Gedung serba guna di ujung gang itu tak pernah tampak megah, tapi malam ini ia hidup. Lampu neon yang salah satu tabungnya berkedip tak menghalangi apa pun; di ruangan Tuli, cahaya adalah tata krama, dan orang-orang sudah menatanya sendiri — kursi diatur melingkar, tak ada yang membelakangi siapa pun, meja panjang di sudut penuh gorengan dan teh yang uapnya naik seperti doa kecil. Gayatri melepas sepatunya di ambang, dan begitu ia menegakkan badan, tiga pasang tangan sudah melambai ke arahnya sekaligus.
Ia balas menyapa, dan tubuhnya tahu jalannya tanpa ia perintah. Di sini ia tidak menerjemahkan. Di sini ia hanya Gayatri, kakaknya Bagas, perempuan dengar yang isyaratnya sudah tumbuh sejak kecil bersama tangan adiknya. Tak ada jeda mikro yang biasa menyelinap di ruang keterangan, tak ada suara yang harus ia pinjamkan pada mulut orang lain. Ia mengisyaratkan namanya sendiri, dengan wajahnya sendiri, untuk maksudnya sendiri.
Bagas melihatnya dari seberang ruangan dan langsung meninggalkan kelompoknya. Ia berjalan cepat, bahunya lebar, dan begitu sampai ia tak memeluk melainkan menepuk dada Gayatri dua kali — isyarat lama mereka, dari zaman ibu masih ada, yang artinya kira-kira *kau di sini, bagus*. Gayatri menepuk balik. Sekilas ia melihat betapa Bagas berbeda di ruangan ini dibanding di rumah. Di rumah adiknya kerap menunggu, menyesuaikan tempo, membiarkan dunia dengar bergerak lebih lambat untuknya. Di sini dialah pusatnya. Tangannya cepat, jenaka, dihormati.
"Kau telat," tuduh Bagas, jarinya menunjuk jam khayalan di pergelangan, alisnya naik teatrikal. "Malu-maluin. Juru bahasa datang setelah semua orang selesai bicara."
Gayatri tertawa, dan tawanya keluar sebagai embusan napas dan bahu yang berguncang, bukan suara. "Aku bukan juru bahasa malam ini. Malam ini aku cuma kakakmu yang bawa dua kotak risoles."
"Dua kotak." Bagas pura-pura terpukau, lalu mengarahkan wajah polos ke arah meja. "Kalau begitu statusmu naik. Sekar, lihat, kakakku menyuap komunitas."
Sekar, yang sedang menuang teh, mengangkat cangkir seolah bersulang dan mengetuk pelipisnya — *pintar*. Beberapa orang di dekatnya ikut menimpali dengan tangan, dan sebentar saja terbentuk lelucon beruntun yang Gayatri tangkap seluruhnya tanpa usaha: soal risoles yang katanya tanda sogokan, soal orang dengar yang selalu telat karena sibuk mendengar hal-hal tak penting, soal Bagas yang katanya cuma numpang tenar karena punya kakak. Isyarat melompat dari satu orang ke orang lain, saling menimpa, ekspresi wajah menajamkan setiap sindiran. Ini bukan bahasa yang diterjemahkan. Ini bahasa yang dihidupi.
Dan Gayatri, berdiri di tengahnya, merasakan sesuatu yang tak punya nama tunggal — semacam kepulangan. Bertahun-tahun ia bergerak di dua dunia sebagai penyeberang, kaki di sini, kaki di sana, dan hampir selalu ia yang membawa pesan orang lain melintasi jembatan itu. Tapi di ruangan ini jembatan itu lenyap. Ia bukan penyeberang. Ia penghuni. Orang-orang menoleh padanya bukan karena butuh suaranya, melainkan karena senang ia ada.
