sementara Deon kini bersembunyi di atas ventilator udara, lalu bergegas ke arah ruangan ketua musuh nya itu
"halo pak tua?" Deon berbasa-basi pada musuhnya itu
"hah? sss...si siapa kau?"
"suruh semua anggota mu berkumpul disinni sekarang!" perintah deon menodongkan pistol nya
"o oke..." jawab si musuh dengan gemetar
"berkumpul ke ruang utama sekarang!" si musuh memonitor para anggota nya
dan Deon pun menembak tepat di jantung si musuhnya itu hingga tewas seketika
"ini balasan karna sudah menghianati ayahku" Deon memasang bom yang satu lagi di sofa dimna mayat musuhnya ia dudukan di sofa itu juga, dan Deon mencari keberadaan ayahnya
BRAKKK....
Deon mendobrak pintu ruangan itu dan melihat bahwa sang ayah sudah berlumuran darah, terdapat dua tembakan di perut dan bahunya
"ayah" segera membangun kan sang ayah
"Deon cepat pergi" ucap ayahnya dengan nafas yang sudah tercekat
"nggak ayah, aku akan menyelamatkan mu kita akan tinggalkan tempat ini bersama-sama" Deon memapah ayahnya untuk berjalan dan mereka meninggalkan bangunan elit itu
sementara para anggota musuhnya itu berkumpul menuju ruangan utama yang dimna ketua mereka berada
"tuan besar" ucap sekertaris nya namun tidak ada jawaban
"tuan" sang sekretaris mulai heran dengan kediaman ketuanya itu dan menghampiri nya. dan betapa terkejutnya ia melihat tuannya yang sudah mati tertembak tepat di bagian d**a kirinya
tit tit.... (suara waktu bom menyisakan hanya satu detik)
"astaga" langsung berlari langkah seribu nya
Duarr.....
Seluruh bangunan itu hancur tak tersisa, tapi begitu beruntungnya sekertaris itu selamat dan menghubungi seseorang
"halo tuan muda, uhukk uhukk... tuan besar dan para anggota lainnya tewas dengan ledakan bom yang di pasang oleh seseorang tak di kenal"
satu Minggu kemudian
Deon menghadiri sebuah sidang dengan kasus pembunuhan seorang pemuda berstatus sebagai saksi dari aksi kejahatannya sebelum nya
setelah selsai menghadiri sidang Deon bergegas pergi, tapi tepat di lorong sebelah kiri Deon to dak sengaja melihat kejadian langka
"apa yang kau lakukan inspektur? kau sudah memalsukan bukti! bahkan kau tega memenjarakan orang yang tidak bersalah" meninju tepat di wajah pria paruh baya itu dengan penuh amarah , gadis itu di ketahui adalah Nara detektif wanita yang handal
"apa yang kau lakukan nara? kau bisa di berhentikan dari kepolisian!" bentak seorang pria yang seumuran dengannya
"apa kau peduli? demi nilai angka? sialan!" gadis itu pergi meninggalkan 2 pria itu dan melewati Deon
"gadis hebat" gumam Deon mengikuti Nara perlahan-lahan
"berhenti mengikuti ku!" ucap Nara penuh penekanan menoleh ke belakang dan menatap tajam pada deon
"maaf nona anda salah paham" Deon berjalan melewati gadis itu dan masuk ke mobilnya
"ah sial banget aku hari ini" keluh gadis itu berjalan gontai menuju mobilnya
satu jam kemudian Nara tiba di rumahnya mendapati ruang tamu yang hancur dan berantakan Nara langsung berlari mencari keberadaan neneknya
"siapa kalian?" tanya Nara pada beberapa pria bertubuh kekar berpakaian serba hitam sedang mengintimidasi sang nenek
"maaf nona kami dari pihak debkolektor menagih janji nenek tua ini " jelas salahsatunya
"janji apa? apa nenek ku punya hutang? berapa jumlah nya" tanya Nara
"bwahahahah hei, kalian dengar gadis ini bertanya jumlahnya" pria itu tertawa
"aku serius pak, aku akan membayar nya"
"seratus lima kelas juta nona" kekeh pria itu
"bagaimana apakah kau sanggup membayar nya saat ini juga?" ejek pria itu
