Pukul sebelas malam kamar itu hanya seluas cahaya dari layar. Gayatri sudah mematikan lampu utama sejam yang lalu, seolah gelap bisa mengecilkan apa yang sedang ia lakukan, seolah tak menyalakan lampu berarti ini belum sungguh-sungguh terjadi. Di layar, Damar duduk di kursi plastik ruang keterangan, bahunya sedikit terangkat seperti orang yang kedinginan padahal ruangan itu pengap. Gayatri menekan spasi. Rekaman berputar lagi.
Ia sudah menontonnya entah berapa kali. Cukup sering hingga ia hafal di detik ke berapa Damar akan menelan ludah, di mana lampu neon di sudut atas berkedip sekali, di mana ia sendiri — sosoknya yang duduk menyamping, hanya tampak punggung dan sebelah tangan — mulai menerjemahkan. Suaranya sendiri di rekaman terdengar asing baginya. Terlalu tenang. Terlalu yakin.
Damar mengangkat tangan kanan. Telapaknya membentuk klasifikator, jari-jari mengatup seperti benda pipih, lalu bergerak dari satu titik di ruang depannya ke titik lain, agak ke kiri. Tangan kirinya menahan di tempat, menjadi jangkar, menjadi sesuatu yang diam sementara yang lain mendekat. Wajahnya menegang. Alisnya bergerak. Bahu bahasa yang, kalau kau tahu cara membacanya, mengubah seluruh kalimat.
Dulu — di ruangan yang sama, di sore yang sama — Gayatri membaca gerak itu dan mulutnya berkata: "Saya mendekati dia." Lalu, beberapa isyarat kemudian, ketika Damar mengulang penempatan itu dengan tekanan yang lebih keras, ia berkata: "Saya mau."
Saya mau. Dua kata. Dua kata yang, di berkas, menjadi tulang punggung dakwaan.
Ia menekan spasi. Mundur sepuluh detik. Putar lagi.
Tangan Damar bergerak dari titik ke titik. Tapi ke arah mana sebenarnya yang bergerak? Gayatri mencondongkan tubuh sampai hidungnya nyaris menyentuh layar. Dalam isyarat ruang, arah adalah tata bahasa. Siapa yang mendekat dan siapa yang didekati ditentukan oleh dari mana ke mana telapak itu melintas. Dan malam ini, dalam gelap, ia melihat sesuatu yang tak ia izinkan dirinya lihat di sore itu: klasifikator Damar tidak menunjuk dirinya sebagai pelaku yang maju. Titik jangkar tangan kirinya bisa jadi adalah Damar sendiri, dan yang bergerak — yang mendekat, yang menekan masuk ke ruangnya — adalah orang lain.
Bukan "saya mendekati dia".
Mungkin "dia mendekat ke saya".
Gayatri menarik napas dan napas itu tidak sampai penuh, tersangkut di suatu tempat di bawah tulang dada.
Ia memutar lagi. Kali ini ia matikan suaranya sendiri, tak sanggup mendengar versi dirinya yang lama. Ia menonton Damar saja, hanya tangan dan wajah dan bahu, cara pemuda itu mengulang isyarat dengan tekanan lebih keras bukan karena ia menegaskan kehendak, tapi — barangkali — karena ia panik, karena tak ada yang mengerti, karena mengulang lebih keras adalah satu-satunya yang bisa dilakukan orang ketika bahasanya jatuh ke ruang kosong. Penekanan yang Gayatri baca sebagai kemauan bisa jadi hanyalah keputusasaan seorang yang tak dipahami.
Bisa jadi. Bisa jadi. Kata-kata itu memuakkan justru karena kejujurannya. Ia tak bisa berkata pasti maknanya yang ini. Ia hanya bisa berkata bahwa maknanya yang itu — yang sudah ia ucapkan, yang sudah tercatat, yang sudah dijilid — tidak sepasti yang ia buat terdengar. Ada ruang di antara isyarat-isyarat Damar. Ruang tempat makna lain bisa berdiri. Dan ia telah menutup ruang itu dengan satu kalimat rapi, satu kalimat yang tidak menyisakan celah keraguan bagi siapa pun yang mendengarnya.
Seorang juru bahasa dengar yang baik tidak menambahkan. Tidak mengurangi. Tidak menafsir niat. Rani mengajarkan itu sejak hari pertama: kau adalah kaca, bukan pelukis. Tapi malam ini Gayatri mengerti bahwa ia telah memegang kuas tanpa tahu ia memegangnya. Karena tak ada CDI di ruangan itu — tak ada juru bahasa Tuli yang bisa menjembatani ke ranah budaya, memeriksa, memberi tahu bahwa isyarat ini bercabang. Hanya ada dia, seorang perempuan dengar dengan sertifikat BISINDO, mengubah keraguan menjadi kepastian di depan penyidik yang butuh kalimat bersih untuk berkas.
Ia menutup layar. Kamar menjadi gelap sungguhan. Di seberang lorong ia mendengar kulkas berdengung, samar suara Bagas yang mungkin belum tidur, lampu tidurnya masih menyala di bawah pintu. Ia bisa saja bangkit, mengetuk, duduk di lantai kamar adiknya seperti dulu, mengisyaratkan pelan-pelan: aku takut. Bagas akan mengerti takut lebih baik dari siapa pun. Tapi ia tak bisa. Karena setelah kalimat itu akan datang kalimat berikutnya, dan kalimat berikutnya akan menyeret nama Damar, dan nama Damar akan menyeret komunitas, dan tangan Bagas yang biasa membalas dengan lembut akan berhenti di udara.
Ia tak bisa menceritakannya kepada Rani, yang akan menyuruhnya berhenti mengorek. Tak bisa kepada Sekar, yang percaya padanya dengan kepercayaan yang Gayatri belum sanggup ukur harganya. Tak bisa kepada siapa pun di kantor, tempat rekaman ini seharusnya sudah selesai, sudah beres, sudah menjadi masa lalu profesional yang rapi.
Pengetahuan itu tinggal di dalam dirinya, sendirian. Ia membayangkannya sebagai batu — bukan yang besar dan dramatis, tapi yang kecil, sebesar kepalan, dingin, yang seseorang letakkan di dadanya dan lupa mengambil. Ia bisa bernapas di sekitarnya. Ia bisa bangun besok, menyeduh kopi, berangkat ke penugasan berikutnya dan menerjemahkan dengan tangan yang tampak tenang. Batu itu tidak akan kelihatan. Itulah yang paling menakutkan: bahwa ia bisa membawanya ke mana-mana dan tak seorang pun akan tahu.
Di luar jendela, kota menyala tanpa ambigu. Lampu jalan tahu persis apa yang mereka terangi. Gayatri berbaring di atas selimut yang belum ia buka, membuka telepon sekali lagi, dan jarinya melayang di atas ikon rekaman itu. Ia tahu ia akan memutarnya lagi. Bukan karena ia berharap melihat sesuatu yang berbeda. Tapi karena, sekarang, tidak menonton terasa lebih seperti kebohongan daripada menonton.
Ia menekan spasi. Damar mengangkat tangan. Malam berputar sekali lagi.