditancapkan agar tak bisa dicabut lagi.
Wulan memanggil seorang relawan Tuli ke depan, seorang lelaki muda bernama Fikar, dan meminta izin memperagakan sesuatu. Fikar mengangkat kedua tangannya, membuat isyarat ruang: satu tangan menjadi kendaraan, tangan lain menjadi sosok yang berdiri, jarak di antara keduanya menyempit lalu berhenti. Klasifikator. Sebuah adegan yang dilukis di udara, lengkap dengan arah, kecepatan, dan peran.
"Sekarang," kata Wulan, berpaling pada peserta dengar, "terjemahkan. Dalam satu kalimat lisan. Cepat, seperti kalau kalian sedang di ruang keterangan dan penyidik menunggu."
Seseorang menyebut, "Ia menabrak orang itu." Yang lain, "Kendaraannya hampir menabraknya." Yang ketiga, ragu, "Orang itu... berdiri, lalu ada kendaraan mendekat?"
"Tiga terjemahan," Wulan mengangkat tiga jari. "Satu menaruh niat. Satu menaruh nyaris. Satu tidak menaruh apa-apa, hanya melaporkan ruang. Fikar tidak mengubah tangannya sama sekali. Yang berubah adalah kita." Ia menurunkan tangannya perlahan. "Isyarat ruang tidak mengeja subjek dan objek seperti kalimat kalian. Ia menunjukkan. Dan ketika kita memaksa tunjukan itu masuk ke tata bahasa lisan yang menuntut siapa-melakukan-apa-pada-siapa, kita memilih. Setiap kali. Kaca itu selalu punya warna. Pertanyaannya cuma apakah kita jujur soal warnanya."
Gayatri merasa ada yang mengendap di dadanya, dingin dan berat, batu yang sudah beberapa minggu ini menolak larut. Ia menunduk ke tangannya sendiri di pangkuan, tangan yang beberapa bulan lalu pernah mengubah isyarat ruang seorang pemuda menjadi sebuah kalimat yang terdengar seperti pengakuan niat. Ia hafal betul kalimat itu. Ia yang menyusunnya. Waktu itu ia bahkan tidak ragu.
Sesi resmi berakhir setengah jam kemudian. Peserta bubar berkerumun di meja kopi, dan Gayatri hendak pergi diam-diam ketika Wulan menghampirinya, dua gelas plastik di tangan, satu disodorkan kepadanya.
"Mbak Gayatri, kan," kata Wulan. "Aku sering dengar nama Mbak. Katanya salah satu yang paling teliti untuk urusan ranah hukum."
"Aku cuma kebetulan sering dibooking," jawab Gayatri, menerima gelas itu supaya tangannya punya sesuatu untuk dipegang.
Wulan tersenyum, tapi matanya menimbang. "Tadi Mbak tidak ikut menerjemahkan waktu aku minta relawan mencoba."
"Aku menonton saja."
"Menonton juga sebuah pilihan." Wulan mengatakannya tanpa nada menghakimi, lebih seperti seseorang yang memang percaya kalimat itu sampai ke tulang. Ia menyeruput kopinya. "Aku tahu apa yang orang bilang soal aku di asosiasi. Bahwa aku terlalu aktivis. Bahwa aku mencampur peran, tidak bisa memisahkan diri dari komunitas." Ia mengangkat bahu. "Mereka tidak salah soal aku dari komunitas. Aku besar dengan sepupu Tuli. Buatku, netral itu mewah. Kalau aku merender sebuah isyarat yang ambigu menjadi kalimat yang gamblang, dan kalimat itu dipakai untuk memberatkan orang di pengadilan, aku tidak sedang menjadi kaca. Aku sedang menandatangani sesuatu."
Kata menandatangani itu masuk seperti serpih ke bawah kuku. Gayatri menjaga wajahnya tetap datar, refleks yang sudah menjadi bagian dari profesinya. "Rani akan bilang itu bukan wewenang kita. Kalau maknanya ganda, itu urusan pengacara dan hakim menggali. Kita hanya jujur pada apa yang diisyaratkan."
"Rani mengajari Mbak?" Wulan mengangguk pelan, seolah itu menjelaskan banyak hal. "Aku hormat sama beliau. Sungguh. Tapi menurutku diam soal ambiguitas bukan netral. Itu berpihak pada tafsir yang kebetulan keluar duluan dari mulut kita." Ia meletakkan gelasnya. "Kalau ada dua makna, dan yang satu bisa mengirim orang ke penjara, kewajiban kita minimal menandainya. Bilang ke ruangan: ini bisa berarti A, bisa berarti B, saya butuh CDI, saya butuh diperjelas. Itu bukan membela. Itu jujur. Bedanya tipis, tapi ada."
"Dan kalau penyidik tidak mau menunggu? Kalau ruangan itu ingin cepat selesai?"
"Maka kita catat bahwa kita menandai, dan mereka memilih tidak mendengar." Wulan menatapnya lurus. "Setidaknya bukan tangan kita satu-satunya yang di sana."
Gayatri tidak menjawab. Di kepalanya, sebuah ruang keterangan berpendingin rusak berputar kembali: seorang pemuda dengan tangan yang gelisah, seorang penyidik yang mengetuk meja, dan dirinya sendiri yang menerjemahkan cepat, rapi, tanpa satu pun tanda peringatan. Tak ada catatan. Tak ada permintaan CDI. Hanya kalimat yang bersih dan pasti, yang kini terbaring di sebuah berkas dan menua menjadi kebenaran.
"Terjemahan yang jelas itu terasa seperti kompetensi," kata Gayatri akhirnya, pelan, hampir pada dirinya sendiri. "Ambiguitas terasa seperti kita tidak becus."
Wulan menoleh, sedikit terkejut, lalu wajahnya melembut, seakan baru saja menangkap sesuatu yang tidak diucapkan. "Itu," katanya, "kalimat paling jujur yang kudengar sepanjang sore ini." Ia meraih tasnya. "Kalau suatu saat Mbak ingin ngobrol lagi — bukan soal doktrin, soal kasus betulan — aku ada."
Ia pergi meninggalkan kartu nama di meja, di samping gelas kopi Gayatri yang belum tersentuh. Gayatri menatap kartu itu lama sekali sebelum memasukkannya ke saku, dan sepanjang perjalanan pulang batu di dadanya terasa sedikit lebih berat dari yang bisa ia akui pada siapa pun.