"kau berhutang banyak pada ku, besok datanglah ke firma hukum ku di jln xxx di tengah kota Medan" berhenti sejenak
"kau harus membayar nya disana" bisik Deon
"ih, apa-apaan sih gak sopan banget" Nara memalingkan wajahnya kearah lain
"hei Nara kalo kamu gak datang berarti rumah mu ku sita" Deon segera bangkit dan beranjak pergi
"apa maksud mu? apa kamu yang menyuruh para pria bertubuh kekar itu untuk mengganggu nenek ku begitu?" sarkat Nara
"kalo kamu mau tau semuanya datanglah". pergi dari kamar Nara
"eh nak mau kemana?" tanya nenek yang sudah membawa kan secangkir kopi
"maaf nyonya saya ada urusan mendesak, saya pamit permisi" Deon berlalu begitu saja
"oh baiklah terima kasih anak muda, hati-hati dijalan ya"
"bilang sama nenek dia siapa?" tegur nenek pada Nara
"aku gak tau nek" jawab Nara dengan ketus
"heiii.. kenapa jadi kamu yang cemberutin nenek? seharusnya kamu nenek hukum" mencubit tangan nara
"awww .. sakit nek" Nara meringis manja
"ihh cucu ku ini" nenek tersenyum menatap cucuk semata wayangnya itu
Tak terasa kini hari mulai gelap, di temani rintikan hujan yang sangat pas dengan suasana hati Nara
"ayah, Nara harus gimana? jangan kan untuk menemukan ayah, malah kini Nara udah kehilangan pekerjaan yang dulu ku perjuangkan untuk mencapai nya" gumam Nara sambil menyeka air mata yang mengalir deras
"ayah, apa kita masih bisa bertemu? hikss..."
Nara berlarut dalam kesedihannya sampai tertidur lelap.
Di tempat lain deon sedang dilanda perasaan takut dan marah, bagaimana tidak ayah nya belum juga siuman paska operasi yang dilakukan akibat dari kejadian beberapa hari lalu
" bagaimana keadaan ayah gue ? apakah dia baik-baik saja cepat katakan!" Deon berbicara dengan seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan Rawat ayahnya berada
" lebih baik Lo ke dalam aja" dokter tampan itu berlalu begitu saja tanpa menoleh ke arah Deon yang berbicara
"sialan lo" Deon hendak melangkah menuju ke ruang rawat ayahnya itu tapi segera terhenti seraya dokter tampan itu kembali berbicara
"sebaiknya Lo jangan pergi ke Medan! terlalu berbahaya buat lo"
"gak usah ikut campur urusan gue!" ucap Deon dengan wajah datar dan rahang yang mengeras
setelah itu Deon melanjutkan langkahnya menuju ruangan ayahnya yang sedang dirawat, Deon berjalan perlahan dan duduk di kursi itu begitu sedih melihat sang ayah yang terbaring di sana
"ayah apa kau mendengarku?"
" ayah aku janji akan membalaskan dendam atas kematian ibu sadarlah ayah jangan terbaring lemah seperti ini"
tak terasa Deon pun meneteskan air matanya yang terasa sangat pilu itu
ayah Deon pun mulai sadar dari masa kritisnya
"Deon, ayah baik-baik aja" ucap sang ayah dengan Suara yang masih lemah
"ayah? apanya yang baik-baik aja? kau bahkan mungkin aja mati jika aku tak datang tepat waktu" sungut Deon
"buktinya aku masih hidup" kekeh ayahnya itu
"haiisssshh, kau bahkan masih bisa bercanda dalam keadaan begini. yasudah aku akan kembali ke Medan sekarang" bangkit dari duduknya
"cih, kau masih aja ngotot ingin mendirikan firma hukum mu itu" ejek ayahnya
'dasar orang tua yang kolot' batin Deon tak ingin menjawab apalagi menanggapi ucapan ayahnya Deon memilih pergi
................