Hujan baru reda ketika Pram menemukannya di teras kantin belakang gedung pengadilan, dan dari cara pengacara itu menenteng map cokelat terlalu santai, Gayatri tahu ini bukan pertemuan yang kebetulan.
"Boleh?" Pram menunjuk kursi kosong di seberang. Ia tak menunggu jawaban, hanya meletakkan mapnya di meja, jauh dari genangan kopi yang belum sempat dilap. "Aku lihat namamu di jadwal tadi pagi. Yang perdata di ruang tiga, kan?"
Gayatri mengangguk. Ia melingkarkan jari pada gelas teh yang mulai dingin. Di ruang tiga tadi ia menjembatani seorang ibu Tuli yang menggugat waris—pekerjaan bersih, tak berbahaya, dijalaninya dengan tangan yang tenang. Tangan yang sama yang kini ingin ia sembunyikan di bawah meja.
"Lancar," katanya. "Majelisnya sabar. Mau menunggu isyarat selesai dulu sebelum menyela."
"Langka." Pram tersenyum tipis, memesan kopi pada pelayan yang lewat, lalu menyandarkan punggung. Ia membiarkan hening menggantung sebentar—kebiasaan orang yang terbiasa membaca saksi. "Aku dengar kau salah satu yang paling dicari untuk perkara-perkara yang, yah, tidak biasa. Kepolisian sampai jaksa. Betul?"
"Aku menerima penugasan yang masuk." Gayatri menjaga suaranya rata. "Kalau jadwalku kosong dan kompetensiku cukup, aku ambil."
"Kompetensi." Pram mengulang kata itu seakan mengujinya di lidah. Ia menepuk map cokelat di meja, tak membukanya. "Itu yang sedang kupikirkan belakangan. Ada perkara yang kupegang. Terdakwanya Tuli, muda. Dijerat lumayan berat. Aku baru masuk belakangan, jadi aku baca ulang seluruh berkas dari awal."
Gayatri tidak bertanya nama. Ia sudah tahu. Ia merasakan tehnya menjadi batu di kerongkongan, tapi ia tetap menatap Pram dengan wajah yang sudah ia latih selama bertahun-tahun—wajah juru bahasa, yang hadir tanpa menonjol.
"Yang menggangguku," Pram melanjutkan, hati-hati, seolah sedang menata bidak, "aku bukan orang isyarat. Aku cuma tahu sedikit. Tapi di berita acara, ada bagian yang dituliskan seperti terdakwa mengaku merencanakan sesuatu. Kalimatnya rapi. Terlalu rapi, mungkin. Dan aku penasaran—dari sisimu, sebagai ahli—apakah isyarat itu selalu bisa dipindahkan sebersih itu ke kalimat Indonesia?"
Ini pertanyaannya. Dibungkus rasa ingin tahu, disodorkan seperti basa-basi antarprofesi. Gayatri menahan napas satu ketuk sebelum menjawab.
"Tidak selalu," katanya. "BISINDO bukan Indonesia yang diucapkan pakai tangan. Struktur ruangnya beda. Ada isyarat ruang, ada klasifikator—bentuk tangan yang mewakili orang atau benda, lalu ditempatkan dan digerakkan di ruang di depan penutur. Penempatan itu membawa makna. Arah, jarak, siapa melakukan apa pada siapa."
"Jadi penutur bisa memperlihatkan satu adegan tanpa menyebut niat sama sekali."
"Bisa." Ia memilih kata berikutnya seperti memilih pijakan di sungai. "Dan tugas menerjemahkannya jadi kalimat lisan itu bukan menyalin. Itu menafsir."
Pram mengangguk pelan, dan Gayatri benci betapa ia bisa melihat pengacara itu menyimpan jawabannya, melipatnya, memasukkannya ke tempat yang tak terlihat.
"Menafsir," ulang Pram. "Berarti dua juru bahasa yang kompeten bisa merender satu keterangan yang sama jadi dua kalimat yang berbeda?"