Seorang ibu tua menghampirinya, memegang lengan Gayatri, dan bercerita panjang tentang cucunya yang baru masuk sekolah luar biasa dan sudah pandai mengeja nama sendiri di udara. Tangan ibu itu bergetar sedikit karena usia, tapi klasifikatornya jernih — ia menunjukkan tinggi si cucu, cara anak itu berlari, bentuk seragamnya. Gayatri menyimak dengan seluruh badan, mengangguk di tempat yang tepat, membiarkan wajahnya bergerak mengikuti. Ia tak mengoreksi apa pun. Ia tak menimbang makna ganda. Untuk sekejap yang panjang, tangan yang berbicara padanya hanyalah tangan yang ingin bercerita, bukan bukti yang bisa salah dibaca.
Justru pikiran itu yang datang tanpa diundang — *bisa salah dibaca* — dan menyusup dingin ke sela kehangatan. Ia menekannya. Malam ini bukan malamnya.
Bagas menariknya ke tengah untuk permainan tebak isyarat, sesuatu yang dibuat dadakan dengan aturan yang terus berubah sesuai selera pemenang. Bagas berdiri di depan, memperagakan judul-judul film hanya dengan klasifikator dan ruang, dan ruangan meledak menebak. Ada yang menebak ngawur sengaja untuk memancing tawa. Ketika giliran Gayatri diminta maju, ia menolak dengan melambaikan tangan, tapi belasan orang menghentakkan lantai dengan kaki — getarannya menjalar ke telapak — dan menggoyangkan tangan tinggi-tinggi, tanda sorak. Ia menyerah. Ia maju. Ia keliru total memeragakan sesuatu, dan seluruh ruangan menertawakannya dengan sayang, dan ia menertawakan dirinya bersama mereka.
Saat rehat, Bagas duduk di sampingnya di kursi plastik, keduanya menghadap keramaian. Adiknya menyodorkan teh, lalu berisyarat pelan, di ketinggian dada, isyarat yang hanya untuk mereka berdua.
"Kau kelihatan capek belakangan ini," kata Bagas. "Kerjaan?"
Gayatri merasakan jantungnya melompati satu ketukan. Di kepalanya, tanpa izin, terputar sepotong rekaman: seorang pemuda di ruang keterangan, tangannya membentuk ruang dan arah, dan suaranya sendiri — suara Gayatri — merender bentuk itu menjadi kalimat yang terlalu rapi, terlalu bulat, terlalu terdengar seperti niat. Ia menelan sesuatu yang bukan teh.
"Kerjaan," ia mengulang, membiarkan tangannya berkata seringkas mungkin. "Banyak. Kau tahu sendiri."
Bagas menatapnya sejenak lebih lama dari yang nyaman. Adiknya membaca wajah lebih baik daripada siapa pun yang Gayatri kenal — di dunia Tuli, wajah adalah tata bahasa, bukan hiasan. Untuk sedetik Gayatri takut ia terbaca seluruhnya. Tapi Bagas hanya menepuk lututnya, dan tersenyum.
"Jangan lupa makan," katanya. "Kakak-kakak juru bahasa itu suka lupa mereka juga manusia."
Gayatri mengangguk, dan memaksa senyumnya utuh. Ia memandang ruangan yang berdenyut oleh tangan-tangan yang bercakap, wajah adiknya yang berseri di antara kawan-kawan yang menghormatinya, ibu tua yang kini menceritakan cucunya pada orang lain dengan getar tangan yang sama. Inilah rumahnya yang kedua. Inilah tempat ia disebut *orang dalam*, gelar yang tak bisa dibeli, yang tumbuh dari puluhan tahun kepercayaan pelan-pelan.
Dan untuk pertama kalinya malam itu ia membiarkan dirinya menamai rasa dingin yang menyusup tadi: kalau nama pemuda itu, Damar, kalau apa yang telah diperbuat tangannya sampai ke ruangan ini — ke tangan-tangan ini, ke wajah adiknya — maka pintu yang malam ini terbuka lebar untuknya bisa menutup. Tak ada yang perlu mengusirnya. Cukup dengan mereka berhenti melambai.
Ia menghangatkan tangannya di cangkir, dan tinggal, selama masih boleh.