Ruang periksa di lantai tiga itu berbau alkohol dan kertas resep. Gayatri berdiri di sudut yang sudah ia hafal—tak terlalu dekat meja dokter, tak terlalu jauh dari kursi pasien, di titik cahaya jendela jatuh rata ke wajah dan tangannya. Posisi yang dulu ia pilih tanpa berpikir, seperti orang menaruh gelas di tempat gelas biasa berada.
Pasien itu perempuan muda, namanya Ratih, datang mengeluh nyeri di perut bawah yang datang-pergi sejak dua pekan. Ia bertutur dalam BISINDO dengan tempo cepat, tangannya lincah, alisnya ikut bicara. Gayatri menangkap semuanya: lokasi nyeri yang ditunjuk dengan telapak menekan, seberapa dalam, kapan memburuk. Ia mengalihkannya ke dokter dengan suara datar dan rapi.
"Nyerinya seperti diremas, Dok. Muncul terutama menjelang haid, tapi belakangan kadang di luar itu juga."
Dokter Prasetya mengangguk, mencatat. Sesi berjalan seperti ratusan sesi sebelumnya—tanya, jawab, alih, ulang. Gayatri adalah kaca bening di antara dua orang yang tak sebahasa. Itu tugasnya. Itu yang selama ini ia banggakan diam-diam: tak ada yang mengingatnya, karena tak ada yang perlu diingat. Penerjemah yang baik adalah penerjemah yang lenyap.
Lalu Ratih membuat sebuah isyarat yang membuat jari Gayatri berhenti sepersekian detik di udara.
Perempuan itu menggambarkan rasa nyerinya dengan klasifikator—tangan mencengkeram, lalu memutar, sesuatu yang menjalar. Dalam ruang di depan dadanya, ia menaruh titik-titik, arah, gerak. Bahasa ruang yang biasa Gayatri baca semudah membaca papan nama. Tapi kali ini otaknya mengajukan pertanyaan yang tak pernah ia ajukan sebelumnya: apakah "diremas" itu benar? Atau lebih tepat "ditusuk lalu menyebar"? Ratih tidak mengucap kata apa pun—ia menunjukkan bentuk, dan Gayatri-lah yang harus memberi bentuk itu sebuah kata Indonesia. Satu kata. Dan dari sekian kata yang mungkin, ia harus memilih satu.
Diremas. Ditusuk. Dililit. Kram. Masing-masing akan mendarat berbeda di telinga dokter, mungkin menuntun ke dugaan yang berbeda, pemeriksaan yang berbeda.
"Bagaimana persisnya rasa itu?" Gayatri bertanya balik pada Ratih, dalam isyarat. Ia meminta perempuan itu mengulang, memperjelas.
Ratih mengulang, sedikit heran. Gayatri biasanya tak minta ulang.
Dokter mendongak. "Ada yang kurang jelas, Bu?"
"Sebentar, Dok. Saya pastikan dulu." Suaranya tetap tenang. Di dalam, ada sesuatu yang mengetat.
Ia menonton tangan Ratih lekat-lekat, seakan tangan itu berkas yang harus dibaca ulang. Cara telapak itu membuka lalu menutup. Sudut pergelangan. Ini, ia tahu, adalah pekerjaannya yang paling dasar—membaca ruang, membaca klasifikator, mengubahnya jadi bunyi. Selama bertahun-tahun ia melakukannya seperti bernapas. Sekarang ia sadar bahwa di setiap pengalihan, ada tangannya sendiri yang ikut menyentuh makna. Kaca bening itu ternyata punya lengkung; ia membelokkan cahaya, sedikit, selalu.
Ia menelan pikiran itu dan bekerja. "Rasanya seperti dililit, Dok, lalu menjalar ke pinggang. Bukan menusuk tajam. Lebih ke menekan yang datang bergelombang."
Ia memilih "dililit" karena itu yang paling dekat dengan bentuk tangan Ratih, dengan gerak memutarnya. Ia menambahkan "bergelombang" karena ritme isyarat itu naik-turun. Tapi bahkan saat kalimatnya keluar, sebuah suara kecil di belakang kepalanya bertanya: dari mana kau tahu itu benar? Bagaimana kalau "menekan" lebih tepat daripada "dililit"? Bagaimana kalau kau baru saja mengecilkan sesuatu yang seharusnya membunyikan alarm?
Dokter Prasetya menulis, lalu meraba perut Ratih, menekan di beberapa titik, menanyai mana yang paling sakit. Ratih menunjuk, meringis. Gayatri mengalihkan tiap jawaban, dan tiap kali ia merasa seperti menimbang beras dengan tangan gemetar—takut selisih segenggam mengubah timbangan.
Pemeriksaan selesai tanpa insiden. Dokter menjelaskan dugaan awal, meminta pemeriksaan lanjutan, menuliskan pengantar laboratorium. Gayatri menyampaikan semuanya kepada Ratih dengan jelas, memastikan perempuan itu paham jadwal dan langkah berikutnya. Ratih mengangguk lega, mengucap terima kasih dengan tangan menyentuh dagu lalu turun. Sesi yang mulus. Dari luar, sempurna.
Di lorong, setelah Ratih pergi, Gayatri berdiri sebentar di dekat jendela. Tangannya, yang tadi begitu cekatan, kini terasa asing—seperti alat yang tiba-tiba ia sadari bisa meleset. Ia teringat betapa dulu ia keluar dari ruang-ruang seperti ini tanpa memikirkan apa pun selain jam berikutnya. Netral. Otomatis. Bersih.
Sekarang setiap kata yang ia pilih hari ini berbaris kembali di kepalanya, menuntut pembelaan. Dililit—kenapa bukan diremas? Bergelombang—apa kau menambahkan itu, atau memang ada di tangannya? Untuk nyeri perut, selisih kata mungkin cuma soal pemeriksaan tambahan, mudah dikoreksi lab, mudah diralat kunjungan berikut. Tak ada yang dipenjara karena salah pilih antara "dililit" dan "diremas".
Ia menutup mata sebentar. Ia tahu dari mana keraguan ini datang. Ia tahu ruang periksa ini bukan sumbernya; ia cuma cermin. Tapi ia tak mengizinkan dirinya menyusuri pikiran itu sampai ujung—belum, tidak di lorong rumah sakit, tidak sekarang. Ia hanya membiarkan kesadaran itu bergeming: bahwa keahlian yang selama ini ia percaya sebagai keran yang bisa dibuka-tutup tanpa cela, ternyata adalah rangkaian pilihan. Ribuan pilihan kecil. Dan pilihan, menurut definisinya, selalu bisa keliru.
Ponselnya bergetar. Penugasan berikutnya, di lantai dua, tiga puluh menit lagi. Ia mengusap layar, menegakkan bahu, dan berjalan menuju lift. Di kaca lift ia menangkap bayangannya sendiri: perempuan berkemeja rapi dengan lanyard juru bahasa, wajah yang tenang, tangan yang tampak yakin.
Ia menatap bayangan itu agak lama. Dulu ia mengira ketenangan itu adalah kompetensi. Kini ia tak lagi yakin apakah itu ketenangan, atau hanya kebiasaan yang belum tahu ia sudah retak. Pintu lift terbuka. Ia melangkah masuk, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia menghitung dalam hati kata-kata yang akan ia pakai—sebelum ada yang perlu ia terjemahkan.