Kabar itu datang bukan lewat pintu besar, melainkan lewat celah kecil yang tak ia sangka. Sebuah pesan singkat dari koordinator penugasan, dikirim pukul tujuh pagi, sekadar memberitahu bahwa jadwal pendampingan minggu depan bergeser. Di lampiran, ada daftar perkara yang menunggu juru bahasa. Gayatri membacanya sambil menyeruput teh yang mulai dingin, matanya melompati baris demi baris seperti biasa—sampai satu nama menahannya.
Nama Damar ada di sana, di kolom yang seharusnya tak ia perhatikan lagi. Bukan namanya yang membuat cangkir itu berhenti di udara, melainkan deretan huruf dan angka di sebelahnya. Pasal yang tercetak bukan lagi pasal yang ia ingat dari ruang keterangan itu. Angkanya lebih tinggi. Di kolom keterangan, seseorang telah menuliskan penyesuaian dakwaan, ringkas dan dingin, seolah hanya soal administrasi yang perlu dirapikan.
Ia menaruh cangkir itu pelan-pelan agar tidak berbunyi. Di dapur, keran menetes. Dari kamar sebelah, Bagas masih tidur, dan Gayatri bersyukur untuk itu—ia butuh ruang yang tak menuntut wajahnya berpura-pura.
Ia tahu arti angka itu. Bukan sekadar pergeseran huruf. Setiap pasal punya rentang tahun yang menggantung di belakangnya seperti bayangan, dan pasal yang lebih tinggi berarti bayangan yang lebih panjang. Ia pernah mendampingi cukup banyak perkara untuk mengerti bahwa ketika dakwaan dinaikkan, yang berubah bukan hanya berkas. Yang berubah adalah berapa lama seorang manusia akan menghitung hari dari balik dinding.
Gayatri membuka laptopnya, mencari salinan berkas awal yang ia simpan—salinan yang secara etika masih boleh ia pegang sebagai catatan penugasan. Ia menyandingkan yang lama dan yang baru. Di berkas lama, uraian peristiwa dibangun dari kalimat-kalimat yang, ia tahu sekarang, adalah kalimat lisannya sendiri. Kalimat yang ia rangkai dari tangan Damar. Isyarat ruang yang menunjukkan di mana tubuh berada, arah gerak, siapa mendekat siapa—semuanya sudah ia terjemahkan menjadi subjek yang bertindak, kata kerja yang punya kehendak. Dan di atas kalimat-kalimat itulah, kini, dakwaan yang lebih berat berdiri.
Ia merasa perutnya mengencang. Bukan kaget, sebab bagian dari dirinya sudah menduga ini bisa terjadi. Yang mengejutkan adalah betapa sepi kabar itu tiba. Tidak ada palu, tidak ada suara. Hanya baris di spreadsheet, dibaca di meja dapur, ditemani keran yang menetes.
Ponselnya bergetar. Grup juru bahasa. Seseorang—ia mengenali gaya Rani meski tanpa nama—menulis pengingat bahwa penugasan bulan ini padat, agar semua menjaga stamina dan profesionalitas. Di bawahnya, obrolan berlanjut ringan, tentang tarif, tentang seorang klien yang selalu terlambat, tentang kopi. Dunia berjalan seperti tidak ada yang retak. Gayatri menatap layar itu dan menyadari betapa ia sendirian memikul sesuatu yang, bagi mereka, bahkan bukan berita.
Ia hampir mengetik sesuatu. Jari-jarinya melayang di atas papan, menyusun kalimat yang aman. Ada perkara yang pasalnya naik, apakah itu berarti keterangan awal akan ditinjau? Pertanyaan yang bisa lewat sebagai keingintahuan profesi. Tapi ia tahu, di komunitas kecil ini, pertanyaan pun punya isyarat ruangnya sendiri—arah, penekanan, siapa yang bertanya tentang apa. Bertanya terlalu jauh sama saja menunjuk dirinya. Ia menghapus kalimat itu huruf demi huruf.
Bagas keluar dari kamar, rambut berantakan, tangannya bergerak setengah mengantuk menanyakan apakah ada kopi. Gayatri menjawab dengan isyarat, tubuhnya otomatis melembut ke dalam bahasa yang paling ia percaya. Ada, di panci. Bagas mengangguk, mencondongkan badan ke bahunya sesaat—kebiasaan lama—lalu menyeret kaki ke dapur. Gerakan sederhana itu, kehangatan yang tak bertanya, justru membuat dada Gayatri terasa penuh sampai sakit. Adiknya percaya bahwa kakaknya adalah orang yang tepat berdiri di antara dua dunia. Sekar percaya. Seluruh ruang di acara kemarin percaya. Dan di layar laptop yang belum ia tutup, seorang pemuda seusia Bagas kini menanggung angka yang lebih besar karena tangan yang mereka percayai itu.
Ia menutup laptop sebelum Bagas berbalik.
Sepanjang pagi, angka itu tinggal di dadanya seperti kerikil dalam sepatu yang tak bisa ia keluarkan sambil berjalan. Ia mencuci cangkir, membalas dua pesan kerja, menyetrika kemeja untuk penugasan besok—semua dengan tangan yang cekatan, sementara satu bagian kepalanya terus menghitung. Berapa tahun selisihnya. Berapa banyak hari yang bertambah di antara pasal yang lama dan yang baru. Selisih itu, ia sadar dengan ngilu, kira-kira sepanjang usia yang ia dan Damar sama-sama miliki di ambang dewasa—tahun-tahun tempat orang seharusnya belajar, bekerja, jatuh cinta, keliru dalam hal-hal kecil yang bisa diperbaiki.
Menjelang siang ia menerima satu pesan lagi, kali ini dari nomor yang belum tersimpan. Singkat, sopan, memperkenalkan diri sebagai dari kantor pengacara. Menanyakan apakah Ibu Gayatri bersedia dihubungi terkait sebuah perkara yang pernah ia dampingi, sekadar untuk klarifikasi teknis kebahasaan. Nama perkaranya tidak disebut. Tapi Gayatri tahu perkara mana. Ia selalu tahu, sekarang.
Ia tidak langsung membalas. Ia meletakkan ponsel telungkup di meja dan duduk memandangi punggungnya yang gelap, seakan dengan tidak melihat layar ia bisa menunda apa pun yang menunggu di baliknya. Di luar jendela, tukang sayur lewat, seorang anak berteriak memanggil temannya, sepeda motor melintas. Dunia yang membumi, yang tak peduli, yang terus berputar.
Damar tidak akan tahu bahwa pagi ini seseorang membaca angka barunya di meja dapur dan merasa mual. Tidak akan tahu bahwa perempuan yang dulu berdiri di sebelahnya, yang meminjamkan suara untuk tangannya, kini menghitung tahun-tahun yang mungkin telah ia tambahkan tanpa sengaja ke dalam hidup pemuda itu. Kabar tak selalu datang dengan guntur. Kadang ia hanya sebaris teks, dan justru karena itu ia tak bisa disangkal—terlalu kecil untuk diteriakkan, terlalu berat untuk dilupakan.
Gayatri menarik napas, membalik ponselnya, dan membaca ulang pesan dari kantor pengacara itu untuk ketiga kalinya. Ia belum akan menjawab hari ini. Tapi ia tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa diam bukan lagi tempat yang bisa ia huni selamanya.