Sekar menepuk meja dua kali—getarannya menjalar ke lengan Gayatri yang sedang menuang teh—lalu tangannya bergerak cepat, riang, seperti biasa. Mereka duduk di tepi ruang serba guna, jauh dari panggung kecil tempat anak-anak Tuli latihan drama untuk acara bulan depan. Bau kopi sachet dan gorengan dingin memenuhi udara. Di sudut sana Bagas sibuk memasang spanduk, sesekali menoleh dan melempar isyarat jenaka pada kakaknya.
"Kamu dengar soal anak yang ditahan itu?" tanya Sekar. Ia mengeja nama dengan jari, D-A-M-A-R, lalu membuat isyarat penjara: dua tangan berjeruji di depan wajah.
Gayatri menahan cangkir di bibirnya sedikit lebih lama dari perlu. Ia menelan, meletakkan cangkir, membiarkan tangannya menjawab dengan tenang. "Sedikit. Kenapa?"
"Semua orang bicara." Sekar melirik ke kanan-kiri, kebiasaan lama komunitas yang tahu betul betapa cepat kabar berpindah dari tangan ke tangan. "Katanya dia dituduh yang berat. Padahal—" jari-jarinya melambat, menegas, "—anak itu tidak begitu. Sepupuku satu kampung sama ibunya. Damar itu pemalu. Kalau ada ribut, dia yang paling dulu mundur."
Gayatri mengangguk. Ia merasa dadanya menegang, otot kecil di bawah tulang rusuk yang belakangan ini seperti punya nyawa sendiri, mengencang tiap kali nama itu muncul. Ia memaksa wajahnya tetap datar, ekspresi juru bahasa yang sudah ia latih bertahun-tahun: hadir, sopan, tak terbaca.
"Yang bikin orang marah," lanjut Sekar, "katanya waktu diperiksa, keterangannya jadi kebalik. Dia cerita apa, yang keluar apa. Ada yang bilang isyaratnya diartikan seolah dia ngaku mau. Padahal isyarat begitu—" Sekar memperagakan sesuatu di ruang di depan dadanya, sebuah gerak yang menempatkan dua benda, satu bergerak menjauh, "—itu kan bisa banyak arti. Tergantung siapa yang baca."
Perut Gayatri jatuh. Ia mengenali bentuk itu. Bukan persis, tapi cukup dekat untuk membuat malam-malamnya di depan rekaman terasa berputar kembali di ruangan ini, di antara aroma gorengan dan tawa anak-anak. Ia tahu tangan siapa yang membaca. Ia tahu mulut siapa yang merender gerak menjauh itu menjadi kalimat yang berbunyi seperti niat.
"Siapa yang menerjemahkan?" Gayatri mendengar tangannya sendiri membentuk pertanyaan itu, dan membenci betapa mulusnya ia berbohong lewat diam. Ia sudah tahu jawabannya. Ia bertanya seolah tidak.
Sekar mengangkat bahu. "Nggak ada yang tahu namanya. Orang dengar, katanya. Bukan dari kita." Ia mengucap kita dengan isyarat yang melingkupi seluruh ruangan—komunitas, rumah, milik bersama. "Itu yang bikin sakit. Mereka kirim orang yang nggak ngerti kita, terus hidup orang kita yang jadi taruhan."
Bukan dari kita. Gayatri menunduk ke cangkirnya. Ada yang lucu dan getir sekaligus dalam kalimat itu. Selama ini ia dianggap orang dalam—adik seorang Tuli, fasih BISINDO sejak kecil, diterima di acara-acara seperti ini tanpa pertanyaan. Sekar sendiri yang dulu menariknya ke lingkaran, memperkenalkannya sebagai "kakaknya Bagas, bukan orang dengar yang cuma numpang lewat." Dan kini sahabatnya itu, tanpa curiga sedikit pun, sedang menggambar garis batas tepat di kaki Gayatri. Orang dengar. Bukan dari kita. Perempuan yang duduk di seberang meja ini adalah "mereka" yang Sekar maksud.
"Mungkin orang itu tidak sengaja," kata Gayatri. Ia menyesal begitu tangannya selesai. Terlalu cepat, terlalu membela.
Sekar mengernyit. "Ya, mungkin. Tapi tetap saja. Sengaja atau tidak, anaknya yang di dalam." Ia menirukan lagi jeruji di depan wajah, kali ini lebih pelan, dan Gayatri merasa gerak itu ditujukan padanya, meski ia tahu tidak. "Kalau kerja begitu, mestinya bawa CDI. Ada orang Tuli yang bantu baca. Kok bisa nggak ada."
"Kok bisa nggak ada," Gayatri mengulang, karena ia tak sanggup mengatakan hal lain. Karena tak ada CDI. Karena ruangannya sempit dan aparat buru-buru dan ia, Gayatri, merasa cukup mampu untuk berdiri sendiri di sana. Karena ia percaya pada keahliannya seperti orang percaya pada tanah yang selama ini tak pernah runtuh.
Di seberang ruangan, Bagas selesai memasang spanduk dan melambai. Latihan tulisannya terbaca dari jauh: RUMAH KITA, RUANG KITA. Ia menunjuk hasil kerjanya dengan bangga, lalu mengacungkan jempol pada Sekar dan kakaknya. Gayatri membalas dengan jempol dan senyum yang terasa dipinjam dari orang lain.
"Kasihan ibunya," Sekar melanjutkan, isyaratnya kini melembut. "Dengar-dengar dia bolak-balik ke pengacara. Ada pengacara yang mulai curiga sama berkasnya. Semoga ketahuan siapa yang salah." Ia menatap Gayatri lurus, tanpa maksud apa pun, mata seorang sahabat yang berbagi kabar buruk pada sahabat lain. "Kamu kan sering kerja di ranah hukum. Kalau dengar sesuatu, kasih tahu aku, ya? Siapa tahu bisa bantu."
Kalau dengar sesuatu. Gayatri sudah mendengar segalanya. Ia menyimpan segalanya, di dalam, di tempat yang tak bisa dijangkau tangan siapa pun di ruangan ini. Ia mengangguk. "Iya. Nanti aku kabari."
Kebohongan itu keluar tanpa suara, hanya anggukan dan lengkung jari yang berkata iya, dan justru karena tak bersuara ia terasa lebih berat. Gayatri menyeruput tehnya yang sudah dingin agar tangannya punya sesuatu untuk dilakukan selain berbicara.
Sekar tampak lega, seolah sudah menitipkan bebannya pada orang yang tepat. Ia beralih ke topik lain—rencana masakan untuk acara, siapa yang bertugas cuci piring, gosip ringan soal pasangan baru di komunitas—dan tangannya kembali riang, cepat, penuh tawa. Gayatri mengikuti, membalas di tempat yang tepat, tertawa di tempat yang tepat. Tapi sebagian dirinya tertinggal di kalimat tadi. Bukan dari kita.
Ia melihat ke sekeliling ruangan yang selama ini ia sebut rumah kedua: anak-anak yang berlatih, spanduk buatan adiknya, wajah-wajah yang menyambutnya tanpa syarat. Dan untuk pertama kali ia merasakan jarak halus terbentang di antara ia dan semua ini—jarak yang belum dilihat siapa pun kecuali dirinya. Ia tahu di mana garisnya berdiri. Ia tahu di sisi mana ia akan jatuh bila garis itu ditarik terang-terangan suatu hari nanti.
Ia menuang teh lagi untuk Sekar, dan menyimpan pengetahuan itu seperti orang menyimpan bara di telapak: diam-diam, hati-hati, berharap tak ada yang mencium bau hangus.