Ruang konseling di lantai tiga rumah sakit jiwa itu hanya cukup untuk empat kursi, satu meja rendah, dan sekotak tisu yang sengaja diletakkan di tengah seperti sebuah ramalan. Gayatri Wirjawan duduk di sudut yang sudah ia pilih sejak menit pertama: tidak di belakang klien, tidak di samping psikolog, melainkan pada titik yang membentuk segitiga sempurna. Dari situ tangannya bisa dibaca tanpa memaksa siapa pun memutar leher, dan wajahnya tetap berada di luar garis pandang utama. Ia sudah belajar lama bahwa juru bahasa yang baik adalah juru bahasa yang tidak diingat.
Klien hari itu seorang perempuan muda bernama Rahma, dua puluh tiga tahun, Tuli sejak lahir. Psikolognya, Bu Wandan, berbicara dengan tempo yang menyenangkan, kalimat-kalimat pendek, jeda yang sopan. Gayatri mengalihkan suara itu ke dalam BISINDO dengan tangan yang bergerak rapi dan ekonomis. Ketika Rahma menjawab, jemarinya sendiri yang berbicara, ekspresi wajahnya yang menjelaskan nada, dan Gayatri mengubahnya kembali menjadi suara Indonesia yang setia. "Saya capek pura-pura baik-baik saja di rumah," kata Rahma lewat tangannya. "Saya capek pura-pura baik-baik saja di rumah," ucap Gayatri, dengan suara yang ia jaga datar persis seperti datarnya wajah Rahma saat mengisyaratkannya.
Itu hukumnya. Hukum suci yang ia ulang dalam hati seperti tasbih. Terjemahkan utuh. Jangan menambah. Jangan menghaluskan. Jangan menjelaskan apa yang tidak diucapkan. Jangan menjadi pengacara, jangan menjadi penolong, jangan menjadi teman. Kalau Rahma menangis, bukan tugas Gayatri menyodorkan tisu; itu tugas Bu Wandan, dan kalau Bu Wandan lupa, kelupaan itu pun harus tetap utuh, karena itu bagian dari kebenaran ruangan. Gayatri adalah kaca bening. Cahaya lewat tanpa berubah warna. Itu yang membuatnya bangga. Itu yang membuatnya merasa, untuk sekali dalam hidupnya, bersih.
Sesi berlangsung lima puluh menit tanpa satu pun riak. Tidak ada salah alih, tidak ada jeda yang terlalu panjang, tidak ada tangan yang lelah lebih dulu dari yang seharusnya. Ketika Bu Wandan mengakhiri dengan kalimat penutup yang lembut, Rahma menatap Gayatri sekilas dan mengangguk, ucapan terima kasih kecil yang tidak ia minta dan tidak ia balas dengan lebih dari kedipan. Sebab membalas berlebihan pun adalah menambah.
Di koridor, sambil melonggarkan jari-jari yang mulai terasa kaku di buku-bukunya, Gayatri merasa puas dengan keheningan dirinya. Ia memikirkan ibunya tanpa benar-benar berniat memikirkannya. Begitulah ingatan itu bekerja, datang dari samping, tidak pernah dari depan. Sejak ia berumur lima tahun, ia sudah jadi mulut ibunya. Ibu Tuli, ayah dengar yang pergi lebih dulu daripada kenangan yang sempat terbentuk tentangnya. Gayatri kecil yang menelepon tukang gas, yang menjelaskan pada guru kenapa surat izin ditulis dengan tata bahasa yang aneh, yang berdiri di loket bank menerjemahkan keinginan ibunya kepada petugas yang bicara terlalu cepat sambil melihat ke arah Gayatri, bukan ke arah ibunya, seolah ibunya tidak ada di sana.
Ia membenci itu. Bukan membenci ibunya, tidak pernah. Ia membenci bagaimana orang berbicara kepadanya tentang ibunya, di depan ibunya, seakan tubuh perempuan itu cuma perabot. Dan ia membenci satu hal lagi yang lebih sulit diakui: ia membenci betapa mudahnya, dulu, ia menyelipkan dirinya sendiri ke dalam suara ibunya. Menghaluskan kemarahan ibu agar petugas tidak tersinggung. Menambahkan permintaan maaf yang tidak pernah ibunya ucapkan. Pada usia delapan tahun ia sudah jadi diplomat tanpa pernah dipilih jadi diplomat, dan suara ibunya pelan-pelan berubah jadi suara Gayatri yang menyamar. Ketika ia sadar, ia merasa seperti pencuri.
