Musim tidak pernah bertanya pada yang berduka. Hujan selesai dengan caranya sendiri, kemarau datang dengan caranya sendiri, dan sawah di ujung kampung menguning tanpa peduli bahwa ada satu rumah yang kehilangan penghuninya. Galih membenci ini pada mulanya—ketidakpedulian dunia terasa seperti penghinaan. Lalu, perlahan, ia menemukan bahwa justru itulah yang menyelamatkannya. Dunia tidak berhenti, dan karena dunia tidak berhenti, ia pun tidak boleh.
Duka itu tidak hilang. Ia hanya mengendap. Seperti kopi tubruk yang didiamkan, ampasnya turun ke dasar, menjadi lapisan baru yang akan selalu ada di sana—tapi air di atasnya, pelan-pelan, jernih kembali. Galih bisa tertawa lagi di minggu-minggu berikutnya, dan setiap kali ia tertawa ada rasa bersalah kecil yang menyusul, sampai ia teringat bahwa ayahnya paling senang justru saat rumah itu berbunyi tawa, bukan batuk.
Malam keempat puluh, kampung menggelar doa terakhir, dan setelah itu—begitu aturan tak tertulisnya—rumah harus kembali jadi rumah. Tikar digulung, piring pinjaman dikembalikan satu per satu. Ibunya mencuci gelas-gelas tamu sampai larut, dan Galih tahu itu caranya berpamitan: bukan dengan kata-kata besar, tapi dengan pekerjaan tangan yang diselesaikan sampai tuntas. Keesokan paginya, untuk pertama kali, ibunya memasak hanya untuk dua orang—dan berdiri agak lama di depan panci, menghitung ulang takaran yang selama puluhan tahun selalu untuk tiga.
Kelas catur di balai desa jalan terus. Kursi plastik yang sama, papan demonstrasi tua yang engselnya masih berderit, anak-anak yang datang dengan sandal basah seusai hujan. Pak Sastro duduk di barisan belakang, membetulkan pegangan bidak anak-anak yang terlalu tinggi memegangnya. Kotak kaca kecil berisi tutup botol gajah yang sudah pensiun terpajang di sudut ruangan, dan anak-anak berebut menceritakan legenda tutup botol itu pada murid-murid baru dengan tambahan-tambahan yang makin lama makin tidak masuk akal—konon tutup botol itu pernah mengalahkan seorang master dalam tujuh langkah, konon ia masih suka berpindah kotak sendiri di malam hari. Galih membiarkan legenda itu tumbuh. Anak-anak butuh cerita sebelum mereka butuh teori; ia sendiri dulu begitu.
"Mas Galih," tanya Salma suatu sore, murid paling kecil, yang rambutnya selalu berantakan dan pertanyaannya selalu dua langkah di depan umurnya, "kenapa sekarang mainnya lama-lama? Dulu Mas Galih bilang, bikin lawan panik itu penting."
Galih menatap papan di depannya. "Karena ada yang ngajarin Mas, Sal. Main yang lama itu bukan buang waktu. Main yang lama itu cara bilang, aku di sini, aku nggak ke mana-mana."
"Ngajarin siapa?"
Galih tidak menjawab langsung. "Orang yang nggak pernah juara apa-apa. Tapi dia nggak pernah menyerah sebelum partainya benar-benar selesai." Ia menggerakkan kuda ke depan, pelan. "Nah. Giliranmu. Hitung dulu, jangan buru-buru."
Permainannya sendiri berubah, dan orang-orang yang lebih paham catur darinya mulai membicarakannya. Bu Ratri yang pertama menyebutnya di depan muka. "Partaimu akhir-akhir ini lebih sunyi," kata pelatih itu, membedah sebuah posisi di layar. "Dulu kamu menyerang seperti orang kehabisan waktu hidup. Sekarang kamu menyerang seperti orang yang tahu waktu itu mahal. Ini bukan teknik, Galih. Teknik bisa saya ajar. Yang ini..." Ia mengetuk dadanya sendiri. "Yang ini datang dari tempat lain. Jangan hilangkan."
Galih tahu dari tempat mana ia datang. Ia datang dari malam-malam ketika ia terbangun dan mendengarkan keheningan rumah. Ia datang dari kaleng biskuit di pangkuan ibunya. Keheningan itu masuk ke dalam permainannya dan tinggal di sana, menjadi kedalaman baru—ia melihat lebih jauh sekarang, bukan karena otaknya bertambah pintar, tapi karena ada bagian dari dirinya yang sudah berhenti takut pada hal-hal yang dulu menakutkannya. Orang yang sudah kehilangan sesuatu yang besar tidak lagi takut kehilangan pion.
Di partai-partai penutup musim, lawan-lawan mulai merasakannya. Seorang pemain veteran yang pernah mengalahkannya bertahun lalu—lelaki yang dulu memancingnya panik di bawah jam—kini berjabat tangan dengan wajah heran setelah kalah dalam empat puluh langkah yang tenang. "Kamu berubah," katanya. "Dulu kamu menakutkan karena nekat. Sekarang menakutkan karena sabar." Galih tidak menjawab, tapi ia tahu lelaki itu benar. Kesabaran itu bukan datang dari buku. Kesabaran itu ia pelajari dari seorang lelaki yang bertahun-tahun sakit tanpa pernah sekali pun mengeluh keras-keras.
Ibunya mulai bekerja lagi, menerima jahitan dari tetangga. Malam-malam mereka makan berdua, dan di antara suara sendok ada percakapan-percakapan kecil yang dulu selalu tenggelam oleh batuk. Tentang harga cabai. Tentang Salma yang katanya bisa jadi juara kalau berhenti main-main. Tentang Pak Sastro yang tersenyum lebih sering sekarang. Hidup, ternyata, melanjutkan dirinya tanpa meminta izin—seperti jam catur lawan yang terus berjalan saat kamu sedang berpikir, dan satu-satunya pilihan adalah melangkah, atau kalah karena waktu.
Suatu malam, Galih membuka kalender dapur dan menyilang tanggal seperti biasa. Sudah hampir tiga bulan silang-silang itu ia buat sendiri. Ia menyadari, dengan perasaan yang aneh—bukan sedih, bukan bahagia, sesuatu di antaranya yang belum punya nama—bahwa musim sudah benar-benar berganti. Daun-daun mangga depan rumah menguning dan jatuh. Surat dari federasi tiba, amplop resmi dengan stempel, dan ibunya meletakkannya di meja tanpa membukanya, seperti orang meletakkan berita yang sudah ia duga isinya.
Kejuaraan nasional. Babak final. Namanya tercetak di sana, dan di seberang bagan, satu nama lain yang sudah bertahun-tahun berjalan berdampingan dengannya dari dua sisi yang berlawanan.
Galih membaca nama itu dua kali. Lalu ia melipat suratnya, menyilang tanggal esok di kalender lebih dulu—sesuatu yang tak pernah ia lakukan—dan untuk pertama kali sejak musim berduka itu dimulai, ada sesuatu di dadanya yang bergerak ke depan, bukan ke belakang.