astaga ini membuatku gila' batin Nara merutuki nasib
"sena" panggil Tio
"ya?" Sena berjalan ke arah meja kerja Tio
"periksa kembali rekaman cctv ini, aku mau membeli makan siang untuk kita semua"
"oke tenang aja" Tio beranjak dari duduknya dan Sena pun duduk di kursi kerja Tio
"tuan aku akan beli makan dulu" seru Tio pada Deon
"ya nanti di kirim oleh Eni apa saja menu nya" jawab Deon tanpa menoleh karna masih terfokus pada layar komputer nya
sudah jam 12 siang lebih 25 menit Tio belum juga kembali , dan beberapa saat kemudian Deon mendapat telepon dari nomor Tio
"halo, kenapa lama sekali?" Deon mengangkat telepon itu
"lama tidak bertemu" suara misterius di sebrang sana
"siapa kau? dimana rekan ku? katakan !" sarkat Deon dengan rahang yang mengeras
sedangkan Nara dan anggota lainnya hanya terdiam dan terkejut mendengar suara Deon yang menggelegar
"hahahaahah..... datang lah ke jalan xx di sebrang mini market ada jalan buntu menuju bangunan terbengkalai masuk lah ke sana ingat jangan bawa siapa pun jika kau tak ingin rekan mu mati sia-sia" ucap seseorang misterius itu memutuskan sambungan teleponnya
BRAKKK
DEon menggebrak meja kerja yang di lapisi kaca itu pun pecah seketika
"bangsat...! " berdiri dari tempat duduknya itu
"kalian semua jika sudah selesai boleh pulang, aku ada urusan mendesak" hendak melangkah pergi tetapi di tahan oleh Nara
"tangan mu berdarah" menarik tangan Deon dan membawa Deon ke sofa yang terletak di ruang tengah
"lepaskan aku harus pergi sekarang!" bentak Deon pada Nara
"sebenernya ada apa? gimana kamu mau pergi dengan keadaan tanganmu yang lagi luka gini!" bentak Nara tak kalah kencang
Deon menghela nafasnya kasar
"yaudah cepetan !" mengulurkan tangannya untuk di obati
"cih.... nyebelin banget" gerutu Nara uang masih bisa di dengar oleh Deon
beberapa saat kemudian Nara selsai membalut luka itu dan Deon mu bergegas pergi menuju tempat dimna Tio di sekap. Deon pergi seorang diri mengendarai mobil nya dan tanpa di sadari Nara mengikuti nya dari belakang menaiki taksi
"pak cepet kejar mobil hitam itu" perintah Nara pada supir taksi itu
"baik nona" supir pun menuruti perintah nya
20 menit kemudian akhirnya mobil Deon berhenti di lingkungan kumuh dan tak berpenghuni tak ada orang lalu lalang disini
"pak ini uangnya " Nara menyodorkan beberapa lembar uang kertas berwarna biru
"terimakasih nona" mobik taksi pun berlalu
Nara mengikuti Deon dengan mengendap-endap dari kejauhan
"sebenernya dia mau kemana sih"
"aneh Tio belum juga pulang sejak bilang mau beli makan siang, apa terjadi sesuatu ya?" otak Nara terus bertanya tanya apa yang sebenarnya terjadi
"baiklah Nara kau memiliki kemampuan seorang detektif, meski tak berbekal senjata apapun" Nara meyakinkan dirinya sendiri
Deon memasuki sebuah bangunan tua yang cukup besar
"kayaknya tempat ini gak asing deh, ahh dulu pasti disini tempatnya seru! tapi kenapa sekarang sudah terbengkalai ya? ahh " gumam Nara
Nara sudah masuk ke dalam bangunan itu tapi kehilangan jejak Deon, hingga Nara naik ke lantai 2 dan betapa terkejutnya melihat keadaan Tio yang sudah berlumuran darah di ikat di kursi , lutut Nara sudah lemas
'astaga gimana ini' batin Nara ketakutan
"Deon Mahardika, ternyata kau putra dari darwin Mahardika ya? hahahaha dan tak ku sangka kau melenyapkan ayah ku dengan gilanya!! " ucap pria misterius itu terdengar membentak
"cih, siapa Lo? permainan Lo gak jauh dari petak umpet hahahaha.... dan liat lah, Lo bahkan gak sanggup ngadepin gue sendirian" ejek Deon memang benar adanya
"sudah di kepung masih aja sombong ya?"