Maka ia bersumpah. Bukan sumpah anak-anak yang lucu, tapi sumpah yang ia bawa sampai ke meja sertifikasi bertahun kemudian. Ia tidak akan pernah lagi menukar suara seseorang dengan suaranya sendiri. Ia akan jadi sebening mungkin sehingga tidak ada lagi anak Tuli atau orang dewasa Tuli yang harus dicuri suaranya oleh seorang penerjemah yang merasa lebih tahu apa yang baik untuk mereka. Disiplin menghilang itu, baginya, bukan kelemahan. Itu penebusan.
Teleponnya bergetar di saku jaket saat ia menuruni tangga. Nomor tak dikenal, kode area kota. Ia mengangkatnya di anak tangga terakhir.
"Selamat sore, dengan Saudari Gayatri Wirjawan, juru bahasa isyarat tersumpah?" Suara laki-laki, formal, lelah. Latar belakangnya berdengung seperti kipas angin dan papan ketik.
"Betul, dengan saya."
"Saya Aiptu Darman dari Polsek, unit reskrim. Kami membutuhkan juru bahasa isyarat untuk pemeriksaan malam ini. Saudara yang akan diperiksa seorang penyandang tunarungu, dan kami diberi nomor Saudari dari daftar yang bersertifikat." Ada jeda kecil. "Bisa malam ini juga? Sebelum jam delapan."
Gayatri berhenti di kaki tangga. Pemeriksaan, bukan konseling. Berita acara, bukan sesi terapi. Ruang dengan kamera dan kalimat yang akan disimpan, dibaca, dikutip. Ada perbedaan besar antara menerjemahkan kesedihan seseorang dan menerjemahkan kata-kata yang bisa mengubah hidupnya. Ia tahu itu. Ia sudah pernah masuk ruang seperti itu, dan setiap kali ia keluar dengan tangan yang lebih dingin daripada saat masuk.
"Perkara apa, kalau boleh saya tahu lebih dulu?" tanyanya. Bukan rasa ingin tahu. Persiapan. Glosarium di kepalanya mulai membuka diri, mencari kira-kira istilah hukum apa yang akan dilemparkan ke ruangan itu, istilah yang mungkin tidak punya padanan isyarat yang baku, yang harus ia bangun di tempat, di depan orang yang nasibnya bergantung pada seberapa tepat ia membangunnya.
"Dugaan tindak pidana. Saya tidak bisa banyak menjelaskan lewat telepon." Aiptu Darman batuk kecil. "Yang penting Saudari datang. Orangnya sudah di sini sejak siang, dan kami belum bisa memeriksanya dengan benar karena belum ada penerjemah. Kasihan dia, tidak paham apa-apa."
Kasihan dia, tidak paham apa-apa. Gayatri menelan kalimat itu tanpa menanggapinya. Ia sudah hafal kalimat itu seperti hafal jalan pulang. Setiap orang dengar yang berniat baik selalu memulai dengan kasihan, dan kasihan itulah yang paling sering melahirkan kesalahan. Orang Tuli tidak butuh dikasihani. Orang Tuli butuh diterjemahkan dengan benar.
"Saya akan datang," katanya. "Tolong sampaikan alamat lengkapnya lewat pesan. Dan satu hal, Pak. Tolong pastikan ruangannya cukup terang. Saya tidak bisa membaca tangan dalam temaram."
Laki-laki itu terdengar agak heran, seperti tidak pernah ada yang meminta cahaya kepadanya. "Akan saya usahakan."
Gayatri menutup telepon dan berdiri sebentar di kaki tangga rumah sakit yang sepi. Sore mulai turun di luar jendela koridor, mengubah lantai menjadi jingga. Ia memandang tangannya sendiri, sepuluh jari yang sepanjang hari sudah jadi suara orang lain, dan untuk alasan yang tidak segera ia mengerti, ia merasa ada sesuatu yang menunggu di ruang tanpa jendela itu yang tidak akan bisa ia terjemahkan tanpa, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, melukai orang yang ia jembatani.