Ruang pelatihan di lantai tiga gedung asosiasi itu selalu bau kopi instan dan spidol yang mengering. Gayatri duduk di baris kedua, memangku buku catatan yang halamannya nyaris kosong, sementara Rani berdiri di depan papan tulis putih dengan tangan bersedekap. Di papan, seseorang sebelumnya menuliskan satu kata besar-besar: NETRALITAS. Rani tidak menghapusnya. Ia justru mengetuk kata itu dengan ujung spidol, dua kali, seolah memaku sesuatu yang bisa lepas.
"Ada yang bertanya pada saya minggu lalu," kata Rani, suaranya rata seperti biasa, tanpa naik-turun yang berlebihan, "apakah kita boleh melembutkan sebuah kalimat kalau kita tahu kalimat itu akan mencelakai orang yang kita terjemahkan."
Beberapa peserta muda mengangkat kepala. Gayatri merasakan sesuatu mengetat di bawah tulang dadanya, di tempat yang sama tempat batu itu bersarang sejak malam-malam ia memutar ulang rekaman Damar. Ia menunduk ke buku catatan, menuliskan tanggal, lalu menghapusnya lagi dengan ujung kuku.
"Jawaban saya: tidak," kata Rani. "Dan saya ingin kalian mengerti kenapa, bukan sekadar menghafalnya."
Rani menarik kursi, memutarnya, dan duduk menghadap mereka dengan punggung kursi di depan dada. Gestur yang sudah Gayatri kenal bertahun-tahun. Itu gestur Rani ketika ia hendak bicara bukan sebagai pengajar, melainkan sebagai orang yang pernah terbakar.
"Kita bukan pembela," kata Rani. "Kita bukan pengacara, bukan hakim, bukan wali. Begitu kalian mulai memutuskan kalimat mana yang pantas didengar dan mana yang perlu dijinakkan, kalian sudah berhenti jadi juru bahasa. Kalian jadi sensor. Dan orang yang paling dirugikan oleh sensor yang baik hati bukan lawan bicaranya—melainkan orang Tuli yang kalian kira sedang kalian lindungi."
Seorang peserta, laki-laki dengan kacamata bulat, mengangkat tangan. "Tapi kalau kita tahu penerjemahannya bisa disalahpahami, Bu? Kita diam saja?"
"Kalian sampaikan apa adanya. Kalau ada ambiguitas dalam sumbernya, ambiguitas itu bukan milik kita untuk dibereskan. Itu milik proses. Ada mekanismenya—minta klarifikasi ke penuturnya, catat register-nya, minta CDI kalau kasusnya berat. Tapi kita tidak menambal makna dengan tafsir kita sendiri, sebaik apa pun niatnya." Rani menoleh, dan matanya menemukan Gayatri di baris kedua. "Betul, Gayatri?"
Gayatri merasa seluruh ruangan berputar setengah derajat. Ia mengangkat wajah dan tersenyum tipis, senyum yang ia latih selama bertahun-tahun untuk ruang keterangan, ruang medis, ruang mana pun yang menuntutnya terlihat tenang.
"Betul, Bu," katanya. Suaranya keluar utuh. Ia sendiri heran.
"Gayatri ini murid saya yang paling saya percaya soal ini," kata Rani kepada yang lain, tanpa tahu apa yang sedang ia lakukan pada perempuan yang ia puji. "Ia tidak pernah membawa perasaannya ke dalam terjemahan. Kalau penuturnya marah, ia menyampaikan marah. Kalau penuturnya ragu, ia menyampaikan ragu. Ia tidak memperhalus, tidak mempertajam. Itulah kesetiaan."
Kesetiaan. Kata itu mendarat di Gayatri seperti telapak tangan di pipi. Ia memikirkan isyarat ruang yang Damar buat di ruang keterangan itu—tangan yang menempatkan seseorang di satu titik udara, lalu menggerakkan klasifikator ke arah lain, sebuah geometri yang bisa berarti 'ia mendekatiku' atau 'aku bergerak ke arahnya', dua kalimat yang di pengadilan berjarak sejauh niat dari kebetulan. Ia telah memilih satu. Ia telah merender satu. Dan Rani menyebutnya kesetiaan.
