dasar orang tua yang kolot' batin Deon tak ingin menjawab apalagi menanggapi ucapan ayahnya Deon memilih pergi
................
pagi ini Nara sedang bersiap untuk berangkat ke tempat yang di berikan oleh Deon kemarin
"nek, Nara berangkat sekarang ya"
" apa kamu tidak bisa minta cuti kamu masih sakit Nara" ucap nenek lembut
" tidak apa-apa nek aku udah sehat kok"
" baiklah kalau begitu lalu gimana mobil mu bukannya nggak ada? apa mau nenek antar saja menggunakan motor?"
" gak usah nek Nara naik bus aja Deket kok"
"oh iya nek, Nara minta maaf ya Nara udah nggak bekerja sebagai detektif lagi Nara kemarin dipecat" Nara berbicara pada sang nenek dengan raut wajah yang sangat sedih dan penyesalan
"astaga kenapa bisa apa yang terjadi padamu?" nenek nya sungguh terkejut dengan apa yang terjadi pada cucunya itu
"maafkan aku ya nek tapi secepatnya aku akan mencari pekerjaan agar kita tetap bebas dari hutang hutang dan para pria yang bertubuh kekar itu" mata Nara berkaca-kaca dan memeluk sang nenek dengan begitu erat nya
" sudahlah cucuku jangan bersedih" hanya itulah yang bisa neneknya ucapkan
"ya sudah aku pergi dulu ya dadah nenek" Nara sambil melambaikan tangannya berjalan menelusuri gang yang sedikit sempit itu
1 jam lebih Nara akhirnya sampai di depan sebuah bangunan tiga tingkat yang sepertinya bangunan lama
" benar gak ya ini alamatnya kok bangunannya seram sekali sih sebaiknya kutelepon aja deh" merogoh tas ya dan mengambil handphone nya
"enggak enggak nanti dia kepedean ih, cowok nyebelin banget sih astaga kakiku pegel banget lagi" gumam menara tapi tetap melangkahkan kakinya menuju ke arah bangunan itu dan menekan belnya
ting tong
" firma hukum macam apa ini udah jam 8 tapi belum buka juga enggak mentaati peraturan kerja bener-bener enggak teladan banget sih" celoteh Nara yang pada saat yang bersamaan dia membuka pintu tersebut dan mendengar semua celoteh yang Nara ucapkan tadi
"tidak baik seorang gadis cantik sepertimu memaki seseorang yang di depannya" ketus Deon dengan wajah masamnya. Nara hanya memutar bola matanya malas
" masuk" Deon mempersilahkan masuk pada Nara dan mempersilahkan nya duduk di sana
"perhatian semuanya kita kedatangan tamu istimewa hari ini" ucap Deon pada beberapa pria berperawakan kekar dan 2 wanita pakaian khas pengacara
"ya Tuan halo selamat datang di firma hukum kami" begitulah mereka menyapa Nara dengan ramahnya
"Robby buatan aku Americano dan kopi latte untuk gadis cantik ini" seru Deon pada salah satu anggotanya di sana
"baik tuan"
"maaf pak langsung ke intinya aja apakah saya boleh bertanya"
Deon dengan menaikkan sebelah alisnya
"ya tentu kamu mau nanya apa? dan jangan panggil saya bapak ya sepertinya panggilan itu sangat tidak nyaman, gimana kalau panggil aku deon aja?" Deon menyeringai
" cih...., sepertinya aku mengenal beberapa pria bertubuh kekar di sana apakah kau ada hubungannya dengan mereka? siapa kamu sebenarnya?" ujar Nara
" inilah pertanyaan yang aku tunggu-tunggu, Robby, tio,Rangga, Joseph, kemari!" seru Deon pada 4 pria itu
"ya tuan" ucap Tio
" katakan kan apakah kalian kerja pada ku" tanya Deon dengan penuh kesombongan
"tentu saja Tuan memangnya pada siapa lagi" jawab mereka serempak Nara pun ternganga mendengar jawaban mereka
"jadi kamu memang sengaja? selama ini kamu mengawasi ku kan?" bentak Nara
" enggak! mana ada aku mengawasi kamu ini hanya kebetulan aja kok" jawab Deon sangat Santai
" beneran kebetulan? omong kosong!! cepat bilang apa mau kamu dan apa tujuan kamu nyuruh aku datang ke tempat ini !" bentak Nara kembali menggema
"kamu ini gadis nggak sabaran banget sih minum dulu kopinya" senyum Deon mengembang, Nara pun menuruti ucapan deon menyeruput kopi latte nya
"ini sepertinya memang kebetulan saja nenekmu berhutang padaku sejak beberapa tahun lalu untuk mencukupi biaya kuliah mu dan sudah 1 tahun ini tidak membayar angsurannya maka dari itu para anggota ku datang untuk menagihnya" jelas Deon memang benar adanya
" tapi apa harus menghancurkan semua barang-barang di sana? nenekku bahkan syok tubuhnya gemetar atas tindakan kalian" amarah Nara berapi-api
"kamu tenang aja kamu tidak perlu membayarnya asalkan kamu mau bergabung dengan firma hukum ku" ucap Deon dengan penuh penekanan namun sesungguhnya hatinya sedang tertawa 'astaga dia bahkan sangat gemas, sungguh menggemaskan ketika sedang marah' batin Deon
"apa ? gabung dengan firma hukum? yang bener aja. aku kan nggak ngerti tentang dunia pengacara, aku hanya tahu penyelidikan penangkapan dan hanya memberi laporan saja aku tidak begitu mahir dalam beradu argumen apa kau yakin memilih aku buat bergabung disini?" tanya Nara meyakinkan kembali apa yang baru saja terdengar oleh telinganya
" ya tentu aja kamu harus banyak belajar dan hari ini kamu sudah mulai bekerja di sini" deon menghela nafasnya lembut
"Sena, Eni kemari"
" ya pak"
" tunjukan di mana tempat gadis ini bekerja dan berikan semua berkas yang semalam kuperintahkan"
" baik pak Mari nona sebelah sini tempat mu bekerja" Nara pun hanya mengikuti saja dan duduk di sebuah meja kerja dengan banyaknya tumpukan kertas bekas dan beberapa buku tebal lainnya
'astaga ini membuatku gila' batin Nara merutuki nasib
***