Telepon itu berdering pukul tujuh lewat, saat Gayatri masih menyeka embun di kaca jendela dengan ujung lengan bajunya. Nomor kantor kejaksaan. Ia mengenali kode areanya sebelum sempat membaca nama yang tersimpan.
"Mbak Gayatri," suara di seberang riang, seperti orang yang menemukan payung tepat sebelum hujan. "Kami butuh Mbak. Ada pemeriksaan saksi, terdakwanya Tuli, kasusnya agak besar. Terus terang, setelah yang kemarin, kami cuma percaya sama Mbak."
Yang kemarin. Ia tahu persis yang mana. Kata itu turun ke dalam dirinya seperti koin yang dijatuhkan ke sumur — lama sekali sebelum ia mendengar dasarnya.
"Boleh saya tahu perkaranya dulu?" Gayatri menahan suaranya tetap datar, tetap seperti juru bahasa yang baik, yang menimbang jadwal dan bukan nurani.
"Nanti kami kirim berkas ringkasnya. Yang penting Mbak bisa, kan? Jaksa Herlina sendiri yang minta nama Mbak. Katanya, kalau Gayatri yang menerjemahkan, keterangannya bersih, tidak berbelit. Hakim juga suka."
Bersih. Tidak berbelit. Gayatri menutup mata sebentar. Ia tahu dari mana reputasi itu tumbuh — dari sebuah ruang pemeriksaan berbulan lalu, dari seorang pemuda yang tangannya menggambar ruang dan arah, dan dari mulutnya sendiri yang mengubah gambar itu menjadi kalimat yang rapi, tegas, terdengar seperti niat. Rapi. Itulah yang mereka puji. Rapi adalah dosanya yang belum bernama.
"Saya usahakan," katanya. "Kirim saja berkasnya."
Ia menutup telepon dan berdiri agak lama di tengah dapur yang belum menyala kompornya. Di luar, seorang tukang sayur mendorong gerobak, dan roda besinya berdecit di aspal basah. Bunyi yang biasa. Pagi yang biasa. Hanya dirinya yang tidak.
Berkas datang dua jam kemudian, dipindai buru-buru, ada halaman yang miring. Gayatri membacanya di meja, kopi mendingin di sisinya. Terdakwa seorang laki-laki Tuli, tuduhan penganiayaan, saksi kunci juga Tuli. Tidak ada CDI yang disebut dalam daftar. Tentu saja tidak ada. Yang mereka minta hanya dia, seorang juru bahasa dengar, karena selama ini dia cukup, dia selalu cukup, dia membuat semuanya lancar.
Ia teringat Rani pernah berkata bahwa kepercayaan adalah modal seorang juru bahasa, satu-satunya yang tak bisa dibeli. Kau membangunnya sesi demi sesi, ketepatan demi ketepatan, sampai ruang sidang menoleh padamu tanpa curiga. Dulu Gayatri mengangguk pada nasihat itu seperti murid yang saleh. Kini modal itu terasa seperti pinjaman yang bunganya menumpuk di tempat yang tak bisa ia lihat.
Sesi berlangsung siangnya di ruang yang sempit, berbau kopi sachet dan kertas lama. Saksi Tuli itu perempuan setengah baya, tangannya cekatan, matanya awas. Gayatri menyapanya dengan BISINDO, memperkenalkan diri, menjelaskan perannya menyampaikan apa adanya. Perempuan itu tampak lega melihat ada tangan yang bisa ia baca. Ia percaya. Semua orang di ruang itu percaya. Itulah yang membuat punggung Gayatri dingin.
Ia menerjemahkan dengan hati-hati, lebih hati-hati dari biasanya, sampai jaksa Herlina sempat menatapnya dengan alis terangkat karena ia dua kali meminta saksi mengulang isyarat. "Maaf," Gayatri berkata pada ruangan, "saya ingin memastikan penempatannya." Herlina tersenyum, menganggap itu kesungguhan. "Nah, ini yang saya suka dari Mbak Gayatri. Teliti." Pujian itu mendarat seperti tangan yang menepuk luka.
Ketika saksi menggambarkan posisi dua orang dalam perkelahian — siapa di mana, siapa bergerak lebih dulu — Gayatri merasakan tanahnya sendiri bergoyang. Isyarat ruang. Klasifikator. Tangan yang menandai tubuh sebagai bentuk, gerak sebagai arah. Persis jenis isyarat yang dulu ia baca terlalu cepat dalam kasus Damar, yang ia jadikan pengakuan padahal barangkali hanya deskripsi. Kini ia melihatnya lagi, di sini, di depan mata, dan untuk pertama kali ia sadar betapa tipis garis antara menceritakan kejadian dan mengaku melakukannya — betapa mudah tangan yang menunjuk ruang disalahbaca menjadi tangan yang mengaku niat.
Ia memilih katanya seperti orang menyeberangi sungai dengan meraba batu. "Saksi menerangkan bahwa satu orang berada di sisi kiri, satu di kanan, dan gerakan datang dari arah kanan." Bukan "menyerang". Bukan "memukul lebih dulu". Hanya arah. Herlina mengetik cepat, tampak sedikit tak puas dengan kehati-hatian itu, tapi tak membantah. Gayatri tahu, di kasus lain, di ruang lain, dengan juru bahasa yang lebih ingin menyenangkan, kalimat itu bisa saja keluar lebih tajam. Ia pernah menjadi juru bahasa itu. Ia baru sadar sekarang.
Sesi selesai. Herlina menyalaminya di pintu, hangat, sungguh-sungguh. "Kami booking Mbak untuk yang berikutnya, ya. Ada tiga perkara antre. Jujur, Mbak, kalau bukan Mbak, kami repot cari orang yang bisa dipercaya."
Dipercaya. Gayatri mengangguk, tersenyum sekadarnya, dan berjalan keluar ke koridor yang panjang. Sepatunya berdecit di lantai yang baru dipel. Ia memikirkan tiga perkara yang antre itu, tiga ruang, tiga pasang tangan yang akan bicara padanya dan hanya padanya, tiga takdir yang akan lewat lewat mulutnya. Semakin ia dipercaya, semakin luas ladang tempat ia bisa keliru. Dan mereka menyerahkannya padanya justru karena mereka tak tahu — karena satu kekeliruan yang belum mereka ketahui telah membuatnya tampak sempurna.
Di parkiran, ia duduk di dalam mobil tanpa menyalakan mesin. Ponselnya bergetar: pesan dari koordinator kepolisian, penugasan lain, minggu depan, "khusus minta Mbak". Ia menatap layar itu lama. Seharusnya ia bangga. Dulu ia akan bangga. Sekarang setiap nama yang memintanya terasa seperti satu orang lagi yang berdiri di atas lantai yang ia tahu retak, sambil memuji betapa kokohnya.
Ia meletakkan ponsel di kursi sebelah, menyalakan mesin, dan membiarkan deru itu mengisi keheningan yang tak bisa ia isi dengan apa pun. Di kaca spion, gedung kejaksaan menyusut pelan-pelan, tetap putih, tetap yakin. Gayatri menyetir pulang membawa kepercayaan orang banyak seperti membawa gelas yang terlalu penuh — takut menumpahkannya, lebih takut lagi pada apa yang tumpah bila ia berhenti berpura-pura tangannya tidak gemetar.