DORRRR
pria misterius itu menembak kaki kiri tio
"arrggggg..." teriak Tio yang menahan rasa sakit akibat tembakan itu
Deon hanya memasang wajah datar nya tanpa ekspresi sedih ataupun marah
sedangkan Nara kini benar-benar lemas betapa kejamnya pria misterius itu menembak kaki Tio tanpa belas kasih
'tuhan aku harus bagaimana mana ' batin Nara
"meski kau bunuh dia aku sudah gak peduli" jawab Deon dengan enteng nya setelah beberapa saat dalam diamnya
"huahahahaaaaa... heh kau dengar? aku d. lalu melanjutkan bicaranya
" kalau begitu gimana kalau aku tembak tembus otak nya?" pria misterius itu menodongkan pistolnya tepat di kepala Tio
"tembak saja sudah kubilang aku tidak peduli lagi bahkan jika kau membunuh ratusan nyawa pun agar aku mau mengembalikan hak ku yang ku rampas dari ayah mu, itu sama sekali tidak berpengaruh pada ku" Deon menyeringai licik
'dasar pria gila! gmna bisa dia bilang gak peduli sama Tio ? sedangkan tadi pas di kantor meja kerjanya sampai pecah dan tangannya terluka" umpat Nara dalam hatinya
"oke biar ku habisi saja di depan matamu" pria misterius itu hendak menarik pelatuknya tapi terhenti saatmlpmmlll Deon membuka kembali suaranya
" tunggu dulu sebaiknya aku ajukan penawaran saja, karena kalau dipikir-pikir rekanku itu banyak hutang. aku tidak Sudi membayar hutang jika dia mati dengan sia-sia bagaimana?"
" hahaha sungguh menarik alibi yang pas, oke apa penawarannya?" pria misterius itu menyimpan kembali pistolnya ke dalam saku di jasnya
sebentar, akan ku hubungi seseorang" sambil mengeluarkan benda pipih dari saku celananya
"jangan macam-macam"ucap salah satu anggota dari pria misterius itu menodongkan senjata laras panjang ke punggung Deon
"kau tenang saja aku hanya ingin menghubungi sekertaris ku saja oke?"
" biarkan dia untuk menelepon sekretarisnya" ucap pria misterius
"baik tuan" anggota pria misterius itu akhirnya menurunkan senjatanya
"halo Sena apakah sudah siap? lakukan sekarang!!"
"baik pak" suara di seberang sana menjawab telepon dari Deon
"apa rencanamu? kau tidak bisa membodohi ku semudah itu Deon Mahardika"
dan 1 detik kemudian muncul puluhan pria berpakaian serba hitam bertubuh tinggi kekar yang menyerang semua anggota dari pria misterius itu menghajar memukul dan menembak terjadi disana pria misterius itu pun sedang bergulat dengan Deon begitu sangat sengit hingga akhirnya seluruh anggota pria misterius itu berhasil di lumpuhkan dan pria misterius itu pun sudah tergeletak lemas karna Deon memukul titik lemah nya.
sementara Nara kini benar-benar gemetar menyaksikan pergulatan antara mereka
"menyerahkan diri sendiri ke polisi atau menyerah disini?"ucap Deon sembari memutar posisi yang kini sudah membelakangi pria misterius itu tapi sayangnya deon lengah dan pria misterius itu menyeringai dan mengambil kesempatannya untuk menembak ke arah Deon tetapi nara yang melihat kejadian itu di balik pintu tangga darurat langsung berlari secepat kilat dan memeluk punggung Deon
DOORRRR
Deon sontak memutar tubuhnya sungguh terkejut begitu pun dengan seluruh anggotanya yang tidak menyadari tindakan pria misterius itu dan juga bertanya-tanya siapa wanita yang pertaruhkan kan nyawa-nya sendiri
"astaga Nara" dua kata yang di ucapkan Deon
salah satu anggota deon pun segera menarik pelatuk pistolnya yang mengarah pada pria misterius itu dan
DOORRRR
pria misterius itu pun mati di tempat dengan keadaan tembakan di kepala yang pas sementara kini Nara sudah tidak sadarkan diri
Deon yang sudah panik pun segera membawa Nara keluar dari bangunan itu membaringkan Nara di kursi penumpang mobilnya menuju rumah sakit terdekat. jantungnya berdetak sangat cepat sungguh Deon sangat takut kehilangan gadis ini
"bertahanlah Nara " gumam Deon sambil menyetir mobilnya menggunakan kecepatan tinggi
****************
****************
****************