"a apa" bengong
" sudah kubilang seratus lima kelas juta nona ! apa kau tuli?" bentak pria berpakaian serba hitam itu
"sudahlah aku berikan waktu satu Minggu jika nenek tua ini tak membayarnya maka rumah ini kami sita" ujar pria itu dan pergi bersama rombongan nya
"maafkan nenek hiks..." neneknya menangis dan menundukkan kepalanya
"tidak nek, memang nya uang sebanyak itu untuk apa nak?" Nara memeluk sang nenek
"uang itu untuk membiayai kuliah mu Nara, karna tabungan nenek sudah menipis" jujur neneknya itu
"maafkan aku nek, aku sudah banyak merepotkan nenek Nara janji akan melunasi hutang-hutang itu agar nenek tidak ditekan-tekan oleh pria-pria seperti tadi " ucap Nara lembut
"oh cucuku hanya ini yang bisa dilakukan oleh nenek untuk mu" nenek memeluk cucu semata wayangnya itu
keesokan harinya Nara menjalani aktivitas seperti biasanya menyiapkan sarapan dan lain-lain sebagainya hingga tiba Nara di pusat kepolisian dan kini Nara dalam masalah
" hai Nara kau ditunggu oleh inspektur dan ketua kejaksaan sekarang" tegur sahabat pria nya yaitu Ilham
" oh benarkah ya sudah terimakasih"
' astaga oh astaga bagaimana ini tamatlah riwayatku' batin nAra sudah cemas dan panik
tok tok tok
nara memutar kenop pintu dan masuk ke dalam ruangan sang inspektur itu
"permisi pak Anda memanggil saya" nara memberi hormat kepada beberapa pria paruh baya di sana yang diketahui sebagai seorang inspektur dan kepala kejaksaan
" ya silakan duduk" ucap kepala kejaksaan itu Nara pun segera duduk di bangku yang sudah disediakan disana
" nona Nara Anda di skorsing selama 3 bulan kedepan karena sudah berani melakukan tindakan kekerasan terhadap atasan mu sendiri dan berbicara omong kosong bahwa kami telah memasukkan bukti kejahatan terdakwa" tegas sang kepala kejaksaan itu
Nara menghela nafasnya halus
"baiklah pak dengan senang hati saya juga tidak sedih bila harus meninggalkan tempat ini sangat munafik dan tidak patut untuk dijadikan sebagai teladan sungguh"
" kalian sangat rendah hingga nominal angka begitu penting dibandingkan dengan seseorang yang kalian dakwah meski ia tidak melakukan kesalahan tersebut apa kalian tahu?"
Nara berhenti sejenak menarik napasnya panjang dan melanjutkan bicaranya
"ada anak dan istrinya adiknya yang harus dihidupi tanggung jawabnya apa kalian tidak berpikir seperti itu apa kalian tidak memiliki orang yang kalian sayangi kalian memang penjilat, cih... tua bangka !"
menggebrak meja berdiri dan pergi begitu saja dan menutup pintu itu dengan cara membantingnya keras
'sial sial sial hari ini aku benar-benar sial! aku harus bicara apa pada nenek terus gimana caranya aku bisa bayar hutang kepada pria-pria itu. oh Tuhan apa nasibku seburuk ini' batin Nara
berjalan menyusuri lorong berjalan gontai dan lemas membuka pintu mobil dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi seperti hilang akal gaya menyetir nya sudah seperti orang gila sampai ada yang menyalakan klakson mobil di belakangnya yang memang Nara lah yang salah nyetir secara membabi-buta lupa kanan kiri bahkan keselamatannya sendiri Nara seperti sudah hilang akal ah entahlah bahasa apa yang pantas hingga akhirnya mobil yang dikendarai Nara menabrak pembatas jalan
"ohshit" umpat Nara memukul-mukul setirnya
"ya Tuhan hari ku begitu sial hari ini"
Nara menyandarkan kepalanya ke jok mobil di sana, tanpa disadari ternyata kepala nara terbentur stir mobilnya hingga kepalanya berdarah meski tidak banyak.