"Ada yang bilang," Rani meneruskan, dan kali ini nadanya sedikit lebih tajam, "bahwa juru bahasa harus jadi advokat. Bahwa kalau bahasanya timpang, kalau sistemnya tidak adil, kita wajib berpihak. Saya paham dari mana itu datang. Saya paham marahnya." Ia diam sejenak. "Tapi begitu kalian berpihak sekali, kalian tidak bisa berhenti. Besok kalian akan menerjemahkan lawan yang menurut kalian jahat, dan kalian akan tergoda mempersulit lidahnya. Dan orang Tuli akan belajar bahwa apa yang mereka isyaratkan tidak akan sampai utuh—selalu ada tangan pendengar di tengah, menyaring, menimbang, memihak. Itu bukan jembatan. Itu bendungan."
Ruangan hening. Di luar jendela, suara motor lewat, jauh dan tak peduli.
"Netralitas itu berat," kata Rani, lebih pelan sekarang. "Kadang ia terasa kejam. Kadang kalian akan pulang dengan tangan gemetar karena kalian menyampaikan sesuatu yang menghancurkan seseorang, dan kalian tidak boleh menahannya. Tapi justru di situ letak kehormatannya. Kita menahan diri supaya suara mereka yang sampai—bukan suara kita tentang mereka."
Seseorang bertepuk pelan, entah refleks atau kagum. Gayatri tidak ikut. Ia menatap kata di papan tulis itu, NETRALITAS, dan untuk pertama kalinya kata itu tampak seperti bangunan yang ia tinggali seumur hidup, yang baru sekarang ia sadari tidak punya lantai.
Karena Rani salah, pikirnya, dan pikiran itu datang begitu pelan hingga nyaris tak terasa seperti pengkhianatan. Bukan salah bahwa netralitas berharga. Tapi salah bahwa ia mungkin. Gayatri tidak menahan makna Damar. Ia juga tidak menambahkannya. Ia hanya memilih—karena satu isyarat ruang menuntut sebuah kalimat, dan kalimat tidak punya ruang untuk dua kemungkinan sekaligus. Diam bukan pilihan. Setiap terjemahan adalah tangan yang memutuskan. Ia telah memutuskan, dan ia tidak tahu itu keputusan sampai terlambat.
Sesi bubar. Peserta-peserta muda mengerumuni Rani, bertanya hal-hal teknis, dan Rani menjawab dengan sabar seperti selalu. Gayatri membereskan bukunya perlahan, mengulur waktu, sampai ruangan hampir kosong.
"Kau diam sekali hari ini," kata Rani, menghampiri, memasukkan spidol ke saku. Ada kehangatan tua di suaranya, kehangatan yang membuat Gayatri ingin sekaligus memeluknya dan lari darinya.
"Sedang banyak pikiran, Bu."
"Kasus?"
Gayatri menahan napas sepersekian detik. "Yang biasa."
Rani mengangguk, puas, tidak curiga. Ia menepuk bahu Gayatri. "Kau tahu kenapa aku tenang menyerahkan ruang-ruang sulit ke tanganmu? Karena kau tidak pernah tergoda jadi pahlawan. Teruslah begitu."
Gayatri tersenyum, dan senyum itu bertahan sampai Rani keluar pintu. Baru setelah langkah mentornya hilang di tangga, ia menatap kembali papan tulis yang belum sempat dihapus siapa pun. Ia mengambil penghapus. Ia berdiri di depan kata itu cukup lama. Lalu ia meletakkan penghapus itu kembali tanpa menyentuhnya, dan meninggalkan ruangan dengan NETRALITAS masih tertulis besar di belakangnya, utuh, tak tergugat—untuk hari ini.