"Register bisa berbeda. Penekanan bisa berbeda." Gayatri merasa lantai percakapan mulai miring. "Tapi juru bahasa yang baik menandai kalau ada yang ambigu. Kalau makna bisa bercabang, itu dicatat."
Kata-katanya sendiri menusuknya dari dalam. *Kalau makna bisa bercabang, itu dicatat.* Ia tidak mencatat. Di ruang keterangan malam itu, dengan aparat yang menunggu dan pemuda yang gemetar dan tak ada CDI di sisinya, ia telah merender cabang yang paling gelap seolah itu satu-satunya jalan lurus. Ia menatap mapnya Pram dan hampir bisa melihat namanya sendiri tercetak di halaman dalam.
Pelayan datang membawa kopi. Jeda itu memberi Gayatri waktu bernapas, dan memberi Pram waktu untuk mengamatinya lebih lama dari yang nyaman.
"Kau menandainya?" tanya Pram ketika pelayan pergi. Nadanya tetap ringan. "Maksudku secara umum. Dalam praktikmu."
"Kalau perlu."
"Dan di perkara-perkara pidana, sering perlu?"
"Tergantung kondisinya." Ia meletakkan gelas. "Ada juru bahasa Tuli, CDI, yang mestinya dilibatkan untuk keterangan berisiko tinggi. Kalau cuma juru bahasa dengar yang hadir, tanpa pendamping, tanpa waktu cukup—itu bukan kondisi ideal. Siapa pun bisa keliru menimbang di situ."
"Siapa pun." Pram menatapnya, dan untuk sekejap topeng ramahnya menipis, memperlihatkan sesuatu yang lebih tajam dan lebih sabar di baliknya. "Kau bicara seperti orang yang pernah berdiri di ruang seperti itu."
Gayatri tidak mengalihkan pandang. Menahan diri, ia sadar, adalah keterampilan yang sama dengan menerjemahkan: memilih apa yang keluar, dan memikul apa yang ditahan. "Setiap juru bahasa pernah berdiri di ruang yang tidak ideal, Mas Pram. Itu bagian dari pekerjaannya."
Pram memandanginya satu saat lagi, lalu, entah karena percaya atau karena memutuskan belum saatnya menekan, ia mengangguk dan menyeruput kopinya. "Tentu. Maaf kalau aku terdengar seperti sedang memeriksa. Kebiasaan buruk."
"Tidak apa."
"Aku cuma butuh mengerti bahasanya. Supaya aku tahu apa yang aku baca di berkas itu benar-benar yang dikatakan kliennku, atau cuma yang paling mudah dituliskan." Ia menutup mapnya yang memang tak pernah dibuka, seakan isinya sudah dihafal. "Kalau nanti aku perlu ahli untuk menjelaskan soal klasifikator ini di forum yang lebih resmi, kau keberatan kuhubungi?"
Ada perangkap di dalam pertanyaan itu, halus, dilapisi kesopanan. Menerima berarti mendekat. Menolak tanpa alasan berarti mencurigakan.
"Hubungi saja," kata Gayatri akhirnya. "Aku bisa menjelaskan yang teknis. Soal perkaramu sendiri, itu bukan wilayahku."
"Tentu bukan." Pram bangkit, menyelipkan map ke ketiaknya. "Kita bukan pembela. Bukan begitu istilah kalian?"
Kalimat Rani, di mulut orang lain, terdengar seperti pisau. Gayatri hanya tersenyum tipis dan tidak menjawab.
Setelah Pram pergi, ia duduk lama menatap kopinya yang tak ia sentuh, uapnya sudah lama hilang. Hujan turun lagi di luar, tipis, menempel di kaca. Ia belum mengaku apa pun. Ia telah menjaga setiap kata di tempatnya. Namun untuk pertama kali sejak malam di ruang keterangan itu, Gayatri merasa ada orang lain yang mulai berdiri di ambang pintu yang sama, mengetuk pelan, dan tak akan pergi.