beberapa jam kemudian Nara tersadar dan menetralisir keadaannya
"ya ampun aku dimana aku kenapa"
setelah dia diam cukup lama barulah Nara menyadari bahwa dia berada di rumah sakit perihal Nara yang menabrak trotoar dan kepalanya yang luka dan menangkap sosok lelaki bertubuh tinggi dan lumayan kekar serta tampan sedang duduk di sampingnya
" rupanya kau sudah bangun" ucap pria itu dengan senyum manisnya
" Anda siapa apakah anda yang bawa saya ke sini apakah anda pak?" nara sambil memijit-mijit pelipisnya
" tak usah banyak berpikir akan ku panggilkan dokter sebentar ya"pria itu pergi sejenak meninggalkan Nara dan kembali setelah beberapa saat ikuti dengan seorang dokter wanita
" tolong periksa keadaan dia dokter"
"ya tentu pak"
dokter itu memeriksa keadaan Nara syukurlah pasien sudah membaik dan boleh pulang hari ini juga pak" ujar dokter itu
" oh benarkah Dok kalau begitu terima kasih"
" oh ya nona kekasihmu sangat tampan dan juga perhatian kau beruntung memiliki kekasih sepertinya" ucap dokter wanita itu sambil melangkah pergi dari ruangan rawat Nara
pria itu dan Nara sama-sama terkejut dan merasa canggung
" maaf pak saya sudah merepotkan Anda"hanya itu yang mampu nah ucapkan sangking gugupnya
" it's okay yang penting kamu sehat dan bisa pulang hari ini "
"oh ya mobilmu berada di bengkel temanku mungkin nggak lusa baru bisa kau ambil ini alamatnya" pria itu memberikan kartu nama pemilik bengkel yang membetulkan mobilnya ini
" makasih pak anda sangat baik saya pasti akan membayar biaya rumah sakitnya" ucap Nara kagum pada pria itu
"tidak, aku ikhlas membantumu. ayo rapi kan pakaianmu aku akan mengantarmu pulang "
"oh tidak usah pak saya naik bis aja Anda pasti sibuk dari penampilan anda sepertinya Anda orang penting" Nara yang memperhatikan gaya setelan pria itu menggunakan jas yang mewah dengan lambang seorang pengacara sebelah kiri kerah jas nya
" oh tidak, oh ya kenalkan saya Deon Mahardika pria" itu mengulurkan tangannya Dan disambut hangat oleh tangan nara
"saya Nara Renata Pak" Nara tersenyum
"astaga senyum cantik sekali" Deon berbicara dengan lantangnya
"apa pak ? bapak bicara apa?" Nara masih mencerna ucapan Deon
" oh tidak tidak, lupakan saja ayo kita pergi di mana alamatnya?" mereka bergegas meninggalkan rumah sakit
satu jam lewat sepuluh menit mereka sampai di rumah Nara
"ini rumah mu?" Deon basa-basi
"iya pak, mari mampir pak" sahut Nara hendak membuka pintu mobil namun di tarik oleh Deon
"biar saya saja" Deon keluar dari mobil nya berjalan memutar dan membukakan pintu mobil untuk Nara
"terimakasih pak" Deon meraih tubuh Nara dan menggendong nya ala bridal style membuat wajah Nara merona
"pak turun kan saja saya malu" jujur Nara
"jangan panggil aku bapak muka ku muda dan tampan tau " Deon berjalan ke arah pintu utama rumah Nara yang nampak s derhana itu
"tingtong" Deon memencet bel
CEKLEK
"Siapa? oh ya ampun cucu ku kamu kenapa?" nenek panik buru-buru mempersilahkan mereka masuk
"nak bawa cucu ku ke kamarnya aja ya" nenek berjalan lebih dulu ke arah kamar Nara
"ayo baringkan di sini " ucap nenek masih dengan kepanikan nya
"nenek Nara gak papa kok, tadi cuma.." terpotong
"cuma apa? kau mau bikin nenek jantung an hah? astaga kau bahkan sampai di gendong oleh kekasihmu apanya yang ga papa!!" bentak nenek
"iihhh dia bukan kekasih ku nek " Nara cemberut
sementara Deon hanya menyunggingkan senyumnya yang hampir tak terlihat memperhatikan dua wanita itu
"benarkah? ah pria tampan ku kira kamu pacar cucu ku" celoteh nenek
"nenek!" sarkat Nara
"tidak nyonya tidak papa saya hanya kebetulan lewat dan melihat cucu anda mengalami kecelakaan lalu saya membawa nya ke rumah sakit" jelas Deon yang memang benar adanya
"oh syukur lah karna kau pria yang baik" nenek menepuk pundak Deon
"nenek berlebihan banget sih" gerutu Nara pelan, tapi masih dapat terdengar di telinga neneknya maupun Deon
"dasar kau ini" nenek memukul pelan tangan nara
"awww nenek" kesal Nara
"yasudah nenek buatkan kopi dulu ya buat teman pria mu ini" nenek berjalan keluar pintu kamar
"hei pak kenapa cuma senyum-senyum aja dari tadi" Nara dengan kekesalan nya
"lalu aku harus gimana?" sahut Deon sekenanya
"terimakasih dan pulang sana!" bentak Nara
Deon hanya memutar matanya malas
"kau berhutang banyak pada ku, besok datanglah ke firma hukum ku di jln xxx di tengah kota Medan" berhenti sejenak
"kau harus membayar nya disana" bisik Deon
................
................
................
................